Kesembuhan

Rumah Tua Keseimbangan

Ditulis oleh Gede Prama

Organisasi kesehatan dunia WHO telah lama meramalkan, sejak tahun 2020 sakit mental akan lebih membebani dunia dibandingkan dengan sakit fisik. Tanda-tanda seperti itu terlihat sangat jelas. Di sesi-sesi meditasi sering terdengar cerita, ada banyak anak muda yang keburu wafat sebelum sempat diterangi cahaya. Tidak sedikit orang tua yang mestinya dirawat anak-anak, malah masih merawat anak-anak mereka karena sakit mental. Nyaris di setiap sesi meditasi ada permintaan agar diizinkan bercerai serta pindah agama. Istri bentrok sama Ibu mertua. Ada yang bahkan siap-siap bercerai dengan suami (istri) yang ke sekian. Sedih tentu saja.

Untuk membantu para sahabat agar sehat dan selamat, sejujurnya kehidupan yang sepenuhnya bebas dari masalah tidak ada. Bahkan jiwa-jiwa suci pun harus melewati masalah, sebagai ongkos hidup di sini di muka bumi. Dan spiritualitas ada di muka bumi, untuk membantu para sahabat agar bisa mengolah masalah menjadi bunga indah. Persisnya, bunga indah kedamaian. Saran yang sering dibagikan, jalani masalah keseharian seperti ombak yang berkejaran ke pinggir pantai. Sesuatu yang sangat alami. Kegagalan mirip ombak kecil. Kesuksesan serupa ombak besar. Dan keduanya datang silih berganti.

Agar ombak-ombak itu tidak membuat seseorang roboh, sangat penting untuk mengingatkan diri lagi dan lagi, rumah tuanya jiwa bernama keseimbangan. Seperti keseimbangan naik sepeda, keseimbangan sebagai rumah tuanya jiwa juga dinamis. Ia bergerak dari waktu ke waktu. Setelah perang dunia pertama di tahun 1940-an, susu adalah menu makan yang utama. Makanya di zaman orde baru ada istilah empat sehat lima sempurna. Susu menjadi nutrisi yang sempurna. Namun sekarang, ada daftar panjang dokter yang sangat anti susu. Bahkan ada dokter yang menyebutkan, susu bertanggungjawab pada banyaknya penyakit yang tidak bisa dijelaskan asal-usulnya.

Ini baru menyangkut keseimbangan dinamis dalam tubuh fisik, belum berbicara tubuh mental dan spiritual. Untuk kepentingan praktis, penting sekali membuka kembali catatan diri sejak kecil. Meminjam pesan sebuah buku suci: “Pengetahuan tentang diri adalah raja dari segala pengetahuan”. Undangannya, coba buka lagi catatan hidup sejak kecil. Ada banyak informasi yang disimpan di sana. Di Barat di mana kebanyakan manusia tumbuh di ruang tertutup, lengkap dengan pemanas ruangnya, sudah lama ditemukan sejumlah penelitian yang kesimpulannya seperti ini: “Menghabiskan waktu di alam terbuka mengurangi hormon-hormon stres di otak, serta meningkatkan kekebalan tubuh”.

Temuan ini sejujurnya adalah ajakan untuk kembali ke rumah tua bernama keseimbangan. Karena selama ribuan tahun orang Barat ada di ruang tertutup di dalam rumah, di dalam kantor, di dalam mobil, maka muncul ajakan agar tumbuh di ruang terbuka. Demikian juga dengan para sahabat yang latar belakangnya unik-unik. Teman-teman yang masa kecilnya sangat aktif – ada yang suka naik motor, sampai suka mendaki gunung – sangat disarankan untuk mengkonsumsi makanan yang lebih pasif seperti buah dan sayuran. Teman-teman jenis ini memerlukan pesan ini: “Plant makes you well-connected to the planet”. Tetumbuhan sangat membantu seseorang terhubung dengan bumi. Perhatikan ejaan plant (tetumbuhan) yang dekat sekali dengan ejaan planet.

Karena dunia bergerak demikian cepat dan dinamis itulah, yang mengundang munculnya ajakan untuk menjadi vegetarian di sana-sini. Intinya sederhana, energi yang sangat dinamis di dalam memerlukan penyeimbang nutrisi yang sedikit lebih pasif. Terutama karena tetumbuhan mengolah energi di alam dengan cara yang sangat pasif. Tatkala kombinasi aktif dan pasif bisa ditemukan di dalam secara lebih seimbang, di sana ada kemungkinan terbukanya pintu kesembuhan, kebahagiaan dan kedamaian.

Namun sebagian sahabat yang lain masa kecilnya cenderung pasif. Dari suka tinggal di rumah, menjadi ibu rumah tangga, jarang bepergian, sampai dibatasi oleh norma dan etika. Perjalanan menuju titik keseimbangan manusia jenis ini lain lagi. Mereka memerlukan lebih banyak energi yang aktif. Dengan tetap menghormati ajaran spiritual yang mengutamakan vegetarian atau ahimsa (tidak menyakiti), kelompok sahabat jenis ini lebih memerlukan nutrisi hewani. Terutama karena hewan menyerap energi di alam dengan cara yang jauh lebih aktif dibandingkan tetumbuhan. Lagi-lagi titik yang mau dituju bernama keseimbangan.

Hal yang sama juga terjadi dengan manusia yang sangat ketagihan dengan gula. Yang sesungguhnya terjadi, masa lalu seseorang yang banyak pahitnya membuat tubuh memunculkan kerinduan akan rasa manis. Masa lalu yang serba kekurangan membuat tubuh memunculkan kerinduan akan makan berlebihan. Jika yang pertama dijemput penyakit gula, yang kedua dijemput oleh obesitas (kegemukan). Keduanya sama-sama mematikan. Keduanya sedang berbagi rahasia, boleh saja meninggalkan rasa pahit, atau rasa kekurangan, namun selalu ingat yang dituju adalah titik keseimbangan. Dan keseimbangan ada di wilayah tengah.

Hal yang sama juga terjadi dengan manusia yang sangat lapar akan pengakuan, sangat haus akan pujian. Jika tidak membekali diri dengan kompas keseimbangan, maka manusia jenis ini pun akan dijemput penyakit berbahaya. Ajakannya pada para sahabat, sejak awal belajar peka dengan tanda-tanda di dalam tubuh. Sejalan dengan menurunnya vibrasi buku suci yang berumur sangat tua, sudah saatnya untuk belajar membaca buku suci di dalam diri. Maksudnya membaca pesan-pesan yang muncul dari dalam. Untuk tujuan kesembuhan, kuantitas dan kualitas tidur, lancar tidaknya buang air, kekebalan tubuh, kestabilan emosi, sering tidaknya merasa lelah dan gelisah, adalah sebagian hal yang layak dicermati sehari-hari.

Untuk tujuan kedamaian, apa dan siapa yang sering mendekati seseorang dalam waktu lama, sebaiknya dicermati. Anda yang didekati burung, kembangkan sukacita. Sahabat yang suka bunga, latih untuk tumbuh dalam keindahan. Remaja putri yang suka pria pendiam, jiwa rindu keheningan. Remaja putra yang suka wanita bermata sayu, jiwa rindu kelembutan. Pria sudah bercucu namun energi seksnya masih tinggi, jiwa rindu kebersatuan. Wanita tua yang resah tinggal di rumah, sekali-sekali jalan-jalan mengunjungi cucu. Mengulangi pesan sebelumnya, agar tidak kebablasan, ingat selalu titik yang dituju adalah rumah tua bernama keseimbangan. Sebagai pedoman untuk mengukur kualitas kedamaian, endapkan pesan ini dalam-dalam: “Jika banyak yang terlihat salah, itu tanda jiwa masih terbakar. Bila yang terlihat salah adalah cara memandang, jiwa mulai belajar. Kapan saja tidak ada yang terlihat salah, semua sempurna apa adanya, itu tanda jiwa sudah mekar”.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.