Kesembuhan

Tubuh Sebagai Pembawa Pesan

Ditulis oleh Gede Prama

Bermusuhan berlebihan dengan tubuh, itu ciri jiwa-jiwa yang resah dan gelisah. Dan semakin keras mereka berkelahi dengan tubuh, semakin banyak masalah dan musibah yang datang. Terutama karena sampah mengundang lalat, lumpur mengundang cacing, perkelahian di dalam mengundang datangnya lebih banyak persoalan.

Dari sinilah lahir banyak ide, tidak saja perlu bersahabat dengan tubuh, tapi juga menempatkan tubuh sebagai soul messenger (pembawa pesan dari alam jiwa). Setiap sahabat yang peka dengan tanda-tanda tubuh mengerti, tubuh manusia sebenarnya baik sekali. Jauh sebelum tubuh sakit, berlapis-lapis pesan telah disampaikan.

Ringkasnya, tubuh bukan musuh pertumbuhan, tapi kendaraan pertumbuhan yang sangat mengagumkan. Di pedalaman hutan di Peru sana, bahkan ada buku suci tua yang menyebutkan kalau tubuh manusia adalah puncak evolusi. Sehingga bisa dimaklumi kalau semua Buddha mengalami pencerahan saat mengenakan tubuh manusia.

Terinspirasi dari sini, mari belajar membaca pesan-pesan yang mau disampaikan tubuh. Tanda yang halus adalah rasa tidak nyaman di dalam tubuh. Begitu di dalam terasa tidak nyaman, cepat kembali ke hukum keseimbangan. Jika tidak nyaman karena kebanyakan duduk, belajar bergerak dengan jalan kaki misalnya. Bila tidak nyaman karena terlalu banyak di keramaian, masuki keheningan.

Di Barat banyak sahabat yang menekuni bidang good mood food. Makanan yang membantu mood agar tetap seimbang. Kapan saja pikiran datar, lidah hambar, lebih-lebih ada bisikan mau bunuh diri, cepat temukan makanan yang bisa mengembalikan mood. Cokelat, kacang, kopi, teh, pisang adalah sebagian pilihan. Yang penting lidah hambar cepat berlalu. Asal ingat memakannya dalam jumlah yang moderat.

Melakukan hal-hal yang disenangi di masa kecil adalah pilihan berikutnya.  Entah bernyanyi, menari, melukis, menulis. Yang penting Anda menghidupkan kembali the inner sparkle (keceriaan di dalam diri). Sekali-sekali makan es krim tidak apa-apa, atau bermain bersama anak-anak juga sebuah pilihan.

Tanda tubuh berikutnya yang mesti dibaca adalah rasa sakit. Ia malaikat dari dalam yang mengundang untuk cepat berubah. Sahabat yang epilepsi, kurangi melukai diri dengan rasa berdosa dan bersalah. Kawan-kawan yang sakit jantung, cepat sempurnakan cinta kasih. Ia yang terkena lever, diundang untuk memiliki hati yang indah. Jika saluran pernapasan terganggu, belajar lebih terhubung melalui rasa trimakasih yang mendalam.

Melalui pendekatan ini, penyakit tidak jadi membunuh. Sebaliknya membantu jiwa untuk bertumbuh. Tidak sedikit manusia yang diselamatkan oleh pendekatan ini. Di Barat bahkan ada sahabat yang mengembangkan pendekatan post traumatic enlightenment. Manusia bisa tercerahkan setelah melewati trauma. Singkatnya, mengolah trauma menjadi Dharma (ajaran suci).

Andaikan ada sahabat yang terlambat mengenal ajaran ini, terlanjur lumpuh oleh stroke misalnya, buta dan tuli karena begini dan begitu, cepat belajar menemukan rumah indah di dalam tubuh manusia. Hellen keller yang tidak bisa melihat pernah berpesan: “Saya heran, kenapa ada manusia yang bisa melihat tapi tidak bahagia”. Mistikus asli India Kabir pernah bercerita tentang tubuh manusia seperti ini: “Saya tertawa, ikan mati kehausan di tengah air”.

Itu sebabnya, keluarga spiritual Compassion telah lama membagikan pendekatan meditasi “terima, mengalir, senyum”. Tidak saja karena semua adalah tarian kesempurnaan yang sama, tapi karena jalan setapak ini membimbing para sahabat untuk menemukan pusat sukacita di dalam.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.