Kesembuhan

Buku Suci Dalam Diri

Ditulis oleh Gede Prama

Menyusul berubah cepatnya bioritme alam, di mana-mana terdengar angka bunuh diri meningkat pesat. Jangankan di negara berkembang, bahkan di Jepang pun angka bunuh diri meninggi. Yang paling menyentuh, di beberapa negara bagian di Amerika Serikat orang-orang berumur tua dilegalkan oleh hukum untuk mengakhiri hidup. Sangat sedikit yang menyadari, kalau bunuh diri itu
kejahatan spiritual yang paling berbahaya. Meminjam buku kematian dari Tibet, manusia yang bunuh diri tanpa proses panjang langsung terlahir di alam setan kelaparan. Dan doa serta upacara tidak akan banyak menolong.

Sejujurnya, tubuh manusia bisa menghantar jiwa menuju tempat sangat berbahaya, atau
menghantar jiwa ke tempat sangat bercahaya. Bunuh diri adalah contoh paling jelas bagaimana tubuh manusia bisa menghantar jiwa ke tempat sangat berbahaya. Tidak saja karena tubuh manusia adalah tubuh paling bercahaya di alam ini, tapi juga karena ada triliunan sel dan mikroba di sana.
Penyakit lengkap dengan rasa sakitnya juga serupa. Ia bisa membuat jiwa berbahaya kalau seseorang lari ke narkoba misalnya. Sebaliknya, penyakit akan membawa jiwa ke tempat bercahaya kalau seseorang membaca pesan-pesan spiritual di balik penyakit.

Para sahabat yang sakit di sekitar kepala diundang untuk sedikit berfikir banyak mengalir. Sakit di sekitar mulut dan tenggorokan berpesan agar manusia lebih hati-hati dalam berbicara. Ia yang terkena penyakit jantung, belajar menyempurnakan cinta kasih. Penyakit saluran pernafasan dan saluran pencernaan mengundang orang untuk belajar terhubung. Anda yang terkena penyakit di sekitar organ seks, sebaiknya hati-hati dengan energi seks. Teman-teman yang sakit di sekitar kaki seperti rematik, hati-hati melangkah dalam kehidupan.

Seorang sahabat yang terkena penyakit hepatitis B di umur muda bercerita, kalau ada banyak rahasia jiwa di balik penyakit hepatitis B. Karena telaten merawat levernya, sahabat ini tidak pernah tersentuh setetes pun alkohol selama puluhan tahun. Kolesterol terjaga baik. Lebih dalam dari itu, karena penyakit leverlah kemudian ia mempelajari bahasa-bahasa hati seperti banyak menolong dan sedikit menyakiti. Ujungnya, penyakit hepatitis B bukannya membunuh, malah membantu jiwa
bertumbuh. Inilah contoh konkrit tentang penyakit yang membawa Cahaya.

Di Amerika Serikat ada Guru bercahaya bernama Ram Dass. Beliau pensiun di umur sangat muda dari jabatan guru besar psikologi di Universitas Harvard, kemudian menekuni spiritualitas. Jutaan jiwa telah diterangi Ram Dass. Di usianya yang sudah tua, tetap saja berbagi ajaran kesadaran tentang cinta kasih. Ketika ditanya, apa yang paling beliau banggakan di usia tua, dengan tersenyum orang tua ini menjawab: “Saya mencintai kursi roda saya, saya mencintai penyakit stroke yang pernah menyerang saya”. Inilah salah satu tanda jiwa bercahaya, bisa memancarkan cinta kasih bahkan pada penyakit yang telah membuat yang bersangkutan lumpuh.

Ringkasnya, penyakit dan rasa sakit bisa membawa bahaya, bisa juga membawa cahaya. Tergantung pada seberapa tenang dan seimbang seseorang bertumbuh dalam tubuh manusia. Jalan setapak yang dilalui Ram Dass sangat disarankan pada para sahabat pencari di zaman ini. Terutama karena buku suci berumur tua tidak saja mengalami banyak kekeliruan penafsiran, tapi juga lahir di waktu
ketika bioritme alam sangat berbeda. Peneliti energi Cristie Marie Sheldon bahkan secara eksplisit menyebutkan, dulunya vibrasi buku suci adalah 1.000, sekarang tinggal 550. Semua ini mengajak kita semua untuk membuka kembali buku suci di dalam diri.

“Apa yang Anda cintai dalam waktu lama sedang bercerita tentang rahasia jiwa”, begitu bunyi sebuah pesan tua. Wanita yang suka berbicara sering mengagumi pria pendiam. Pesannya, jiwa rindu keheningan. Pria yang tumbuh keras selama bertahun-tahun biasanya suka wanita dengan penampilan lembut. Jejak maknanya, jiwa rindu akan kelembutan. Para remaja putri yang bermasalah dengan ayahnya, mudah jatuh cinta pada pria yang diduga dewasa. Bimbingannya, jiwa berpesan agar yang bersangkutan cepat tumbuh dewasa. Pria yang mudah tertarik dengan wanita cantik, jiwanya sedang mengarahkan yang bersangkutan untuk banyak belajar keindahan.

Inilah salah satu wajah halus buku suci di dalam diri. Mimpi-mimpi masa kecil, hobi dan kesukaan dari masa kecil, mata pelajaran yang mudah menarik minat ketika masih kecil, semuanya juga bercerita tentang buku suci di dalam diri. Seorang sahabat yang suka menulis sejak remaja, serta telah menulis selama puluhan tahun bercerita, kalau ia menemukan banyak rahasia jiwa setelah membaca karya Mark Matousek berjudul “Writing To Awaken”. Ternyata di balik tulisannya yang
tidak bisa dihitung jumlahnya tersembunyi makna inti (core meaning). Yakni kerinduan mendalam jiwa akan kelembutan dan keheningan.

Undangannya pada para sahabat, pelajari kembali hobi dan kesukaan Anda sejak kecil. Lebih-lebih kalau ia dilakukan secara sangat menyenangkan selama puluhan tahun. Ada rahasia jiwa yang disimpan di sana. Lebih bagus lagi kalau teman-teman diberi tanda melalui titik-titik Cahaya (Chakra) di dalam tubuh. Seorang kawan di dunia spiritual pintunya dibuka oleh bom teroris yang meledak dua kali di Bali. Beberapa saat setelah kejadian tragis ini, berkali-kali ia masuk rumah sakit karena serangan di ulu hati (Chakra ke empat). Dari sinilah kemudian dipetakan jalan setapak “religion of the heart, the heart of religion”. Sejenis ajaran spiritual yang halus lembut yang terpusat di dalam hati.

Setiap sahabat yang telah bertumbuh dalam di jalan spiritual, lebih-lebih mengalami ledakan energi shakti kundalini di dalam mengerti, tubuh manusia memberi tanda-tanda tentang pencapaian spiritual seseorang. Di Bali Utara khususnya, ada cerita Layon Sari (mayat yang berbau wangi). Begitu seseorang mengalami pencerahan, energi shakti kundalininya bangkit sempurna, maka kotoran yang keluar dari dalam tubuh tidak lagi menyengat. Setidaknya tidak bau. Yang paling bagus, kotoran yang
keluar dari dalam tubuh berbau wangi. Dengan kata lain, bahkan tatkala tubuh masih hidup pun seseorang sudah bisa seindah Layon Sari. Inilah puncak pencarian buku suci di dalam diri.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.