Kesembuhan

Membangunkan Keceriaan Dalam Diri

Ditulis oleh Gede Prama

“Awalnya sukacita, akhirnya sukacita, di tengah juga sukacita”, begitu bunyi sebuah pesan tua. Sedihnya, sangat sedikit manusia yang mekar dalam sukacita. Di sana-sini terlihat muka manusia yang cemberut serta miskin senyuman. Sebagian bahkan dibawa lari ke rumah sakit dan rumah sakit jiwa.

Setelah mendengarkan ribuan sahabat sakit di sesi-sesi meditasi, di sana terbuka rahasia ternyata percakapan di dalam banyak sahabat sakit terlalu banyak melukai diri. Wajah luar yang dipinjam memang berganti-ganti, tapi intinya sama: “Saya korban. Dan orang lain yang melukai jahat”. Itu dan hanya itu dari hari ke hari.

Identitas sebagai korban ini kemudian membuat yang bersangkutan seperti sampah yang mengundang lalat. Semakin hari semakin banyak orang yang terlihat melukai. Bahkan tetangga yang tersenyum tulus pun bisa disebut menghina. Tulisan usil di truk angkutan umum pun bisa membuat tidur terganggu.

Begitu ditelusuri lebih dalam lagi, akar yang sangat menentukan yang membuat manusia menggendong rasa sakit ke mana-mana adalah kegagalan untuk memaafkan. Terutama memaafkan trauma yang terjadi di masa kecil. Dari orang tua yang pemarah, sampai sahabat di masa kecil yang bikin gelisah.

Itu sebabnya, sahabat-sahabat sangat dekat yang matanya bercerita kalau ia peka serta banyak luka, sering diberi nasehat: “Miliki keberanian untuk mengekspresikan perasaan secara cerdas. Kurangi terlalu banyak menekan”. Sebut saja Anda tidak tahan dengan saudara yang sangat kasar. Cepat menjauh bersama punggung yang bersahabat. Tanpa keberanian jenis ini, jiwa bisa tidak selamat.

Bersama langkah heroik menjauh, ingat membekali diri dengan ketulusan untuk memaafkan. Memaafkan memang tidak mengubah masa lalu. Tapi memaafkan langsung membuat seseorang bebas dari beban berat berupa amarah dan dendam. Sekaligus menjadi persiapan terbaik menuju masa depan.

Jika mau tubuh sehat, jiwa selamat, cepat belajar membangunkan keceriaan di dalam diri. Persisnya, ingat sesering mungkin kejadian-kejadian indah di masa lalu. Di mana Anda diperlakukan sangat baik oleh kehidupan. Dari mama yang sangat penyayang, sampai masa sekolah yang penuh dengan pengalaman riang.

Di waktu-waktu suntuk dan bosan, nyanyikan lagu-lagu indah yang mengingatkan Anda pada kenangan indah di masa lalu. Nyanyian anak-anak TK adalah sebuah contoh. Nyayian saat remaja adalah contoh lain. Lebih-lebih teman-teman yang mendalami daya sembuh suara, mereka tahu kalau nyanyian ikut menyembuhkan.

Warna juga kekuatan di alam yang ikut menyembuhkan. Bagi sahabat di kota yang pemandangan kesehariannya hanya bangunan beton, warna hijau yang sejuk lembut ikut menyembuhkan. Teman-teman yang habis waktunya di dalam kantor, melihat langit biru yang bersih jernih sangat menyembuhkan.

Setiap kali mau menutup mata di malam hari, selalu sempatkan waktu untuk membuat daftar hal-hal yang layak disyukuri. Dari badan yang sehat, sampai keluarga yang selamat. Sekurang-kurangnya, perbincangkanlah hanya hal-hal yang layak disyukuri dalam hidup sebelum tidur. Sambil selalu simpan di dalam hati, hanya ia yang selamat yang bisa menyelamatkan orang lain.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Stockfresh.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar