Kesembuhan

Tubuh Sehat Bercahaya

Ditulis oleh Gede Prama

Setelah menjumpai ribuan sahabat sakit begini sakit begitu, kurang begini kurang begitu di sesi-sesi meditasi, terasa sekali hadirnya tubuh manusia dengan cahaya yang meredup. Tanpa perubahan pola hidup, tubuh dengan cahaya yang meredup ini akan bertumbuh menjadi lahannya banyak penderitaan. Untuk membantu para sahabat, berikut beberapa bahan renungan.

Tidak sedikit manusia yang mengeluh, ketika bangun di pagi hari, tubuh bukannya bercahaya indah malah lelah. Salah satu sebab yang layak direnungkan, orang jenis ini biasanya kurang lama dan kurang pelan dalam mengunyah makanan. Sehingga di malam hari, banyak sekali energi habis diambil oleh perut untuk mencerna makanan.

Sahabat-sahabat yang bertumbuh lama di sekitar orang-orang kaya yang berlimpah harta tahu, semakin banyak harta yang dikumpulkan semakin redup cahaya seseorang. Ini sering terjadi karena kekayaan yang menumpuk sering diikuti oleh ketegangan (stres) yang juga menumpuk. Dalam kisah banyak selebritis di Barat, tidak sedikit yang mengakhiri hidup dengan meminum obat berlebihan.

Dari dua contoh di atas terlihat, banyak manusia yang tidak cerdas mengelola energi di dalam. Contoh pertama bercerita tentang energi fisik yang terbuang percuma, contoh kedua bertutur tentang energi mental yang juga terbuang percuma. Begitu energi sangat kurang di dalam, di sana tubuh bisa menjadi sumber banyak bahaya.

Perhatikan teman-teman yang tubuhnya berkeringat habis olah raga. Cahaya tubuhnya berbeda. Pori-pori tubuh seperti memancarkan cahaya. Itu sebabnya, semua pencinta kesembuhan dan kesehatan menganjurkan olah raga. Tidak saja bagus untuk kesehatan fisik, tapi juga bagus untuk kesehatan mental dan spiritual.

Lebih-lebih kalau olah raga dilakukan di alam terbuka. Seorang sahabat dokter dari Korea bercerita, ada pasien dengan kanker hati yang sembuh dengan cara pindah tinggal di desa dengan oksigen yang berlimpah. Tidur setiap malam dengan jendela yang sedikit terbuka. Di Jepang di mana ditemukan banyak manusia tua yang bercahaya dibagikan tiga rahasia kesembuhan: “Banyak bergerak di alam terbuka, makan makanan yang langsung dari alam, serta dekat dengan keluarga”.

Disamping keterhubungan dengan alam, ketekunan untuk melatih pikiran agar tidak terlalu bernafsu dengan kesempurnaan, adalah faktor lain yang membuat seseorang jadi lebih kaya dengan energi di dalam. Ringkasnya, keinginan berlebihan agar kehidupan bebas sepenuhnya dari noda, membuat seseorang mengalami banyak ketegangan di dalam.

Begitu ketegangan ini menumpuk banyak di dalam, tidak saja energinya habis, tubuh pun mulai tidak kuat menggendong beban keinginan yang demikian banyak. Di kelas meditasi sering terbuka rahasianya, banyak sahabat yang hidupnya roboh secara menyentuh hati.

Itu sebabnya, di jalan tua bernama meditasi, telah lama manusia diberi tiga tangga indah agar tubuh sehat bercahaya. Pertama, sederhanakan keseharian. Yang bisa dikerjakan silahkan dikerjakan. Yang tidak bisa dikerjakan, simpan di lemari keikhlasan. Kedua, latih diri untuk tersenyum lebih banyak. Senyuman tidak saja mengurangi ketegangan, tapi juga membuat seseorang belajar menjadi tuan dalam kehidupan.

Ketiga, berdekapan indah dengan saat ini. Sebagaimana chef (tukang masak) bersahabat dengan aroma, pelukis bersahabat dengan warna, penulis bersahabat dengan kata-kata, belajar bersahabat dengan kehidupan apa adanya. Persahabatan jenis inilah yang bisa membuat tubuh dan kehidupan jadi sehat bercahaya.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama adalah pelayan di jalan kedamaian. Beliau memulai masa kecilnya dengan belajar dari Guru simbolik di salah satu desa tua di Bali utara. Di kemudian hari, setelah belajar dari kisah hidup banyak maha siddha di Tantra (mahluk suci yang tercerahkan), Gede Prama mulai memahami pengalaman spiritual saat masa kanak-kanak. Pengalaman ini kemudian diperkaya dengan bermeditasi, membaca, meneliti dan pertemuan pribadi dengan beberapa Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh dan profesor Karen Armstrong.

Kendati beasiswa pernah menghantarkan Gede Prama untuk melanjutkan studi pasca sarjana di universitas Lancaster Inggris serta mengikuti kursus manajemen puncak di INSEAD Perancis, kerja keras pernah menghantarkan Gede Prama sebagai orang nomer satu alias CEO (chief executive officer) di perusahaan besar pada usia 38, terbang ke sana ke mari termasuk ke luar negeri untuk kepentingan mengajar, namun satu tahun kemudian ia tinggalkan semua kemewahan kehidupan duniawi untuk memulai perjalanan pelayanan. Untuk melayani orang-orang di jalan kedamaian.

Beberapa tahun tahun terakhir, beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, menghabiskan ratusan hari dalam setahun di tengah keheningan hutan. Dan hanya sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk berbagi cahaya di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.