Kesembuhan

Agama Yang Indah

Ditulis oleh Gede Prama

Tatkala waktu luang seperti menunggu pesawat, coba bayangkan orang yang tidak bisa melihat kebaikan dalam diri Anda. Lebih bagus lagi kalau ada orang yang seumur hidup pekerjaannya hanya melukai diri Anda. Lebih jelas bayangan wajah orang itu di dalam lebih bagus. Begitu wajah orang tersebut terang benderang di dalam, perhatikan reaksi tubuh, pikiran dan perasaan. Dari dada yang terasa sesak, pikiran yang tegang, sampai perasaan yang mulai tidak tenang.

Kebanyakan jiwa-jiwa yang tidak dalam lari menjauh dari tanda-tanda tubuh, pikiran dan perasaan terakhir. Itu sebabnya mereka berputar dari satu penderitaan ke penderitaan lain. Jika Anda tertarik bertumbuh menjadi jiwa yang indah sekaligus dalam, lihat dengan jujur dan jernih (baca: tanpa penghakiman, tanpa penilaian buruk-baik, tanpa perlawanan) dada yang sesak, pikiran yang tegang, serta perasaan yang tidak tenang tadi. Jumpai ketidaknyamanan di dalam seperti tukang taman berpengalaman menjumpai daun kering yang sedang berproses menjadi bunga indah. Katakan “Ya” setulus-tulusnya dan sejujur-jujurnya. Awalnya ada yang melawan, ada yang tidak nyaman di dalam. Ini pun didekap dengan senyuman plus kata “Ya”.

Segala bentuk ketidaknyamanan yang berasal dari tubuh, pikiran dan perasaan ini sedang memberi tahu tentang kulit telur kecil yang membungkus jiwa. Sehingga manusia bertumbuh dari jiwa yang kerdil menuju jiwa yang kerdil. Dari satu kemarahan menuju kemarahan yang lain. Siapa saja yang tekun dan tulus, serta tidak mudah menyerah mengatakan “Ya” pada kulit telur diri yang kerdil ini, suatu hari akan bisa membuat kulit telur ini pecah. Begitu kulit telur ketidaknyamanan ini pecah, diri yang kerdil menghilang, diri yang Agung menjelang.
  
Dalam filosofi Timur, diri yang Agung ini sering disebut sebagai God as interbeing. Tuhan sebagai keterhubungan. Semuanya serba terhubung. Di dunia fisika kuantum, sudah lama terdengar pesan seperti ini: “Patahnya sayap seekor kupu-kupu di Okinawa berpengaruh pada cuaca di Australia”.
Kesadaran mendalam seperti inilah yang membuat tetua di Inggris, di Jawa dan di Bali mengajarkan ke generasi berikutnya untuk berbicara dengan bahasa yang halus. Terutama karena ia yang halus dalam keseharian, akan dibentuk balik oleh kehidupan menjadi pribadi yang juga halus.

Bom teroris yang pernah meledak di Bali dua kali memberi pelajaran mendalam, tidak saja jutaan orang Bali sulit cari makan kemudian, sahabat Muslim dari Jawa Timur yang mendapatkan banyak nafkah dengan menjual janur, buah, sayur ke Bali juga kesulitan mendapatkan nafkah. Bahkan tidak sedikit sahabat Muslim di Magelang Jawa Tengah bercerita jujur, kalau mereka juga sulit mendapatkan nafkah dari wisatawan pasca bom Bali. Baik cerita kupu-kupu di Okinawa, serta bom teroris di Bali, sama-sama bercerita tentang Tuhan sebagai keterhubungan.

Di tengah dunia yang memanas oleh ini dan itu, termasuk dibikin panas oleh agama, layak dibagikan ke publik wajah Tuhan sebagai keterhubungan. Dulunya ini hanya cerita di dunia mistik, sekarang sudah masuk wilayah laboratorium. Sebagaimana ditulis apik oleh doktor fisika kelahiran Austria bernama Fritjof Capra dalam buku “The Tao of Physics”, tatkala pengamatnya berubah maka perilaku atom juga berubah. Ini bercerita tentang ada sesuatu yang tidak terlihat yang menghubungkan pengamat dan atom. Antropolog sosial Gregory Bateson dalam mahakaryanya berjudul “Steps Into an Ecology of Mind”, menyebut ini “the pattern that connects”. Ada pola yang menghubungkan semuanya. Lagi-lagi ia bercerita tentang Tuhan sebagai keterhubungan.

Novel legendaris yang bercerita kisah samurai Miyamoto Musashi mencari kesempurnaan jiwa juga bertutur kisah yang serupa. Musashi menghabiskan waktu bertahun-tahun di alam terbuka, lengkap dengan segala tantangannya, kemudian berjumpa keterhubungan yang sulit dijelaskan. Kisah Svetaketu di Upanishad yang bercerita tentang anak muda cerdas yang mengalami kesempurnaan, juga berkisah tentang jiwa yang mengalami keterhubungan di alam terbuka.

Di Barat khususnya, sudah lama bangkit sebuah generasi yang tertarik sekali belajar shamanism sebagai agama tertua di muka bumi. Di Amerika tokohnya bernama Joseph Campbel, di Australia bernama Robert Moss. Setelah dicermati upacaranya,penghargaannya yang mendalam pada alam, doanya, lagi-lagi ia bercerita tentang Tuhan sebagai keterhubungan. Di jalan setapak ini sering
terdengar pesan seperti ini: “Sesakit apa pun rasanya di dalam, selalu ingat kalau manusia bukan musuh. Musuh sesungguhnya adalah ketidaktahuan (avidya)”. Persisnya, ketidaktahuan akan Tuhan sebagai keterhubungan.

Di dunia Tuhan sebagai keterhubungan, tokoh-tokohnya sering sepakat dengan kesimpulan singkat namun padat ini: “Ia yang tidak menyebut agama orang sebagai agama yang salah, sedang bercerita kalau agamanya adalah agama yang indah”. Inilah wajah “agama” yang sedang dicari oleh banyak sekali generasi muda. Sementara sebagian orang melakukan cinta kasih karena ditakut-takuti neraka, serta diiming-imingi surga. Di jalan setapak ini, cinta kasih adalah sifat alami manusia. Seseorang merawat ciptaan lain sesederhana tangan kanan yang merawat tangan kiri yang terluka.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.