Kesembuhan

Pemimpin Yang Menyejukkan

Ditulis oleh Gede Prama

Di dunia para shaman, alam penuh dengan tanda-tanda cahaya. Ketika belum ada agama resmi sebagaimana sekarang, tetua di zaman dulu juga meninggalkan catatan tentang ajaran-ajaran suci juga di alam terbuka. Sebagaimana terlihat terang benderang di tanah Jawa dan Bali, serta masih tersisa sampai sekarang, tetua pernah mewariskan ajaran kepemimpinan yang menyelamatkan sekaligus menyejukkan. Di banyak kota di Jawa, demikian juga yang terlihat di Bali, di pusat kota masih tersisa empat tanda indah. Pertama, ada lapangan luas. Kedua, di sana dibangun tempat suci. Ketiga, tidak jauh dari situ ada pohon beringin tua yang menyejukkan. Keempat, di sana juga tempat para pemimpin bermukim.

Di Bali, tempat itu terlihat terang benderang di perempatan Catur Muka Denpasar. Lapangan luas adalah undangan untuk para pemimpin dan tokoh masyarakat, agar memiliki pikiran yang luas. Tidak sempit, apa lagi picik. Meminjam pidato salah satu mantan presiden AS di zaman dulu: “Saya memang dicalonkan jadi pemimpin oleh sebuah partai, tapi saya dipilih untuk melayani sebuah bangsa”. Dengan kata lain, begitu seseorang terpilih menjadi pemimpin, ia tidak lagi menjadi milik partainya, namun mulai menjadi milik rakyat yang ia pimpin. Dan di zaman yang sangat terbuka ini, kesalahan kecil seorang pemimpin bisa dibicarakan secara sangat luas. Namun tindakan-tindakan besar pemimpin bisa tidak dihiraukan orang.

Suka tidak suka, demikianlah zamannya. Oleh karena itulah, keluasan dan keluwesan pikiran seorang pemimpin menjadi sangat diperlukan. Perlambang alam yang membantu dalam hal ini adalah air. Edward de Bono menyebutnya logika air. Ia jauh dari kaku. Jauh juga dari kebenaran yang membatu. “Belajar mengenakan sepatu orang lain”, itu bunyi sebuah pesan tua. Maknanya, agar pikiran cair mengalir, latih diri untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Bagi tukang taman, rumput liar itu mengganggu. Namun bagi kelinci, rumput liar itu makanan enak. Yang perlu diendapkan dalam-dalam, pikiran yang cair mengalir tidak sama dengan serba boleh. Ada yang tidak boleh tentu saja. Namun cara pengungkapannya sebaiknya halus dan lembut. Dan yang dilakukan tetua dalam hal ini sederhana, kalau tidak yakin akan menyejukkan, bungkus bibir dengan senyuman.

Tanda kedua berupa tempat suci lain lagi. Ia undangan bagi pemimpin dan tokoh masyarakat untuk memasuki dunia spiritual. Sahabat-sahabat yang lama duduk di kursi pemimpin mengerti, tidak semua hal bisa dimengerti dengan logika dan rasa. Guru besar dari MIT Donald Schon dalam mahakaryanya berjudul The Reflective Practioners menyebutnya dengan tacit knowlegde (pengetahuan yang tidak bisa diungkapkan dengan logika dan rasa). Di dunia spiritual mendalam disebut alam rahasia yang bisa muncul dengan berbagai wajah. Tidak mudah menjelaskan hal ini pada publik pemula, yang jelas pemimpin mana pun yang mendalami spiritualitas akan terbimbing rapi di sepanjang perjalanan.

YM Dalai Lama adalah sebuah contoh indah dalam hal ini. Beliau memang kehilangan negerinya Tibet di usia 15 tahun, namun banyak pihak di dunia menyimpulkan seperti ini: “HH Dalai Lama is suffering to Tibet, but blessing to the world”. Beliau adalah simbol penderitaan bagi Tibet, namun berkah indah bagi dunia. Karena negerinya diambil orang, maka cahaya beliau bisa menerangi dunia. Mahatma Gandhi adalah contoh pemimpin lain yang mendalami spiritualitas. Ketika jutaan orang sudah siap mendukung Gandhiji untuk demonstrasi menentang penjajah Inggris soal garam, beliau malah duduk meditasi lama sekali. Ketika ditanya kenapa, dengan tersenyum pria tidak berambut ini menjawab: “Tidak boleh ada kemarahan dalam setiap perjuangan”. Ujungnya sudah dicatat sejarah, tentara terkuat di dunia ketika itu harus angkat kaki dari India bukan karena senjata. Tapi diusir oleh kekuatan cinta. Persisnya, cinta sangat mendalam pada India. Saat Nelson Mandela meninggalkan penjara tempat beliau ditahan selama 27 tahun, dengan terang beliau berpesan: “Kalau saya tidak memaafkan, tubuh saya memang sudah keluar dari penjara. Namun pikiran saya akan terus menerus ada di dalam penjara kebencian dan kemarahan”.

Perlambang ketiga dalam bentuk pohon beringin jelas sekali berisi undangan agar para pemimpin dan tokoh masyarakat selalu menyejukkan. Di pohon beringin, apa saja dan siapa saja yang berteduh di sana pasti sejuk. Di psikologi telah lama dibagikan, hanya ia yang penuh kesejukan di dalam yang bisa berbagi kesejukan ke luar. Konkritnya, hanya ia yang penuh penerimaan di dalam yang bisa memiliki taman jiwa penuh kesejukan di dalam. Untuk direnungkan bersama, semua manusia punya kekurangan dan ketidaksempurnaan. Agar sejuk di dalam, lihat kekurangan seperti tukang taman melihat daun kering. Asal diletakkan di bawah pohon bunga rasa syukur, daun kering kekurangan akan berevolusi menjadi bunga indah kedamaian. Kedamaian di dalam inilah yang membuat seorang pemimpin mirip pohon beringin. Semua makhluk yang berteduh di sana jadi sejuk.

Di dunia meditasi telah lama terdengar pesan seperti ini: “Self-acceptance is a beautiful inner sunrise”. Begitu seseorang bisa menerima diri dan hidupnya apa adanya, ada matahari indah yang terbit di dalam diri. Begitu matahari jenis ini memancar lama di dalam, persoalan waktu ia juga akan memancar ke luar dalam bentuk karisma. Dalam cerita Nelson Mandela, Bunda Teresa dan Mahatma Gandhi, cahaya itu malah masih memancar terang jauh setelah tubuh beliau dibawa pergi oleh kematian. YM Dalai Lama memang kehilangan negeri beliau, tapi beliau mendapatkan kesempatan luas untuk menerangi dunia. Di berbagai kesempatan, berkali-kali beliau berpesan: “Kindness is my true religion”. Kebaikan, itulah agama beliau yang sesungguhnya.

Perlambang keempat berupa rumah pemimpin sedang berbisik pelan namun terang, di sanalah pemimpin dan tokoh masyarakat sebaiknya bermukim. Maksudnya, rumah spiritual seorang pemimpin adalah pikiran yang luas, jiwa yang diterangi spiritualitas, serta keseharian yang selalu menyejukkan. Tidak mudah menemukan pemimpin jenis ini di zaman ini. Namun generasi baru bisa mempersiapkan diri sejak dini. Sebagai bahan renungan, bom dulunya diciptakan untuk membantu pemerintah khususnya untuk merontokkan bukit-bukit berbatu agar bisa membangun jalan. Tidak kebayang kalau belakangan bom digunakan teroris untuk menghabisi banyak nyawa manusia.

Tantangan ke depan lebih berat lagi, tidak kebayang apa yang akan terjadi kalau para teroris menggunakan teknologi rekayasa genetika serta kecerdasan buatan (artificial intelligence) sebagai kekuatan penghancur. Daya hancurnya akan berlipat-lipat lebih hebat dari bom teroris yang sangat ditakuti zaman ini. Tantangan ke depan yang kompleks dan rumit itulah yang sebaiknya digunakan generasi baru untuk melatih diri. Mengacu pada peninggalan tetua di atas, latih pikiran agar jauh dari picik dan sempit. Sebaliknya, miliki pikiran yang luas. Seawal mungkin masuki dunia siritualitas seperti meditasi, yoga dan doa. Latih diri agar selalu sejuk di dalam sekaligus di luar.

Untuk mengundang generasi baru memasuki wilayah spiritualitas seperti inilah, maka keluarga spiritual Compassion jumat 12 oktober 2018 ini, bertepatan dengan perenungan 16 tahun bom Bali, akan berbagi ribuan post cards indah, baik berbahasa Inggris maupun Indonesia, di seluruh Bali. Dan kegiatan dimulai serta diakhiri di perempatan Catur Muka Denpasar. Ada barisan wanita-wanita cantik yang akan berdiri rapi di perempatan Catur Muka selama sehari di tanggal 12 oktober 2018 ini. Hanya untuk mengingatkan pada generasi muda Bali khususnya, tantangan ke depan memang lebih berat dan kompleks. Namun Anda bisa mempersiapkan diri sejak dini. Terutama agar Bali tetap lestari menjadi lentera kedamaian bagi dunia.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.