Kesembuhan Spiritualitas

Lapar Akan Kebahagiaan

Ditulis oleh Gede Prama

Selama ribuan tahun manusia berjuang sangat keras untuk melawan kelaparan. Berita gembiranya, cerita kelaparan tidak lagi menjadi berita-berita utama dunia. Bersamaan dengan itu, di zaman kita lahir wajah baru kelaparan. Yakni lapar berlebihan akan kebahagiaan. Kemajuan ekonomi tercepat yang pernah terjadi di sepanjang sejarah, membawa banyak berkah sekaligus musibah. Bunuh diri lebih banyak terjadi di negara-negara kaya dibandingkan dengan negara berkembang. Penghuni lembaga pemasyarakatan (LP) di negara maju lebih dari sebagian adalah manusia yang mau bahagia dengan cara mengkonsumsi obat terlarang. Sebuah ancaman eksistensial yang sangat berbahaya.

Di Peru, Haiti, Filipina, Ghana serta negara berkembang lainnya, jumlah orang bunuh diri tidak sampai 100.000 per tahunnya. Sebaliknya, di negara-negara kaya seperti Swiss, Prancis, Jepang dan Selandia Baru, lebih dari 10 orang per 100.000 mengakhiri hidup dengan bunuh diri setiap tahunnya. Korea Selatan adalah contoh baik dalam hal ini. Di tahun 1985, Korea Selatan adalah negara yang relatif terkebelakang, serta diperintah oleh rezim otoriter. Sekarang, Korea Selatan adalah kekuatan ekonomi yang sangat diperhitungkan, warganya sangat terdidik. Sedihnya, kalau di tahun 1985 hanya 9 dari 100.000 orang yang bunuh diri di sana, di tahun 2015 ternyata 16 dari 100.000 orang Korea Selatan melakukan bunuh diri. Negara kaya yang dilaporkan relatif damai seperti Selandia Baru, ternyata 10 dari 100.000 warganya melakukan bunuh diri setiap tahunnya.

Kebahagiaan yang berbahaya

Dari satu sisi, angka-angka di atas sedang bercerita tentang batas-batas kemajuan ekonomi. Di lain sisi, ada rasa lapar berlebihan umat manusia akan kebahagiaan. Dalam banyak kejadian seperti pengguna narkoba, pelaku seks bebas, korban aids/hiv, manusia bahkan berani membayar sangat mahal untuk mendapatkan kebahagiaan. Sebuah kebahagiaan yang dialami hanya beberapa saat, diikuti oleh penderitaan yang sangat panjang kemudian. Untuk pertama kali terjadi dalam sejarah, orang mati akibat kebanyakan makan lebih banyak dibandingkan dengan ia yang mati karena kekurangan makan. Lebih banyak manusia yang mati karena bunuh diri, dibandingkan mati karena kelaparan. Di tahun 2009, 55 % penghuni LP Inggris adalah pengguna narkoba, 62 % orang terhukum di Australia adalah korban obat bius.

Pada tahun 2010, kelaparan digabung dengan gizi buruk membunuh sekitar 1 juta orang. Sedangkan kegemukan dan obesitas membunuh sampai 3 juta orang. Bagi rata-rata warga Amerika dan Eropa, perusahaan-perusahaan yang memproduksi banyak gula dan kolesterol, jauh lebih mengancam nyawa mereka dibandingkan dengan serangan teroris. Digabung menjadi satu, di satu sisi umat manusia sangat lapar dengan kebahagiaan. Namun di lain sisi, tidak tersedia cukup perangkat untuk bisa memenuhi rasa lapar akan kebahagiaan tersebut. Akibatnya, seperti anak-anak yang baru tahu rasa enaknya es krim, mereka hanya makan es krim saja. Lupa kalau es krim saja tidak cukup untuk memenuhi gizi. Lebih lupa lagi kalau es krim bersama gula berlebihan sudah menjadi kekuatan yang telah membunuh banyak sekali manusia. Jauh lebih banyak dibandingkan pembunuhan yang diakibatkan oleh perang dan bom teroris.

Dari sudut pandang spiritualitas terlihat terang benderang, kecanduan berlebihan manusia akan rasa manis dan rasa enak, adalah pantulan dari jiwa-jiwa yang jauh dari seimbang. Hanya mau yang manis, tidak mau yang pahit. Hanya mau yang enak, tidak mau yang tidak enak. Sebagaimana terlihat jelas di sesi-sesi meditasi, ribuan sahabat yang sakit begini sakit begitu, bermasalah begini bermasalah begitu, semuanya dijangkiti penyakit hanya mau yang baik, tidak mau yang buruk. Padahal, dari awal yang tidak berawal, sampai akhir yang tidak berakhir, alam akan terus menerus ditandai oleh malam dan siang. Kehidupan akan terus menerus ditandai oleh sedih-senang, duka-suka, gagal-sukses, dicaci-dipuji. Suka tidak suka demikianlah hukumnya. Melawan sang hukum, itulah benih penderitaan. Mengerti dalam-dalam sifat sang hukum, kemudian mengalir sempurna, itulah benih-benih keseimbangan dan kedamaian.

Kebahagiaan yang bercahaya

Di jalan meditasi khususnya, para sahabat diajak membadankan lewat praktik keseharian kalau kebahagiaan bukan buah dari kejadian. Melainkan buah dari cara seseorang bereaksi pada kejadian. Seperti berjumpa sekantong plastik yang berisi kotoran sapi di depan pintu rumah, yang dikirim oleh tetangga depan rumah. Pikiran yang pemarah akan bereaksi penuh musibah. Namun pikiran yang indah akan merenung seperti ini: “Ternyata tetangga melihat pohon bunga di taman kurang subur, sehingga pagi ini mereka mengirim pupuk yang mempersubur tanaman”. Hal yang sama terjadi dengan suami yang pemarah, serta istri yang cerewet. Andaikan banyak sahabat yang melihat istri cerewet dan suami pemarah sebagai Guru kesabaran, ada banyak sekali keluarga yang bisa diselamatkan dari petaka perceraian.

Inilah benih-benih kebahagiaan yang bercahaya. Kebahagiaan tidak muncul dari luar sana, melainkan buah dari ketekunan untuk melatih diri di sini di dalam diri. Di kelas-kelas meditasi sering ditanyakan, setiap kali ada stimulus suara atau gambar dari luar, kenapa respon pertama otak cenderung negatif seperti takut? Meminjam temuan sahabat di neuro-science, reaksi pertama otak yang cenderung negatif saat melihat ular misalnya, ia lebih terkait dengan sifat alami otak untuk melindungi tubuh manusia. Hanya untuk melindungi. Sedihnya, banyak manusia bereaksi terlalu berlebihan pada rasa takut yang ditimbulkan otak. Kemudian kehilangan kesempatan untuk menemukan kebahagiaan.

Untuk itulah, jutaan sahabat penekun meditasi telah diajak untuk belajar istirahat dari segala bentuk konflik di dalam seperti salah-benar serta duka-suka. Sebagaimana malam dan siang selalu menjadi bagian dari alam, sedih dan senang akan selalu menjadi bagian dari taman jiwa di dalam. Agar tidak dibikin berbahaya oleh putaran zaman yang hanya mau manis, belajar menemukan rumah ke-u-Tuhan di dalam. Kendaraannya bernama senyuman. Bersama senyuman ke dalam, para sahabat akan menemukan, kebahagiaan mendalam tidak terletak pada nafsu berlebihan untuk selalu disebut lebih baik dibandingkan orang lain. Kebahagiaan mendalam disembunyikan di balik keseimbangan antara kesenangan dengan ketenangan.

Di Amerika sana ada Guru meditasi sangat senior bernama Ram Dass. Beliau pensiun di usia sangat muda sebagai guru besar psikologi di Universitas Harvard, menjual pesawat pribadinya kemudian belajar meditasi di Himalaya. Setelah menerangi banyak sekali jiwa yang tidak seimbang, ditempatkan oleh banyak Guru spiritual dunia sebagai Guru yang layak dihormati, Ram Dass yang telah berumur 90an tahun pernah ditanya soal apa yang beliau sangat cintai di usia tua. Dengan tersenyum jiwa bercahaya ini menjawab : “Saya mencintai kursi roda saya, saya mencintai penyakit stroke saya”. Begitulah jiwa yang telah disentuh meditasi mendalam. Jangankan makanan enak, bahkan penyakit stroke pun bisa membuat manusia bahagia. Tidak saja karena penyakit stroke membawa pesan spiritual, tapi juga karena keadaan kaki yang lumpuh membuat Ram Dass menemukan rumah sangat indah dalam tubuh beliau.

Inilah ketrampilan hidup yang teramat jarang diajarkan oleh sekolah, bagaimana membuat manusia bisa menemukan rumah indah dalam tubuh sendiri. Padahal, begitu seseorang menemukan rumah indah dalam tubuh sendiri, manusia tidak perlu mengejar kebahagiaan ke mana-mana. Kebahagiaan adalah sifat alami kehidupan. Sebagaimana sering dibagikan di sesi-sesi meditasi: “Burung bahagia menjadi burung buktinya mereka bernyanyi. Pohon damai jadi pohon, buktinya tidak ada pohon yang ditangkap oleh KPK, kalau burung bahagia jadi burung, pohon damai jadi pohon, kenapa banyak manusia yang tidak bahagia dan tidak damai menjadi manusia?”.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.