Kesembuhan

Dari Korban Menjadi Pahlawan

Ditulis oleh Gede Prama

Suatu hari di Barat sana ada putri kecil dan cantik yang tumbuh di lingkungan tradisi yang sangat melarang hubungan seksual. Sehingga setiap hari ia dibombardir dengan pesan bahwa seks itu gelap dan jahat. Di tengah lingkungan bertumbuh seperti itu, tiba-tiba suatu hari ayahnya yang menjadi kepala sekolah dilaporkan melakukan pelecehan seksual. Bahkan putri kecil yang cantik ini pun mengalami pelecehan seksual yang sangat menakutkan. Sampai ia tidak percaya sama siapa pun. Termasuk tidak percaya sama orang tua. Di tengah kehidupan yang demikian gelap dan pengap, putri kecil ini kemudian belajar Tantra di kedalaman hutan di India.

Ringkasnya, sepulang dari India, ia tidak saja sembuh dari trauma mendalam akan pelecehan seksual, tapi juga berhasil menyembuhkan banyak sekali manusia yang terkena luka jiwa mendalam akibat pelecehan seksual. Wanita cantik ini, yang belakangan disebut banyak pihak sebagai pahlawan spiritual, dikenal dunia dengan nama Psalm Isadora. Dipa Ma adalah wanita perkasa yang lain. Awalnya suaminya wafat. Kemudian dua dari tiga putrinya juga wafat. Dengan beban penderitaan yang demikian berat, Dipa Ma kemudian datang ke kelas meditasi dengan tubuh yang setengah lumpuh.

Puluhan tahun setelah petaka kehidupan ini terjadi, banyak pencari spiritual yang mengagumi kehadiran Dipa Ma. Hanya berada di dekatnya saja, belum mendengarkan ceritanya, terasa sekali ada aura kedamaian, kebaikan dan cinta kasih yang tidak bersyarat. Pema Chodron juga wanita perkasa yang berevolusi dari korban menjadi pahlawan. Setelah menikah dengan pria yang sama selama lebih dari 20 tahun, setiap hari hanya menjadi ibu rumah tangga biasa di rumah, tiba-tiba saja suaminya mengaku jatuh cinta sama wanita lain dan mau menikah. Bukan pahlawan spiritual namanya, kalau beliau bunuh diri. Di tengah langit kehidupan yang tidak berisi cahaya, Pema Chodron belajar meditasi dari Guru spiritual asli Tibet. Beberapa tahun kemudian, beliau diangkat menjadi salah satu wanita generasi pertama yang mengajar meditasi mendalam di Barat sana.

Kisah tiga wanita bercahaya ini sengaja diceritakan ulang, untuk memberikan inspirasi pada kawan-kawan. Penderitaan bisa membimbing jiwa masuk jurang. Atau bisa mengangkat jiwa agar terbang. Ia akan mendorong jiwa masuk jurang, kalau seseorang bunuh diri, atau lari ke hal-hal berbahaya seperti narkoba dan seks bebas. Penderitaan akan membuat jiwa terbang, kalau seseorang dengan gagah berani menjumpai penderitaan, serta mengolahnya menjadi nutrisi spiritual yang memperkaya perjalanan jiwa kemudian. Disebut gagah berani, karena hanya ia yang punya keberanian spiritual yang punya cukup nyali untuk berjumpa dengan penderitaan.

Bhakti sebagai kaca pembesar

Lebih dalam dari itu, kegelapan penderitaan tidak diizinkan untuk melahirkan amarah dan dendam, namun kegelapan penderitaan digunakan sebagai kunci pembuka untuk berjumpa cahaya. Dan kilatan cahaya itu mulai memperlihatkan dirinya, saat seseorang berjumpa Guru sejati. Bersama Guru sejatilah, lumpur penderitaan diolah menjadi bunga lotus kedamaian. Dan kekuatan yang bisa membuat pahlawan spiritual berhasil mengolah lumpur penderitaan menjadi lotus kedamaian adalah bhakti sangat mendalam kepada Guru sejati.

Makanya ada yang membuat pengandaian seperti ini. Penderitaan mirip dengan daun kering. Ajaran suci serupa cahaya matahari. Bhakti sangat mendalam kepada Guru sejati tidak jauh berbeda dengan kaca pembesar yang diletakkan diantara cahaya matahari dan daun kering. Ujungnya, daun kering penderitaan terbakar habis. Terbang naik bersama asap indah kedamaian. Rangkaian langkah spiritual seperti ini, tidak saja dialami oleh Psalm Isadora, Dipa Ma dan Pema Chodron, tapi juga dialami banyak pahlawan-pahlawan spiritual yang legendaris serta sangat dikenal oleh dunia.

Jetsun Milarepa adalah pahlawan spiritual sangat legendaris yang lahir di Tibet. Perjalanan spiritualnya juga dibuka oleh penderitaan yang sangat tidak tertahankan. Semua warisan ayahnya diambil paksa oleh paman dan tantenya. Dendam ibu kandung Milarepa membuat ia belajar ilmu black magic, yang kemudian digunakan untuk melakukan kesalahan sangat berbahaya. Setelah dikejar rasa berdosa ke mana-mana, anak muda ini kemudian menangis hanya mendengar nama Gurunya Marpa. Oleh Gurunya Marpa, Milarepa dibersihkan dosa-dosanya secara berdarah-darah. Ujungnya indah sekali, tatkala Milarepa wafat, tidak saja manusia hormat mendalam, alam Cahaya juga menghormat secara sangat mendalam.

Cerita seperti ini sengaja diangkat ke permukaan, untuk memberi inspirasi ke para sahabat agar menggunakan penderitaan sebagai kendaraan untuk pulang. Terutama di tengah putaran waktu di mana alam datang dengan wajahnya yang menakutkan seperti gempa bumi, gunung meletus, tsunami, dll. Salah seorang sahabat sangat dekat di keluarga Compassion, juga menjadi korban menakutkan tatkala gempa besar menghajar pulau Lombok di tahun 2018. Hotel dan restorannya rata dengan tanah. Beberapa pekerjanya cedera. Belum lagi menyaksikan banyak korban nyawa manusia di sana.

Belajar dari kisah-kisah pahlawan spiritual seperti Psalm Isadora, Dipa Ma, Pema Chodron, serta Jetsun Milarepa, bangkitkan nyali untuk tidak lari dari penderitaan. Jumpai penderitaan seperti bunga menjumpai cahaya matahari yang panas. Bekali diri dengan bhakti yang sangat mendalam. Yakini bhakti sebagai kaca pembesar yang bisa membakar semua daun kering penderitaan. Salah satu ciri manusia yang punya nyali spiritual sederhana, ia tidak mudah menyerah, tidak sedikit-sedikit gelisah. Meminjam sebuah pesan tua, yang penting bukan berapa kali jatuh, tapi ingatkan diri untuk selalu bangun setelah jatuh. Seperti ular yang mengganti kulitnya, seperti itulah penderitaan membuka paksa bungkus-bungkus jiwa yang palsu.

Siapa saja yang tekun dan tulus di jalan ini, suatu hari akan mengerti melalui pencapaian pribadi, Anda tidak memerlukan tujuan. Kehidupan itulah sebuah tujuan. Ringkasnya, tubuh manusia yang sudah dimurnikan dan disempurnakan oleh penderitaan mendalam, itulah tubuh yang sangat bercahaya di alam ini. Itu sebabnya, semua Buddha mengalami pencerahan sempurna tatkala mengenakan tubuh manusia. Meminjam sebuah buku suci tua, yang berumur lebih dari 2.800 tahun, yang ditemukan di kedalaman hutan di Peru, yang lokasinya persis berada di balik pulau Bali, tubuh manusia adalah puncak semua evolusi di alam ini.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.