Kesembuhan

Meracik Ramuan Untuk Jiwa

Ditulis oleh Gede Prama

Setelah perang dunia pertama di tahun 1940-an, susu adalah nutrisi favorit. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai nutrisi yang paling sempurna. Begitu memasuki tahun 2000-an ada banyak dokter medis yang sangat anti dengan susu. Ini bisa terjadi karena bioritme alam yang berubah, menuntut ramuan dan nutrisi yang juga berubah. Hal yang sama juga terjadi dengan ramuan untuk jiwa. Selama ribuan tahun manusia sangat diselamatkan oleh konsep Tuhan. Beberapa puluh tahun terakhir, muncul kumpulan manusia (tidak saja kaum ateis), yang sangat berjarak dengan konsep Tuhan. Salah seorang ahli biologi dari Universitas Oxford bahkan memberi judul bukunya God’s Delusion. Konsep Tuhan disebut sebagai hasil halusinasi banyak manusia.

Ramuan baru untuk generasi baru

Di tengah pilihan-pilihan yang demikian kontroversial, mesti ada yang berani meracik ulang ramuan untuk jiwa. Buku suci yang berumur tua tidak sepenuhnya salah. Namun ia datang dari kurun waktu yang sangat jauh, tatkala bioritme alam sangat berbeda. Sekaligus melewati fase penerjemahan yang panjang, lengkap dengan berbagai sumber penyimpangannya. Makanya salah seorang peneliti energi Cristie Marie Sheldon secara eksplisit menyebutkan kalau vibrasi energi buku suci tinggal 55 %. Dengan demikian, tanpa keberanian untuk meracik ulang ramuan yang pas untuk zaman ini, generasi baru akan bertumbuh menuju fase yang semakin gelap.

Itu sebabnya, sahabat-sahabat dekat di keluarga spiritual Compassion telah lama diajak untuk “istirahat” dari segala bentuk konflik di dalam. Salah-benar, buruk-baik, kotor-suci, gelap-cahaya adalah sebagian bentuk konflik di dalam, yang sebaiknya segera untuk diistirahatkan. Agar para sahabat lebih yakin serta lebih terbantu, di bagian awal sesi meditasi diberikan mantra Om Hreem. Makna sederhananya adalah seperti ini: “Saya melihat kebersatuan di balik semua dualitas”. Meminjam temuan di neuro-science (bidang otak manusia), dualitas lengkap dengan salah-benarnya, lebih terkait dengan cara otak mengerti realitas. Agar manusia mengerti siang, ia memerlukan malam. Agar seseorang kebahagiaannya mendalam, ia mesti melewati kesedihan. Dalam bahasa spiritualitas mendalam, semua yang disebut pikiran sebagai buruk-baik mewakili tarian kesempurnaan yang sama.

Melalui mantra Om Hreem, pertentangan di dalam dicoba diistirahatkan. Tidak saja mengurangi energi yang banyak bocor melalui pikiran, tapi juga mengajak para sahabat untuk terhubung dengan pusat energi. Begitu di dalam lebih tenang dan seimbang, para sahabat diajak untuk belajar memaafkan. Di Barat telah diteliti menggunakan mesin EEG yang mengukur gelombang otak manusia, penghalang terbesar untuk bertumbuh secara spiritual di zaman ini adalah kegagalan untuk memaafkan. Itu juga alasannya kenapa para sahabat diminta membayangkan luka jiwa dari masa kecil ke dalam bentuk bayi yang menangis. Menjadi pemaaf pada diri sendiri terlebih dahulu, kemudian belajar menjadi pemaaf pada orang lain. Sambil merenungkan dalam-dalam pesan ini: “Kita dilukai oleh orang tua, orang tua dilukai oleh nenek-kakek. Nenek-kakek dilukai oleh orang tua mereka. Begitulah mata rantai penderitaan di alam ini. Dan melalui memaafkan, kita sedang memutus mata rantai penderitaan ini, agar tidak dilanjutkan ke generasi berikutnya”.

Agar para sahabat lebih terbantu dalam hal ini, di tingkatan ke dua meditasi para sahabat diberikan mantra Om Sarvatva Namah. Terutama agar kulit telur diri yang kecil, yang membuat manusia sangat sulit untuk memaafkan bisa segera pecah. Secara lebih khusus karena memaafkan memang tidak mudah dan tidak sederhana. Sebagai bahan renungan, memaafkan bisa diekspresikan ke dalam tindakan menjumpai dan mendekap orang melukai, kalau seseorang di dalamnya sudah sangat kokoh. Jika para sahabat di dalamnya masih tidak nyaman, lebih-lebih luka jiwanya masih sangat dalam, memaafkan cukup dibekali oleh pemahaman mendalam saja. Di balik luka jiwa yang mereka timbulkan bukan kejahatan, namun penderitaan yang tertahankan. Orang melukai mengalami penderitaan yang jauh lebih hebat. Bisa orang tua yang bermasalah, bisa masa kecil yang penuh musibah, sampai kelanjutan karma buruk yang berasal dari kehidupan sebelumnya.

Cahaya cinta kasih

Kapan saja di dalam terasa lebih tenang dan stabil, belajar menyempurnakan perjalanan jiwa dengan membadankan energi ayah dari atas, serta energi ibu dari bawah. Energi ayah dalam bentuk cahaya putih menyatu dengan energi ibu dalam bentuk cahaya merah. Ketika keduanya berjumpa di ulu hati (chakra ke empat), keduanya berubah menjadi cahaya berwarna merah muda (pink) berbentuk cinta kasih (love) yang sangat lembut dan halus. Di titik inilah para sahabat memerlukan mantra Aham Brahmasmi. Diri yang kecil (bhuana alit) dan diri yang agung (bhuana agung) tidak lagi terpisah menjadi dua. Keduanya menyatu dalam energi cinta kasih. Pelan perlahan energi cinta kasih ini dipancarkan dari ruang yang kecil seperti setiap sel di tubuh, sampai ke semua ruang yang ada di alam. Di saat memancarkan cahaya cinta kasih ini, para sahabat diundang untuk melafalkan mantra Aham Prema (saya cinta kasih yang ada di sini untuk berbagi cinta kasih).

Bagi para sahabat yang terhubung rapi di jalan cinta kasih, akan terjadi getaran-getaran sejuk lembut halus di dalam setiap kali melafalkan mantra Aham Prema. Seberapa sejuk dan lembut getaran ini, sangat ditentukan oleh keyakinan seseorang kepada Guru. Sahabat-sahabat dekat di keluarga Compassion, derajat keyakinannya berbeda-beda. Ada yang yakin karena berkali-kali telah melihat cahaya bersama Guru. Ada yang yakin karena sering menggigil menangis di dekat Guru. Ada yang yakin karena berkali-kali melihat pelangi di langit saat Guru berdoa. Ada yang yakin karena melihat dengan mata kepala sendiri, Guru sudah berkali-kali dilukai sama orang-orang namun satu kali pun tidak pernah mengambil langkah mendendam. Sebaliknya malah memilih menjauh bersama punggung yang bersahabat. Di jalan Compassion sudah ditulis lama: “Orang melukai adalah Guru yang menyamar. Mereka datang untuk menunjukkan ke orang-orang tentang keindahan hati kita”.

Sahabat yang berkah spiritualnya paling mendalam dalam hal ini, adalah ia yang keyakinannya sangat mendalam, kemudian membadankan rangkaian mantra ini juga dengan keyakinan yang sangat mendalam. Di bidang psikologi klasik ala Sigmund Freud, atau psikologi kognitif telah lama disimpan pesan, apa saja yang diucapkan berulang-ulang selama puluhan tahun di alam sadar, secara meyakinkan akan menerangi alam bawah sadar. Manakala alam bawah sadar sepenuhnya terang dengan cahaya cinta kasih, di sana ada kemungkinan perjalanan jiwa akan sehat dan selamat. Akibatnya, tidak saja yang bersangkutan perjalanan jiwanya selamat, orang-orang sekitar juga ikut selamat dan terangkat.

Mahatma Gandhi adalah contoh bercahaya dalam hal ini. Ketika tubuh beliau terkena peluru panas, yang muncul pertama di pikiran beliau bukan marah dan dendam, melainkan wajah indah Tuhan. Sudah dicatat rapi oleh sejarah, ketika tubuh Gandhiji roboh oleh peluru, di detik itu juga jiwa yang agung ini melafalkan mantra: “Shri Ram, Shri Ram, Shri Ram”. Itu cara orang India kuno memanggil nama Tuhan. Sebuah tanda kuat kalau alam bawah sadar beliau telah terang benderang oleh cahaya spiritual. Dan lihat, puluhan tahun setelah peristiwa itu terjadi cahaya Mahatma Gandhi masih terang benderang menerangi dunia.

Jika saja di detik-detik kematian para sahabat ingat dengan mantra Aham Prema, kemungkinan selamatnya akan sangat tinggi. Terutama karena yang ditransfer dari satu tubuh ke tubuh lain saat kematian adalah energi kebiasaan. Jika seseorang di dalamnya kupu-kupu indah, secara alami ia akan mencari taman bunga yang indah. Bila para sahabat di dalamnya ringan tanpa beban, secara alami ia akan bergerak naik seringan asap dupa. Seumpama manusia wafat ditemani energi cinta kasih, ia akan diangkat naik oleh energi cinta kasih. Setidak-tidaknya akan terlahir menjadi manusia yang jauh lebih bermakna. Terlahir di tempat dan waktu yang ada ajaran suci, di keluarga yang berkecukupan, tertarik belajar ajaran suci, serta ikut menyebarkan ajaran suci. Dan yang terpenting adalah berjumpa Guru sejati.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.