Kesembuhan

Memberi Nutrisi Pada Bumi

Ditulis oleh Gede Prama

Putaran sejarah di sekitar tahun 2018 ini unik. Inilah zamannya, di mana manusia yang wafat karena kebanyakan makan, lebih banyak dibandingkan orang yang wafat karena kekurangan makan. Manusia yang mati karena kebanyakan gula, lebih banyak dibandingkan dengan ia yang mati karena perang dan korban teroris. Dari kaca mata spiritual, ia tanda lahirnya terlalu banyak jiwa-jiwa yang tidak seimbang. Hanya mau yang manis, tidak mau yang pahit. Hanya mau yang enak, tidak yang mau yang tidak enak. Karena manusia dan alam saling terkait, maka terjadilah banyak bencana alam yang menakutkan. Di bulan-bulan terakhir, alam malah hadir dengan gempa menakutkan, kebakaran menakutkan, gunung meletus.

Di putaran waktu seperti ini, sangat penting untuk mengingatkan umat manusia kembali akan sebuah pesan tua dari buku suci yang juga tua: “Manusia adalah satu-satunya ciptaan di alam ini yang bisa mengubah alam dan kehidupan melalui apa-apa yang ia pikirkan, ucapkan dan lakukan”. Di dunia keilmuan, pernyataan ini mendapat pembenaran dari banyak pihak. Salah satunya yang paling sering dikutip adalah temuan Dr. Masaru Emoto soal bentuk-bentuk partikel air. Ketika di depan partikel air ditunjukkan kata tolol, wajah partikel air menakutkan mirip setan. Tatkala di depan partikel air ditunjukkan kata damai, wajah partikel air sangat indah menyerupai berlian.

Untuk direnungkan bersama, lebih dari sebagian permukaan bumi adalah air. Lebih dari sebagian isi tubuh manusia juga air. Sehingga bisa dimaklumi, di tempat di mana terjadi banyak konflik dan kekerasan, di sana alam sering memberi tanda-tanda yang menakutkan. Tsunami besar yang pernah menghancurkan Aceh adalah sebuah contoh. Di sana selama puluhan tahun elit politik berebut keras dan panas soal kekayaan alam. Konflik berumur sangat panjang antara Israel dan Palestina adalah contoh lain. Amerika Serikat dengan segala kedigdayaannya memproduksi banyak sekali senjata. Hasilnya sudah dicatat sejarah, serangan teroris paling menakutkan terjadi di sana di tahun 2001.

Dari angka 2 ke angka 3
Dari kaca mata yang bersih dan jernih, manusia yang cinta damai sesungguhnya jauh lebih banyak. Sedihnya, manusia yang memegang uang, kekuasaan serta senjata, yang jumlahnya jauh lebih sedikit bertumbuh di angka 2, sekaligus dikacaukan oleh angka 2. Maksudnya angka 2 sederhana, benar melawan salah, baik melawan buruk, suci melawan kotor. Dan nyaris semua manusia yang memegang uang dan kekuasaan berlebihan, menganggap dirinya benar, baik dan suci. Pada saat yang sama, menempatkan orang berbeda dengan sebutan salah, buruk dan kotor. Ujungnya, manusia tumbuh dalam kekerasan, alam berguncang menakutkan.

Dalam putaran waktu seperti inilah, diperlukan jiwa-jiwa indah yang bertumbuh di angka 3. Tidak diguncang oleh salah-benar ala angka 2, melainkan tersenyum indah di tengah bersama angka 3. Di dunia sekolah umumnya, anak-anak diajarkan analisis yang kental dengan angka 2. Sedikit yang belajar sintesis yang identik dengan angka 3. Pengandaiannya sederhana, ketika manusia berdialog, ia mirip 3 orang buta yang berjumpa gajah. Yang memegang belalai mengira makhluk ini ular. Yang memegang kaki gajah menduga, ini batang pohon. Yang menyentuh badan gajah ngotot kalau ini tembok. Makanya anak-anak muda di sekolah banyak yang ngotot. Terutama karena pertanyaan ala analisis (angka 2) adalah siapa yang benar. Dengan pertanyaan jenis ini, tidak saja konflik terjadi, tapi juga dialog masuk jurang gelap yang jauh dari kebenaran.

Di dunia angka 3 (sintesis), pertanyaannya bukan siapa yang benar, melainkan makhluk apa yang di satu bagian mirip ular, di bagian lain menyerupai batang pohon, di pojokan lain mirip tembok. Dengan pikiran yang jauh dari penghakiman, jauh dari permusuhan, kemudian ketiga jawaban ini disintesakan, dirangkum ke dalam sebuah gambar yang utuh dan holistik, di sana ada kemungkinan manusia mendekati kebenaran berubah gajah. Tidak banyak manusia yang bisa diajak jernih bersih mendekati angka 3 di zaman ini.

Dan yang paling bertanggung jawab di balik ini adalah pengkondisian yang berumur sangat tua, di mana manusia bukannya bersahabat dengan alam, melainkan secara congkak dan sombong mau menundukkan alam. Sebagaimana ditemukan para arkeolog di Prancis Selatan dan Spanyol Utara, di sana ada gua panjang yang berumur puluhan ribu tahun, yang berisi gambar manusia menundukkan binatang khususnya. Manusia duduk secara congkak dan gagah di atas tubuh binatang yang tidak berdaya. Dan di balik cerita ini tentu saja angka 2: “Manusia benar, binatang dan alam salah serta kalah”.

Begitu ada manusia yang kalah, mereka ditempatkan di tempat yang jauh dari terhormat. Bahkan dihina dan dicerca. Pengkondisian sangat tua jenis inilah yang membuat angka bunuh diri semakin tinggi di mana-mana. Dalam bahasa psikologi Carl Jung, manusia dikejar oleh “bayangan” kalah dan salah yang ia buat sendiri. Di sesi-sesi meditasi sering terlihat, ribuan sahabat yang sakit begini sakit begitu, bermasalah begini bermasalah begitu, nyaris semuanya membuat bayangan di dalam, kemudian takut dengan bayangan buatan sendiri.

Ada bayangan rasa bersalah, rasa berdosa, tidak dihormati orang, tidak berguna, tidak bermakna. Ujungnya, di dalam terjadi pertempuran keras antara bayangan dan cahaya yang menjadi ciri khas angka 2. Yang dilakukan jiwa-jiwa indah yang tumbuh di angka 3 lain lagi, mereka tidak tertarik dengan pertempuran antara bayangan dengan cahaya. Namun melatih diri untuk berdansa bersama bayangan (dancing with the shadow). Maksudnya, bayangan salah dan kalah tidak ditendang, melainkan diolah menjadi bahan pelajaran agar jiwa bisa terbang.

Sahabat dekat di dalam yang bisa membantu seseorang bisa berdansa dengan bayangan adalah ketekunan untuk menyaksikan, ketulusan untuk penuh penerimaan, serta tidak pernah lelah untuk berbagi senyuman. Manusia jenis inilah yang sedang memberi nutrisi pada bumi. Sekaligus menjaga agar bumi tidak murka bersama gempanya, tidak berbahaya bersama tsunaminya, tidak gelisah bersama cuaca yang tidak pasti. Kendati tidak membawa pengeras suara yang membuat kelompok angka 3 ini diberitakan di media-media dunia, kelompok ini secara sangat meyakinkan sedang membuat bumi jadi sejuk. Simbolnya adalah pepohonan, yang dalam diamnya mengolah racun karbon menjadi oksigen yang sangat dibutuhkan.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.