Kesembuhan

Berdansa Dengan Bayangan

Ditulis oleh Gede Prama

Kesopanan, tata krama, norma sering membuat manusia menyembunyikan dan menekan hal-hal yang dianggap buruk dan tidak pantas. Di permukaan kebiasaan ini memang bisa membuat seseorang terlihat bermartabat. Namun di kedalaman yang dalam, ini yang membuat jiwa jauh dari sehat.

Meminjam dari psikolog Carl Jung, perasaan-perasaan yang ditekan dan disembunyikan dalam waktu lama, akan mengikuti yang bersangkutan sebagai bayangan ke mana-mana. Kalau tidak diekspresikan secara tepat dan sehat, bayangan ini akan mengejar sebagai ketakutan. Bukan tidak mungkin ia bertumbuh menjadi penderitaan.

Belajar dari sini, sangat penting untuk mengekspresikan perasaan tertekan dalam bentuk tulisan di buku harian yang sifatnya rahasia. Menulis perasaan tertekan, tidak saja membuat seseorang bisa membuang sampah. Tapi juga bisa membuat yang bersangkutan mengolah sampah menjadi bunga indah.

Sebagai kunci pembuka, coba mulai tulisan di buku harian dengan pertanyaan mendasar: “Siapa diri saya?”. Awalnya, pertanyaan ini akan dijawab dengan historical self. Lahir di sini, sekolah di sana, bekerja di situ. Begitu bertumbuh, pertanyaan ini akan dijawab dengan social self. Seorang ayah, Ibu sepasang anak, suka musik, menikmati pemandangan.

Begitu historical self dan social self muncul cukup banyak ke permukaan, kemudian akan muncul emotional self. Inilah wajah diri yang memerlukan banyak energi kesembuhan. Dari pernah mengalami pelecehan seksual di masa kecil, disakiti orang tua, dipukul oleh teman sekolah, sempat mencoba narkoba, sampai pernah mencoba bunuh diri.

Tulis wajah emotional self sepanjang-panjangnya, sebanyak-banyaknya, semampu Anda menulisnya. Seperti menuangkan sampah, Anda boleh marah. Jangan takut disebut salah. Tidak ada yang menyebut Anda gelisah. Tugasnya hanya tulis, tulis, tulis semua perasaan yang pernah ditekan dan disembunyikan. Tulis juga nama-nama orang yang membuat jiwa Anda terluka.

Setelah puas mengeluarkan sampah serapah, rawat luka jiwa di dalam seperti tukang taman merawat pohon yang kering. Siramkan air penerimaan, beri ia pupuk memaafkan. Sebagai bahan renungan, memaafkan memang tidak mengubah yang telah lewat. Tapi memaafkan secara meyakinkan membuat masa kini jadi lebih ringan dan nyaman.

Begitu di dalam terasa aman dan nyaman, sekarang tulis jejaring rumit penderitaan orang-orang yang membuat jiwa Anda terluka. Dari orang tua bermasalah, sekolah yang penuh musibah, sampai dengan putus cinta tatkala masih remaja. Sadari sedalam-dalamnya kalau ia juga menderita. Penderitaannya bahkan lebih hebat.

Tugas spiritual terpenting kemudian, latih diri untuk menyaksikan semuanya dengan penuh kasih sayang. Saksikan baik luka jiwa di dalam, maupun ia yang menimbulkan luka di luar. Sesederhana langit menyaksikan awan-awan. Agar pemahamannya dalam, perhatikan alam. Di alam ada daun kering yang mewakili kematian, ada daun muda yang mewakili kelahiran. Keduanya berputar secara bergantian.

Demikian juga dengan sedih-senang, duka-suka, salah-benar, buruk-baik, semuanya berputar. Kapan saja Anda bisa tenang menyaksikan, di sana lahir the eternal self (diri yang abadi). Diri yang tidak tersentuh. Diri yang tidak pernah lahir, tidak pernah mati. Bersama diri jenis ini, sang bayangan tidak lagi mengejar membawa ketakutan. Anda bisa berdansa dengan sang bayangan. Selamat datang di rumah jiwa-jiwa yang indah.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: The Shift Network.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar