Kesembuhan Spiritualitas

Hadiah Indah Yang Dibuang

Ditulis oleh Gede Prama

Setiap kali berjumpa jiwa-jiwa gelisah, terasa sekali hadirnya aroma sampah. Maksudnya, di dalam dirinya menyimpan terlalu banyak percakapan-percakapan yang tidak indah. Salah satu tandanya,
jiwa-jiwa gelisah nyaris selalu menyebut dirinya sebagai “korban”. Danmenempatkan orang yang menyakiti sebagai “lawan”.

Dari tahun ke tahun, dari masa kecil ke remaja, dari remaja ke dewasa, dari dewasa ke usia tua, nyaris semua percakapan di dalam berisi pertempuran antara korban dan lawan. Wajah lawan yang dipinjam memang berganti-ganti, tapi pertempuran di dalam tidak mengenal henti.

Sebagai akibatnya, tidak saja energi terkuras habis, seseorang bisa jatuh sakit. Sebagian diantara mereka ada yang dirawat di rumah sakit jiwa. Yang paling menyentuh, ada yang tidak bisa diselamatkan karena terlanjur bunuh diri. Untuk membantu para sahabat agar sehat dan selamat, tidak ada salahnya merenungkan bahan-bahan berikut ini.

Sebanyak apa pun jam terbang seorang councellor, ia tidak akan banyak menolong kalau percakapan seseorang di dalamnya terus menerus berisi pertempuran antara korban dan lawan. Untuk itulah, sangat disarankan untuk berevolusi dari “korban” menjadi “malaikat penyelamat”. Persisnya,
menjadi malaikat penyelamat bagi diri sendiri.

Langkah konkritnya, kurangi menghabiskan energi untuk membicarakan dan memikirkan orang- orang melukai. Sebaliknya, belajar melihat pengalaman dilukai bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai tumpukan pelajaran. Berlimpah pelajaran yang diberikan kehidupan di sana.

Memiliki orang tua yang bercerai memang tidak enak. Namun belajar menggunakan rasa tidak enak ini untuk membangun keluarga yang sehat dan kuat. Pernah dipukuli di masa kecil tentu saja
menimbulkan luka. Tapi Anda bisa menggunakan luka ini sebagai tekad untuk merawat anak-anak dengan penuh kelembutan.

Sering diteror dengan kata-kata tidak sedap, tentu saja sangat melukai. Namun Anda bisa menulis ulang kisah hidup Anda kembali. Terutama dengan membuat daftar panjang hal-hal indah yang pernah dilakukan sepanjang hidup. Dari rapot yang bagus ketika remaja, pernah menang dalam pertandingan olah raga, sampai diterima di tempat kerja yang layak.

Lebih dalam dari itu, belajar menggunakan rasa sakit untuk menemukan wajah diri Anda yang unik dan autentik. Orang-orang yang menyakiti sesungguhnya baik sekali. Mereka sedang memberi tahu,
kalau jalan yang mereka lalui tidak perlu diikuti. Kemudian memaksa Anda untuk menciptakan jalan setapak sendiri.

Rasa sakit mirip bunga lotus yang dipaksa tumbuh di tanah kering. Karena sangat menderita, terpaksa bunga lotusnya pindah ke lumpur yang basah. Ujungnya indah sekali, rasa sakitlah yang membuat bunga lotusnya mekar indah kemudian. Meminjam judul sebuah buku: “Pain, the gift that no body want”. Rasa sakit adalah hadiah indah yang dibuang nyaris semua orang.

Ia yang berhasil bertransformasi dari “korban” menjadi “malaikat penyelamat”, bisa melihat rasa sakit sebagai hadiah indah, akan bernasib seperti lumba-lumba yang menemukan samudra. Serupa
kupu-kupu menemukan taman bunga. Hanya dengan sedikit upaya, jiwa-jiwa jenis ini akan berevolusi dari jiwa yang luka menjadi pembawa cahaya.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.