Kesembuhan

Mengolah Karma Menjadi Dharma

Ditulis oleh Gede Prama

Di alam ini ada hukum yang bekerja. Ia yang menyentuh air basah, siapa saja yang memegang api terbakar. Dalam filosofi Timur, hukum ini disebut hukum karma. Hukum ini juga yang menyebabkan manusia lahir lagi dan lagi. Terutama karena bagi manusia kebanyakan, mereka terlahir karena masih punya hutang-hutang karma. Sedihnya, banyak orang yang setelah lahir bukan membayar hutang karma, tapi malah menciptakan hutang-hutang karma yang baru.

Untuk membantu jiwa-jiwa agar sehat dan selamat, di Tantra ada pendekatan mengolah karma menjadi dharma. Maksudnya, setiap tantangan dan rasa sakit yang ditimbulkan oleh hutang karma, diolah menjadi ajaran suci yang menerangi. Memiliki orang tua yang berpisah tentu saja berat, tapi ia akan menerangi perjalanan jiwa kemudian kalau digunakan sebagai tekad kuat untuk merawat keluarga kemudian. Dititipi anak berkebutuhan khusus tentu sangat berat, tapi ia akan menghaluskan jiwa kalau dijalani tanpa perlawanan sekaligus penuh keikhlasan.

Dan kekuatan yang sangat menolong, yang bisa membantu seseorang melakoni tugas super berat “mengolah karma menjadi dharma” adalah bhakti. Di Hindu ada cerita Bima yang bhaktinya kepada Guru nyaris tanpa cela. Ujungnya, tatkala pertarungan gada melawan Duryodana, Bima diselamatkan oleh Maha Guru bernama Shri Krisna. Di Buddha ada cerita Jetsun Milarepa yang melakukan kesalahan sangat berbahaya. Lagi-lagi karena bhaktinya yang sempurna kepada Guru, Milarepa tidak saja selamat, tapi mengalami pencapaian spiritual yang sangat mengagumkan.

Di jalan bhakti yang tulus kepada Guru, karma bisa bertransformasi menjadi tiga hal. Pertama, karma akan berbuah di waktu dan tempat yang tepat. Dengan kata lain, oleh tangan Guru karma seseorang dipindahkan sampai yang bersangkutan betul-betul siap dan mantap. Kedua, bhakti yang lebih dalam membuat karma seseorang diperringan. Anggap saja seseorang mesti terlahir di alam neraka, bhakti yang sangat dalam bisa membuat seseorang hanya mimpi masuk neraka.

Yang ketiga yang paling sempurna, bhakti membuat seseorang termurnikan sepenuhnya dari karma. Namun sangat sedikit yang bisa melewati tahapan ini. Dalam kisah Jetsun Milarepa, beliau menjalaninya secara berdarah-darah. Karena demikian beratnya, bahkan beberapa kali hampir dibunuh orang, beberapa kali nyaris bunuh diri. Tapi kekuatan yang paling menyelamatkan adalah tekad yang kuat, serta bhakti kepada Guru yang tidak pernah goyah.

Dalam kisah Bima dan Milarepa, di kedua kubu ditandai oleh kesejatian. Muridnya murid sejati. Gurunya juga Guru sejati. Dan di zaman ini, kombinasi jenis ini super langka. Hampir tidak ada. Namun jangan mudah menyerah, semuanya terpulang pada kesejatian seseorang di dalam. Serupa bunga indah yang mengundang kupu-kupu indah, seseorang yang di dalamnya sejati (baca: tulus, jujur, penuh hormat) akan melihat di mana Guru sejati berada.

Di Barat ada Guru spiritual yang bisa mengolah karma menjadi dharma. Ia bernama Mark Matousek. Penulis buku best seller ini, kehilangan ayahnya di umur 4 tahun. Sehingga puluhan tahun tumbuh seperti pohon tanpa akar. Empat puluh tahun kemudian, Mark bahkan menyewa detektif untuk menemukan ayahnya. Ini pun tidak menolong. Di tengah keputusasaaan inilah, ia dibawa oleh sahabat karibnya Andrew Harvey berjumpa seorang Guru di India Selatan yakni Mother Meera.

Tanpa aba-aba, pria yang tidak lagi muda ini menangis meneteskan air mata banyak sekali di depan Guru sejati. Tidak berani melihat mata Guru sejati. Bisanya hanya menangis, menangis dan menangis. Tatkala Mark diminta tidur di bawah kamar Mother Meera, di sana ia melihat di alam mimpi Cahaya sangat indah di balik Guru sejati. Mirip dengan Arjuna yang kehilangan kata-kata saat melihat Shri Krisna. Serupa Ananda yang tidak bisa menjelaskan kekagumannya ketika melihat tubuh indah Buddha. Ujungnya, bhaktinya kepada Guru sejati sangat mengagumkan.

Untuk membuat ceritanya jadi ringkas, Mark Matousek bisa melewati apa yang disebut oleh psikolog Carl Jung sebagai malam-malam gelap bagi sang jiwa. Seorang anak yang ayahnya hilang tanpa kabar, puluhan tahun diikuti bayangan kerinduan akan sosok ayah, di sini resah di sana gelisah, kemudian seluruh kegelapan ini bisa diolah menjadi benih Cahaya. Hasilnya, buku Mark Matousek yang berjudul Sex Death and Enlightenment bisa menerangi banyak sekali jiwa. Inilah persisnya yang disebut mengolah karma menjadi dharma.

Singkatnya, segelap apa pun karma seseorang di masa lalu, asal ia membekali diri dengan bhakti sejati kepada Guru sejati, di sana ada kemungkinan di mana karma berubah wajah menjadi dharma. Kesalahan-kesalahan di masa lalu tidak membuat jiwa jadi celaka. Sebaliknya, membuat jiwa jadi sangat bercahaya.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.