Kesembuhan

Kecerdasan Yang Hilang

Ditulis oleh Gede Prama

“Setiap kali melihat dan mendengar sesuatu, kenapa yang muncul duluan lebih banyak pikiran negatif seperti takut?”, demikian banyak sahabat bertanya di sesi meditasi. Sejujurnya, pertanyaan tidak saja bercerita kalau seseorang rindu jawaban. Pertanyaan juga bercerita tentang alam bawah sadar yang bersangkutan. Sedikit yang menyadari, seperti lumpur yang mengundang datangnya cacing, alam bawah sadar yang penuh ketakutan akan mengundang datangnya penderitaan. Suka tidak suka, demikianlah putaran zaman. Manusia mengundang datangnya lebih banyak penderitaan melalui ketakutan.

Ada beberapa kemungkinan yang ada di balik kuatnya pengaruh ketakutan. Pertama-tama ada mekanisme perlindungan diri di otak. Pikiran negatif lengkap dengan rasa takut dan curiganya, adalah salah satu cara otak melindungi tubuh manusia. Kedua, dalam kurun waktu lama sejak zaman purba kehidupan di muka bumi memang penuh tantangan. Memori kolektif tentang kehidupan yang berat itu masih tersisa di otak manusia. Ketiga, sulit dipungkiri rasa percaya diantara sesama manusia sudah sangat menurun. Di beberapa bagian dunia seperti Rusia, orang tua sudah mencuci otak anak-anak dengan pesan seperti ini: “Jangan percaya siapa-siapa. Belajar hanya percaya pada diri sendiri”.

Sedihnya, cara hidup yang penuh ketakutan itu ikut mencipta wajah kehidupan kemudian. “Changing frequency is changing reality”, begitu bunyi temuan di bidang energi spiritual. Tatkala manusia mengubah frekwensi di dalam dirinya, realitas di sekitarnya juga ikut berubah. Seorang sahabat yang telah pensiun bercerita. Awalnya tinggal di desa dikira akan penuh kedamaian. Ternyata tidak selalu. Setiap malam di depan rumah ada anak muda berkelahi karena mabuk. Menjelang istirahat siang, tidak jarang ada manusia ribut karena berjudi sabung ayam. Belum lagi suara sound system dari segala penjuru, mercon beterbangan di hari raya. Meninggalkan kota yang riuh, dapatnya desa yang jauh lebih riuh.

Perubahan yang elegan

Belajar dari seorang Guru zen yang memilih bertumbuh di gang kumuh di kota New York, yang berisi banyak anak muda yang mabuk, berkelahi, sebagian bahkan bunuh-bunuhan menggunakan pistol, sahabat ini kemudian menerapkan ilmu “mengubah frekwensi, mengubah realitas alam sekitar”. Pertama-tama yang diubah tentu saja pikiran. Orang kota adalah orang kota. Orang desa adalah orang desa. Seperti kamboja yang tumbuh di tanah kering, lotus yang tumbuh di lumpur basah. Keduanya berbeda. Dan keduanya bahagia apa adanya. Dengan bekal ini, anak muda yang berkelahi serta orang desa yang berjudi tidak diperkosa dengan ukuran-ukuran orang kota yang lebih santun. Orang desa ya orang desa. Orang kota ya orang kota.

Setelah mengubah pikiran, sahabat ini mengubah harapan. Tidak berharap orang lain yang mengerti dirinya. Sebaliknya, melatih diri untuk selalu mengerti orang lain. Orang desa tidak sekolah, tidak pernah merantau. Pada saat yang sama, mereka disuguhi tontonan televisi, telepon genggam, internet yang serba kota. Salah satu orang tua di desa mengeluh berat seperti ini: “Di zaman dulu, hanya matahari yang panas. Sekarang, bulan pun ikut panas”. Maksudnya, setiap bulan kantongnya panas harus membayar listrik, air, pulsa telepon, serta biaya hidup kota lainnya. Sementara sumber pendapatan mereka ada di desa. Yang tentu saja tidak mencukupi untuk mengikuti pola hidup kota yang jauh lebih mahal.

Berdasarkan peta pemahaman seperti ini, kemudian sahabat tadi belajar bertumbuh tanpa harapan. Bukan tanpa harapan yang mengarah pada bunuh diri, melainkan melihat lingkungan sekitar apa adanya. Tanpa kerangka salah-benar, buruk-baik sama sekali. Persis seperti mata anak-anak yang polos. Ketiga, setelah mengubah pikiran dan menyesuaikan harapan, pria yang mulai menua ini belajar menyatu dengan setiap kekinian. Dalam bahasa meditasi: “Present moment wonderful moment”. Saat ini adalah saat yang indah. Apa saja gerak kekinian, semuanya didekap dengan penuh senyuman. Dari baru bangun pagi, menyapu, menyirami tanaman, duduk meditasi, sampai tidur lagi di malam hari, semuanya ditemani senyuman.

Meminjam pesan tua di dunia meditasi, masa lalu telah berlalu, masa depan belum datang, satu-satunya hadiah kehidupan (the present) adalah saat ini. Ia yang menyatu sempurna dengan saat ini, tubuhnya memang masih bertumbuh dalam waktu historis yang mengenal tiga waktu (lalu, kini, nanti). Namun jiwanya sudah menyatu dengan waktu ultimate yang hanya mengenal saat ini. Dalam bahasa mudah dan gamblang, tujuan hanya diperlukan bagi ia yang masih jauh dari rumah. Namun tujuan tidak diperlukan oleh jiwa yang telah pulang ke rumah.

Bagi orang awam, manusia jenis ini dikira sangat pasif dan cenderung apatis. Tapi bagi jiwa-jiwa yang dalam, beginilah caranya mengubah realitas sekitar. Begitu seseorang di dalamnya bunga indah, maka lalat tidak akan tertarik mendekat. Ketika seseorang di dalam sepenuhnya damai, maka lingkungan super kacau di luar secara alami akan menjauh. Itu juga yang dialami oleh sahabat yang telah tujuh tahun pensiun kemudian tinggal di desa sebagaimana diceritakan di atas. Tanpa melapor ke polisi, tanpa melayangkan keluhan pada tetangga, anak-anak muda yang berkelahi setiap malam hilang, orang berjudi hilang, sound system apa lagi mercon juga hilang.

Sekaligus inilah pendekatan perubahan paling elegan di zaman ini. Lingkungan sekitar berubah bukan karena diubah. Lingkungan sekitar berubah karena seseorang di dalamnya bervibrasi secara sangat indah. Di atap bumi Tibet ada cerita legendaris seperti ini. Suatu hari ada raksasa yang datang mau memakan domba. Anehnya, dombanya tidak bisa dimakan raksasa. Ketika ditanyakan, masyarakat setempat bercerita, kalau raja mereka setiap hari bervibrasi di tingkat kedamaian yang sangat dalam.

Di abad ke delapan, di Universitas Nalanda India sana, pernah lahir Guru spiritual sangat mengagumkan bernama Acharya Shantidewa. Ketika beliau menerangkan kekosongan (kebijaksanaan), suaranya terdengar jelas di telinga orang-orang. Namun tubuhnya menghilang entah ke mana. Ini bisa terjadi karena beliau bervibrasi di tingkat keindahan yang jauh lebih tinggi dari tingkatan orang biasa. Sejujurnya, inilah jenis kecerdasan yang hilang. Di tengah derasnya pendidikan Barat, yang sangat sibuk memilih baik di atas buruk, repot membuang kesedihan serta lapar dengan kebahagiaan, manusia tidak saja kelelahan, tapi juga penuh ketakutan. Melalui kecerdasan tua jenis ini, manusia hanya menyaksikan. Persisnya, istirahat dalam keindahan. Anehnya, lingkungan sekitar berubah bukan karena diubah. Lingkungan sekitar berubah karena seseorang bervibrasi secara sangat indah.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.