Kesembuhan

Tuhan Sebagai Keindahan

Ditulis oleh Gede Prama

Menyusul datangnya gempa dan bencana alam berturut-turut, lengkap dengan korban nyawa dan ketakutan manusia, di sana-sini muncul pertanyaan anak muda khususnya: “Apakah benar Tuhan itu ada?”. Maklum, namanya juga anak muda. Di tengah alam yang menantang, layak direnungkan kisah berikut ini. Setelah ayah, ibu dan kakaknya wafat dalam waktu yang relatif dekat, seorang anak muda di Bali bertanya penuh ketakutan: “Apakah benar Tuhan itu ada?”. Menyusul ketakutan jenis ini, ia pun berjarak dengan tempat suci dan buku suci. Ujung ceritanya sangat menyentuh, tidak berapa lama kemudian anak muda ini wafat mendadak karena serangan jantung.

Bahan inspirasinya, ketakutan tidak saja membuat jiwa ditarik turun keras sekali, tapi juga melahirkan ketakutan-ketakutan baru yang lebih besar. Begitu tumpukan ketakutan di dalam sudah demikian menggunung, di sana seseorang mengalami petaka yang sangat berbahaya. Hal yang sama sedang terjadi pada banyak manusia. Gempa dan bencana alam yang memakan korban nyawa manusia, membuat banyak manusia menumpuk ketakutan dari hari ke hari. Dan sebelum semuanya menjadi berbahaya, mari dengan jernih dan bersih menemukan kembali wajah Tuhan yang indah sekaligus penuh berkah.

Di zaman dulu, saat alam bervibrasi di tingkat tertentu, ada buku suci yang menggambarkan wajah Tuhan yang pemarah, wajah Tuhan yang dengan gagah berani menunjukkan kehebatan, wajah Tuhan yang nyata-nyata menyelamatkan. Namun begitu alam bervibrasi di tingkatan yang lain, mulai muncul kisah seperti dihabisinya nyawa banyak orang Yahudi oleh rezim Hitler. Di tengah ketakutan yang sangat mencekam karena diancam kematian, banyak orang Yahudi yang memanggil Tuhan. Sedihnya, Tuhan dengan wajah penyelamat yang pernah muncul dulunya, tidak pernah muncul. Dari sinilah lahir pemikir seperti Nietsche yang mengumumkan: “Tuhan telah wafat”. Didukung oleh teori evolusinya Darwin, dari sini juga lahir orang-orang ateis yang kurang bersahabat dengan konsep Tuhan.

Setiap sahabat yang mata spiritualnya terbuka, lebih-lebih bisa memasuki alam rahasia mengerti, sesungguhnya yang terjadi sederhana. Alam sedang bervibrasi ke tingkat yang lebih tinggi. Bukti nyatanya, dulunya keberadaan manusia terancam karena serba kekurangan. Makanya pembunuh paling berbahaya zaman dulu adalah kelaparan, perang dan wabah penyakit. Di zaman ini terbalik, manusia paling banyak wafat karena kelebihan. Manusia yang wafat karena kebanyakan makan, kebanyakan gula, kebanyakan alkohol, kebanyakan narkoba jauh lebih banyak dibandingkan ia yang wafat karena kekurangan makanan dan kekurangan obat. Konsekuensinya, karena alam bervibrasi ke tingkat yang lebih tinggi, manusia dituntut memiliki pengertian tentang Tuhan yang juga jauh lebih tinggi.

Membacakan ayat buku suci tua yang berbunyi: “Saya Tuhan yang pemarah”, hanya akan membuat manusia semakin marah dan gelisah. Ini mirip dengan mengajarkan pelajaran anak taman kanak-kanak pada mahasiswa strata dua. Di tingkat inilah, alam memerlukan pahlawan-pahlawan spiritual yang bisa membaca tingkat vibrasi alam di masa kini. Kemudian mengajak umat manusia untuk menemukan wajah Tuhan yang sesuai dengan tantangan kekinian. Dan salah satu pilihan yang tersedia adalah melukis wajah Tuhan yang penuh keindahan. Dari sini pasti ada yang bertanya, kenapa mesti keindahan?.

Perhatikan jenis-jenis penyakit yang paling banyak mengakhiri nyawa manusia di zaman ini. Dari penyakit gula, virus aids/hiv, korban narkoba, sampai dengan kegemukan. Atau penyakit sosial paling berbahaya seperti bunuh diri, sakit mental, perselingkuhan, perebutan kekuasaan, persaingan hebat soal uang, sampai perceraian. Semuanya bercerita tentang kerinduan mendalam jiwa-jiwa zaman ini akan keindahan. Bungkus luarnya memang berbeda-beda – dari gula yang manis, seks yang sangat memukau, sampai narkoba yang membawa rasa nyaman sesaat namun membahayakan, namun isi di dalamnya sama. Yakni kerinduan mendalam akan keindahan.

Bukti lain, salah satu industri yang sangat kebal dengan pengaruh krisis adalah pariwisata. Industri lain yang tumbuh sangat cepat adalah industri kosmetika. Belakangan hadir industri social media. Semuanya bercerita soal yang sama, kerinduan jiwa-jiwa akan keindahan. Digabung menjadi satu, alam sedang memunculkan ke permukaan wajah Tuhan yang sangat dirindukan. Yakni Tuhan sebagai keindahan. Tantangannya ke depan, bagaimana mengajak organisasi keagamaan, serta tokoh-tokoh agama untuk bergandengan tangan bersama-sama, menghadirkan wajah Tuhan sebagai keindahan. Tidak mudah tentu saja. Bagi sebagian sahabat yang tahu rumitnya organisasi keagamaan, tugas ini bahkan nyaris tidak mungkin.

Mulai dari diri sendiri

Namun kita bisa memulainya dari diri kita sendiri. Apa pun panggilan hidup Anda, belajar untuk selalu terhubung rapi dengan keindahan. Tatkala duduk di pantai, perhatikan keindahan gelombang. Saat rekreasi di pegunungan, menyatulah dengan kesejukan hawa pegunungan. Ketika tenggelam di dunia kerja, lihatlah kerja sebagai tangan alam untuk menghasilkan banyak keindahan. Di waktu berdoa, selalu ingat mengucapkan doa terindah terimakasih. Tugas ini bisa susah, bisa juga mudah. Tergantung pada seberapa bersih jiwa seseorang di dalam. Bagi sahabat yang melawan, disarankan untuk melakukan tugas pembersihan spiritual seperti pelayanan. Pelayanan membuat diri yang kerdil mengecil, sekaligus mendekatkan seseorang dengan diri yang Agung.

Bagi kawan-kawan yang di dalamnya bersih dan jernih, lakukan meditasi keindahan 24 jam sehari. Apa pun gerak kehidupan, dari kerja hingga berdoa, dari berkeluarga sampai berbagi cahaya, teruslah berteduh di bawah pohon keindahan. Persisnya, selalu lihat semuanya dari sisi-sisi yang indah. Indahnya masa lalu kelabu, seseorang jadi penuh permakluman ke orang lain. Indahnya banyak uang, Anda bisa banyak berbagi. Indahnya banyak hutang, seseorang sedang dilatih untuk selalu rendah hati. Indahnya tidak punya anak, seumur hidup berbulan madu. Indahnya anak nakal, setiap hari kursus kesabaran. Indahnya kehidupan bertumbuh dari bawah, di sepanjang perjalanan ada saja hal yang layak disyukuri.

Meminjam sebuah puisi tua: “Hidup mirip dengan tinggal di hotel. Setiap hari tamunya berganti. Kadang dikunjungi kesedihan, kadang dikunjungi kesenangan. Dan siapa pun tamu yang datang, jangan pernah lelah untuk berbagi senyuman. Terutama karena senyuman sedang bercerita, kalau manusia tidak lagi menjadi korban. Melainkan sudah tumbuh menjadi tuan dalam kehidupan”. Inilah bentuk konkret perjumpaan dengan Tuhan sebagai keindahan. Dengan perjumpaan jenis ini, manusia tidak saja mungkin sehat dan selamat, tapi juga sedang membuat alam untuk jauh lebih bersahabat. Yang paling ditakuti manusia di depan bencana alam adalah kematian. Seorang pencinta keindahan pernah berpesan seperti ini: “Jangan pernah menangis di depan kematian. Kematian adalah pesta terindah di taman Tuhan”.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.