Kesembuhan

Pusat Sukacita Di Dalam

Ditulis oleh Gede Prama

“Kenapa suka bernyanyi saat berbagi Cahaya Guruji?”, itu pertanyaan banyak sekali sahabat. Tidak pernah kebayang di awal kalau audio book serta suara di radio dilaporkan menyembuhkan banyak orang. Setelah dipelajari, ternyata ada bidang ilmu berupa daya sembuh suara.

Penyanyi senior Inggris bernama Cloe Goodchild bahkan sengaja belajar ke India untuk mendalami ilmu daya sembuh suara. Sehingga bisa dimaklumi kalau suatu hari ada kepala dinas di sebuah kabupaten di Bali melaporkan, kalau istrinya sembuh karena sering mendengarkan nyanyian di acara televisi “Lentera Gede Prama”.

Setelah ditelusuri lebih dalam, ada memang orang-orang tertentu yang lahir dengan cakra ke lima (kerongkongan) yang sangat indah. Manusia jenis ini akan mudah sekali berbagi Cahaya, serta menyentuh masyarakat melalui suara. Tentu saja kalau kemurnian dan kesucian suaranya dijaga sebaik-baiknya. Terutama dengan cara menghabiskan banyak waktu dalam keheningan.

Ibarat pohon bunga, suara mirip dengan bunga mekar yang berbagi keindahan ke mana-mana. Di balik bunga indah ada pohon bunga yang dirawat secara tekun, tulus dan halus. Demikian juga dengan ia yang suaranya menyentuh banyak sekali sukma. Ada pohon bunga jiwa yang sangat indah di dalam.

Daunnya bernama ketekunan untuk selalu belajar. Tidak saja belajar ke luar, tapi juga belajar ke dalam serta belajar di alam rahasia. Tidak saja belajar melalui bacaan dan perdebatan, tapi juga belajar secara lebih mendalam melalui tindakan dan pencapaian.

Batang pohonnya dalam hal ini adalah ketekunan untuk terus menerus melaksanakan apa yang dipelajari dalam keseharian. Seperti belajar keseimbangan naik sepeda. Hanya ketekunan untuk terus menerus berlatih yang menyempurnakan. Termasuk terus berlatih setelah kehidupan berkali-kali roboh.

Siapa saja yang demikian kokoh tekadnya belajar ke luar, belajar ke dalam, dan belajar di alam rahasia, serta tidak mudah menyerah, suatu hari ia akan bersentuhan dengan pusat sukacita di dalam. Di sana ia akan melihat dan mendengar secara langsung. Bukan melalui cerita orang lain.

Ternyata di balik ledakan besar (big bang) yang disebut sebagai awal dari penciptaan alam adalah energi sukacita (spiritual joy). Bukan sukacita yang berlawanan dengan dukacita. Bukan sukacita yang bisa diakhiri oleh dukacita. Tapi sukacita tidak berawal tidak berakhir, yang ada di sana sejak awal yang tidak berawal.

Sebagai langkah praktis menuju ke sana, sebelum tidur selalu sempatkan waktu untuk membuat daftar hal-hal yang layak disyukuri. Dari badan sehat sampai keluarga yang selamat. Di waktu senggang, belajar menyanyikan lagu-lagu yang bisa membangkitkan kenangan indah.

Kapan saja melihat keindahan di alam, dari pantai yang hangat sampai bukit yang sejuk, gunakan keindahan di luar sebagai jembatan untuk terhubung dengan keindahan di dalam. Rasa syukur dan rasa trimakasih mendalam adalah kawan dekat dalam hal ini.

Sebagaimana kegelapan yang secara alami lenyap dengan hadirnya Cahaya, keluhan, kesedihan, kesulitan secara alami akan menjauh begitu seseorang terhubung secara rapi dengan pusat sukacita di dalam. Lebih dari itu, ia yang terhubung dengan pusat sukacita di dalam, jangankan kata-katanya, bahkan tatapan matanya pun berbagi Cahaya.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Koleksi Keluarga Compassion.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar