Kesembuhan

Usia Tua Yang Bercahaya

Ditulis oleh Gede Prama

Di sana-sini terlihat manusia menua yang mengundang menetesnya air mata. Tidak saja tubuhnya melemah, jiwanya juga resah dan gelisah. Untuk melayani para sahabat, layak direnungkan untuk membagi kehidupan menjadi dua bab. Andaikan kita diberkahi umur 80 tahun, 40 tahun pertama adalah bab satu. 40 tahun berikutnya adalah bab dua.

Di bab pertama badan masih kuat, konsentrasi juga masih kuat, sehingga mudah dimaklumi kalau di awal kehidupan ini manusia lapar sekali untuk menumpuk berkah. Sedihnya, terlalu banyak manusia yang tubuhnya sudah memasuki bab ke dua, namun cara bertumbuhnya masih seperti bab pertama. Ujungnya mudah ditebak, kehidupan roboh membawa banyak kesedihan.

Agar para sahabat tidak roboh, tidak ada pilihan lain selain memasuki bab ke dua dengan cara bertumbuh yang berbeda. Ringkasnya, ada tiga tangga yang sebaiknya dilewati di bab ke dua yakni transformation, distinction, completion. Kelihatannya mudah, tapi melewatinya sangat susah.

Sebagaimana dialami banyak manusia yang mulai menua, di awal bab ke dua seseorang akan bernasib seperti kepompong yang bertransformasi menjadi kupu-kupu. Rasa sakit adalah kekuatan transformatif yang tidak bisa dihindari. Dan semakin lama rasa sakit datang dari orang yang semakin dekat, yang sangat disayangi.

Puncak rasa sakit akan datang dari orang yang membuat kita tidak bisa lari. Bisa anak, bisa juga orang tua. Kebanyakan jiwa roboh di tingkatan ini. Terutama karena melawan dan menendang. Ujungnya, tidak saja gagal memasuki fase distinction dan completion,  seseorang juga mengalami penderitaan yang semakin lama semakin hebat. Tidak sedikit yang terkena stroke, tidak sedikit yang wafat di usia setengah baya.

Itu sebabnya, di dunia spiritual telah lama terdengar pesan, hanya tatkala seseorang ikhlas sempurna, maka energi spiritual mulai menyentuh yang bersangkutan. Dengan demikian, sehebat apa pun rasa sakit di tingkat transformation, belajar berdekapan erat dengan keikhlasan sempurna.

Sambil selalu ingat, tanpa rasa sakit kepompong tidak akan bertransformasi menjadi kupu-kupu. Tanpa penderitaan mendalam, jiwa tidak akan lolos tangga transformasi jiwa. Salah satu wajah kehidupan yang sering muncul di tahapan ini, ada tiga api yang muncul bersamaan. Yang secara potensial membuat seseorang terbakar hidupnya.

Pertama, istri memasuki menopause yang ditandai oleh libido seks yang menurun drastis, serta emosi yang cenderung lebih labil. Kedua, suami mengalami andrepause yang ditandai oleh libido seks yang menaik. Ketiga, salah satu anak menginjak remaja lengkap dengan kenakalannya yang sangat menggoda.

Tidak banyak manusia yang bisa lewat dari lubang jarum ini. Siapa saja yang bisa lolos dari lubang jarum ini ditemani keikhlasan, ia memasuk fase ke dua yakni distinction. Tandanya, kehidupan mulai terasa berbeda. Seseorang mulai jenuh dengan harta, rindu melaksanakan cinta. Tarikan gravitasi materialitas menurun. Bersamaan dengan itu, jiwa diangkat oleh hukum levitasi karena disentuh oleh spiritualitas.

Setelah melewati lubang jarum transformation dan distinction, di sana jiwa memasuki gerbang completion. Di tingkatan ini, bahasanya sudah sangat puitis. Salah satu puisi tua yang bercerita tentang jiwa yang sudah komplit berbunyi seperti ini: “Tatkala saya mencari Tuhan saya berjumpa diri saya sendiri. Tatkala saya mencari diri saya sendiri saya berjumpa Tuhan”.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar