Kesembuhan Spiritualitas

Menyanyikan Keindahan

Ditulis oleh Gede Prama

Di zamannya Donald Trump menjadi presiden AS, tidak sedikit sahabat di sana yang sangat prihatin dengan wacana publik yang setiap hari diisi oleh kegiatan menyerang yang buruk-buruk. Salah satu sesepuh dunia spiritual di sana Ram Dass, bahkan meletakkan foto Donald Trump berjejer bersama foto Yesus dan Buddha di altar tempat beliau berdoa. Mark Motousek juga berkali-kali bercerita sangat prihatin di mailing list. Hal yang sama juga terjadi di negeri lain. Lebih-lebih di putaran waktu ketika terjadi pergantian kekuasaan. Wacana tentang menyerang yang buruk-buruk bahkan lebih kencang lagi.

Sedikit yang menyadari, wacana menyerang yang buruk-buruk secara meyakinkan sedang membuat manusia menyirami benih-benih berbahaya di dalam diri. Dalam bahasa psikologi klasik ala Sigmund Freud, apa saja yang dipercakapkan lama di alam sadar, akan mempengaruhi alam bawah sadar kemudian. Meminjam sahabat di psikologi cognitive, percakapan di alam sadar bisa menjadi pembunuh bisa juga menjadi penyembuh. Kalau percakapannya hanya menyerang yang buruk-buruk, tentu saja ia sangat membunuh kemudian. Kawan-kawan yang menekuni psikologi energi dengan spesialisasi konflik mengerti, kekurangan energi dalam diri manusia mau dipenuhi dengan cara merebutnya dari orang lain. Dan percakapan menyerang yang buruk-buruk, itu salah satu bentuk kekurangan energi yang mau dipenuhi dengan cara merebutnya dari orang lain.

Sedihnya, pendekatan seperti itu tidak memenuhi kekurangan energi dalam jangka panjang. Sebaliknya malah memperpanjang daftar panjang kekerasan yang telah panjang. Perhatikan angka-angka statistik yang muncul ke permukaan. Kalau di zaman dulu kebanyakan manusia wafat karena serba kekurangan, di zaman ini kebanyakan manusia wafat karena serba kelebihan. Ada yang kelebihan makanan kemudian terkena obesitas, ada yang kelebihan gula kemudian terkena penyakit diabetes. Intinya satu, terlalu banyak jiwa yang tidak seimbang. Hanya mau manis, tidak mau pahit. Hanya mau makan enak, tidak mau kegemukan. Kalau dicari akarnya, kekurangan energi di dalam yang ditutupi dengan merebutnya dari orang lain, malah memperpanjang daftar jiwa-jiwa yang tidak seimbang.

Menyanyikan kebaikan

Sahabat-sahabat yang bersih jernih mengerti, kekurangan energi di dalam lebih mungkin untuk diisi ulang tidak dengan cara mengambilnya dari orang lain, melalui percakapan yang meletakkan diri dalam posisi benar, serta meletakkan orang lain dalam posisi salah. Melainkan dengan belajar terhubung dengan pusat energi. Tradisi berbeda menggunakan pendekatan berbeda dalam hal ini. Dan di jalan meditasi, pusat energi didekati dengan cara sedikit keluhan banyak senyuman, sedikit perlawanan banyak penerimaan. Langkah praktis kesehariannya, latih diri untuk selalu melihat sisi-sisi indah dari setiap kekinian.

Indahnya belum punya anak, seseorang terus menerus berbulan madu bersama pasangan. Kalau pun benar-benar tidak punya anak, ia undangan untuk merawat sebanyak mungkin makhluk sebaik merawat anak sendiri. Indahnya cicilan rumah belum lunas, seseorang dilatih agar hemat dan selamat. Indahnya belum punya kendaraan, setiap hari olah raga. Indahnya anak nakal, orang tua punya kesempatan untuk membayar hutang karma. Indahnya pasangan hidup cerewet, setiap hari kursus kesabaran. Indahnya belum lulus sekolah, seseorang punya kesempatan luas untuk menikmati masa remaja. Indahnya berkarier dari bawah, ada banyak tangga rasa syukur yang akan dilewati. Indahnya anak-anak telah tumbuh dewasa, ada berlimpah waktu untuk menyembuhkan diri serta menikmati usia tua.

Dalam bahasa yang singkat padat, selalu ada hal indah bahkan di balik masalah dan musibah. Jepang bangkit menjadi kekuatan ekonomi dunia setelah dua kotanya hancur dijatuhi bom atom. Amerika Serikat tumbuh menjadi negara adi kuasa karena awalnya dibangun oleh manusia-manusia yang terbuang dari negeri asalnya. Lee Iacocca pernah menjadi pahlawan dunia usaha di Amerika Serikat sana karena pernah dibuang dari posisi eksekutif puncak di sebuah perusahaan otomotif, kemudian dipaksa turun serta berkantor di sebuah gudang. Dalam bahasa penekun kebahagiaan, yang penting bukan apa yang terjadi, namun mengolah apa yang terjadi menjadi bahan-bahan pertumbuhan kemudian.

Sebagaimana kolam tenang secara alami membantu bunga lotus mekar indah, orang-orang yang percakapan di dalamnya selalu indah secara alami juga bisa melihat kebaikan di luar sana. Kepada banyak remaja sering dibagikan pesan begini: “Mata Anda akan bertumbuh menjadi mata yang indah, kalau setiap hari melihat hal indah dalam diri orang lain”. Dari sinilah lahir orang-orang yang menemukan kebahagiaan dengan cara menyanyikan kebaikan, bukan menyerang yang buruk-buruk. Dari sini juga manusia mulai menyirami benih-benih indah di dalam diri. Dari sini juga para sahabat mulai mengirim benih-benih cahaya ke masa depan. Yang terpenting, inilah benih-benih kejiwaan yang sangat sehat.

Menyerap keindahan, membagikan kebaikan

Belajar dari rangkaian cerita seperti inilah, keluarga spiritual Compassion terus menerus mengajak masyarakat di Bali khususnya, di media sosial umumnya, untuk menyanyikan keindahan. Tidak saja dalam makna simbolik, namun juga dalam makna yang sebenarnya. Itu sebabnya, di setiap perjumpaan para sahabat diajak untuk bernyanyi. Dari menyanyikan lagu anak-anak, sampai menyanyikan lagu dengan kenangan indah. Lagu anak-anak membawa spirit kepolosan dan sukacita. Lagu dengan kenangan indah membawa spirit-spirit keindahan.

Logika spiritualnya seperti ini. Manusia yang terserap dalam keindahan, terutama dengan cara selalu melihat sisi-sisi indah setiap kekinian, sesungguhnya ia sedang membawa energi alam ke dalam. Sejumlah penelitian di Barat membuka rahasia, menghabiskan lebih banyak waktu di alam terbuka, bersama rasa terimakasih dan rasa syukur mendalam, membuat hormon-hormon stres di otak menurun drastis. Sekaligus hormon-hormon otak yang bertugas untuk tugas-tugas kesembuhan menaik secara sangat meyakinkan. Di wilayah-wilayah biru di muka bumi seperti pulau Okinawa Jepang, di mana ditemukan banyak manusia berumur sangat tua sekaligus sehat walafiat terbuka rahasia, mereka sering berada di alam terbuka, memakan makanan yang langsung dari alam, serta mensyukuri kehidupan secara mendalam.

Kesimpulannya, ia yang menyerap energi di alam melalui spirit keindahan bisa mengisi kekurangan energinya di dalam. Sebagaimana taman indah mengundang kupu-kupu indah, energi di dalam yang berlimpah juga secara alami menghadirkan kerinduan untuk berbagi energi melalui cinta kasih dalam tindakan. Kombinasi antara keindahan di dalam dengan keseharian yang diisi cinta kasih dalam tindakan, inilah yang disebut oleh manuskrip Celestine sebagai puncak pencapaian. Sesampai di sini, para sahabat akan sering mendengar pesan seperti ini di alam: “Anda tidak memerlukan tujuan. Anda adalah tujuan”. Manusia jenis ini memang sangat sedikit. Namun seperti matahari. Di alam ini matahari memang hanya satu. Tapi dari matahari yang satu itulah, banyak kegelapan diterangi. Makanya tetua Bali menyebut matahari dengan sebutan Shiva Raditya.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.