Kesembuhan

Hidup Yang Penuh Berkah

Ditulis oleh Gede Prama

Hubungan seseorang dengan lingkungan yang menahun khususnya, bisa menjadi lawan pertumbuhan, bisa menjadi kawan pertumbuhan. Penelitian mendalam tentang korban penyakit kanker di Barat bercerita, korban kanker umumnya bertumbuh di lingkungan yang secara kejiwaan dan spiritual jauh dari sehat.

Belajar dari sini, seawal mungkin latih diri untuk cerdas di depan hubungan. Dan perasaan adalah kompas yang sangat menentukan dalam hal ini. Jika ada tetangga yang menimbulkan rasa resah, marah, gelisah selama bertahun-tahun sebaiknya menjauh bersama punggung yang bersahabat. Menjauh tanpa menjelekkan.

Manakala ada keluarga dekat atau sahabat dekat yang mudah menimbulkan rasa bahagia ketika melihat mereka berbahagia, hubungan jenis ini sebaiknya dirawat secara tekun dan tulus, serta tidak mudah menyerah. Bukan tidak mungkin mereka akan menjadi sahabat sejati suatu hari nanti.

Sebagai bahan renungan, hubungan antarmanusia adalah sesuatu yang organik. Ia senantiasa bertumbuh. Mirip dengan sampah dan bunga indah, orang yang tersenyum di suatu pagi bisa marah di lain hari. Orang yang marah di suatu waktu bisa tersenyum indah di waktu lain. Pekerjaan rumah terpenting kemudian adalah merawat benih organik ini setulus-tulusnya.

Salah satu faktor sangat penting dalam hal ini adalah menjaga keseimbangan antara harapan dan kenyataan. Harapan yang jauh lebih tinggi dari kenyataan mudah membuat hubungan terpeleset menuju kekecewaan. Itu sebabnya, harapan diupayakan agar selalu dekat dengan kenyataan.

Mirip dengan tukang taman yang berani tangannya kotor agar menghasilkan bunga indah, kadang diperlukan ketulusan untuk mengalah agar hubungan bertumbuh indah. Tanpa ketulusan untuk mengalah secara bergantian, hubungan mana pun akan berakhir di jurang perpisahan.

Sebagaimana diwariskan psikolog Carl Jung, hubungan adalah setengah dari kesembuhan. Artinya, begitu hubungan dengan orang dekat, atau hubungan dengan orang mau disembuhkan bertumbuh sehat, maka pertumbuhan menuju kesembuhan akan jauh lebih mudah dan indah.

Dalam bahasa meditasi mendalam, setiap kali berhubungan dengan orang, pancarkan dua cahaya kesadaran (double mindfulness). Pertama, sadari setiap gejolak pikiran dan perasaan di dalam. Kedua, sadari sedalam-dalamnya kalau orang lain di dalamnya juga bergejolak.

Siapa saja yang tekun, tulus, tidak mudah menyerah memancarkan dua cahaya kesadaran jenis ini, suatu hari tanpa berupaya terlalu keras akan menemukan, ternyata orang-orang dekat telah tumbuh menjadi sahabat sejati. Bersama sahabat sejati, hidup jadi lebih mudah, lebih indah, serta penuh dengan berkah.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: poemsforherlife.com.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar