Kesembuhan Spiritualitas

Berdansa Dengan Luka Jiwa

Ditulis oleh Gede Prama

“Disabotase oleh luka jiwa”, itulah ciri dominan jiwa-jiwa resah dan gelisah. Maksudnya, pertumbuhan jiwa terhalang karena seseorang dipenjara oleh luka jiwa. Karena pernah ditipu uang dalam jumlah besar, seorang kawan kemudian sangat trauma dengan dunia dagang. Ia memilih untuk hidup sangat sederhana, sementara anak-anak bertumbuh memerlukan biaya yang semakin besar. Karena mengalami pelecehan seksual di masa kecil, seorang wanita memutuskan tidak menikah serta memandang semua pria dengan penuh curiga. Karena ibunya wafat ketika ia masih kecil, seorang pria mencari sosok Ibu dalam diri banyak wanita. Begitu ia melihat wanita dengan penampilan keibuan, ia mudah sekali jatuh cinta.

Itulah sebagian contoh manusia yang hidupnya disabotase oleh luka jiwa. Nyaris semua benih-benih pertumbuhan di dalam mati dan layu. Tidak sedikit sahabat yang bercerita kalau ia mengalami banyak ketidakberuntungan. Dari sulit cari rezeki, dijerat utang, keluarga terbakar, sampai dengan sering mendengarkan bisikan bunuh diri. Itulah sebagian tanda-tanda berbahaya dari kehidupan yang disabotase oleh luka jiwa. Di sesi-sesi meditasi sering kelihatan, sebagian sahabat bahkan nyawanya diancam oleh berbagai penyakit berbahaya. Segelintir sahabat bahkan gagal diselamatkan. Terutama karena luka jiwanya demikian kerasnya menggenggam. Di titik inilah, para sahabat memerlukan keberanian spiritual. Persisnya, menjadi penyelamat bagi diri sendiri. Kemudian ada kemungkinan untuk bisa menyelamatkan orang lain.

Papan selancar bernama senyuman

Meminjam temuan di psikologi klasik ala Sigmund Freud, atau psikologi kognitif, perasaan tertekan yang gagal terekspresikan akan terlempar ke tong sampah alam bawah sadar, jika tidak disembuhkan akan menjadi bayangan yang mengikuti ke mana saja seseorang pergi. Ia bisa muncul dalam bentuk pikiran dan perasaan yang tidak aman dan tidak nyaman. Yang sangat berbahaya, kalau bayangan itu mengikuti di saat kematian. Energi itulah yang membuat seseorang mungkin terlahir di alam bawah seperti neraka, setan dan binatang. Keadaan ini tidak menyisakan pilihan lain, terkecuali mari segera belajar menyembuhkan diri. Murid-murid psikolog Carl Jung sering menyebut jalan setapak berupa berdansa dengan bayangan. Intinya, bayangan itu jangan ditakuti, jangan diajak berkelahi, jangan diberi judul dosa dan neraka, jangan izinkan ia menentukan arah kehidupan. Sebaliknya ajak ia berdansa. Seindah berdansa dengan orang yang dicintai ketika ada pesta.

Sebagai pedoman kuat dan kokoh dalam hal ini, belajar melihat diri dan kehidupan secara lebih holistik dan utuh. Simbol paling universal dalam hal ini lingkaran Yin-Yang dari China. Selalu ada sisi gelap dan terang. Dalam ruang terang ada titik gelap, dalam ruang gelap ada titik cahaya. Keduanya tidak bertempur, namun bergerak dinamis saling melengkapi. Di Bali tetua memberi sebutan jiwa manusia dengan dewa ya kala ya. Artinya ada gelap dan terang di dalam. Nasehat tetua Bali jelas sekali: “Rwa bhinedane tampi”. Dualitas seperti salah-benar, duka-suka, sedih senang adalah sepasang tangan dari tubuh jiwa yang sama. Belajar menerimanya seperti kolam menerima lumpur kotor dan bunga lotus indah. Di sesi-sesi meditasi, pendekatan ini sangat ditekankan. Terutama karena akan menjadi dasar yang kokoh agar seseorang bisa berdansa dengan luka jiwa kemudian.

Langkah praktisnya, latih pikiran agar luwes dan lentur seperti air. Sampah di hari ini akan menjadi bunga indah di hari lain. Kesedihan di suatu waktu akan membuat kebahagiaan jadi sangat dalam di waktu lain. Orang yang memaki di sebuah tempat bisa memuji di tempat yang lain. Di mana seseorang mengambil banyak kebahagiaan, di sana juga ia akan membayarnya dengan kesedihan. Seperti lautan, di dalam selalu ada gelombang. Bahkan Buddha pun mimik mukanya sedikit berubah ketika diserang orang. Yang dilakukan oleh jiwa-jiwa yang dalam sederhana, berselancar di atas gelombang. Dan papan selancar paling meyakinkan adalah senyuman. Persisnya, tersenyum pada setiap berkah kekinian. Entah pikiran menyebutnya salah atau benar, dekap semuanya dengan senyuman.

Di lapangan sering terlihat, langkah meditasi saja jauh dari cukup. Orang juga memerlukan langkah-langkah psikologis. Salah satu ciri manusia yang disabotase sangat kuat oleh luka jiwa, di dalam ada victim energy (energi yang menyebut diri sebagai korban) yang kuat sekali. Energi ini sering meminjam berbagai wajah – dari orang melukai sampai orang mencaci, yang membuat seseorang bertengkar di dalam. Pertengkarannya tidak jauh-jauh dari topik seperti ini: “Saya benar orang salah, saya baik orang jahat, saya terluka dan orang melukai tidak peka”. Seperti api yang sedang terbakar, jika dilayani terus menerus percakapan di dalam seperti ini, lebih-lebih sering diungkapkan ke orang lain dalam bentuk curhat, energi berbahaya ini akan semakin membesar. Bukan tidak mungkin suatu hari akan membakar.

Pembawa cahaya fajar

Agar energi sebagai korban ini melemah dari hari ke hari, setiap kali ia muncul di dalam, lihat diri di dalam sebagai sebuah lingkaran Yin-Yang. Sisi gelap yang suka mengeluh, sisi terang yang suka tertawa, keduanya bagian dari diri yang sama. Ia akan senantiasa berputar sesederhana malam berputar bergantian dengan siang. Bagi ia yang masih disabotase sangat kuat oleh luka jiwa, tumpukan energi negatif di dalam seperti suka menyerang, mengkritik, menyalahkan, mengeluh, memerlukan banyak energi positif sebagai penyeimbang. Untuk itu, jika ada waktu luang bikin daftar panjang hal-hal indah yang pernah dilakukan. Dari pernah jadi kepala kelas ketika di sekolah, pernah menang main layang-layang ketika kecil, sampai pernah juara olah raga. Bikin juga daftar panjang orang-orang baik yang sangat peduli dengan hidup Anda.

Letakkan dua daftar panjang ini di tempat di mana Anda sering bertumbuh. Entah di sebelah tempat tidur, dekat meja kerja, tampilkan di layar depan komputer, disimpan di gadget, atau tempel dekat kloset bagi ia yang sering duduk lama di kloset. Lebih sering ia dibaca lebih bagus. Dulunya saran ini hanya muncul di manajemen stres, sekarang peneliti kanker pun menyarankan hal ini. Yakni menghabiskan lebih banyak waktu di alam terbuka. Sahabat-sahabat yang menghabiskan waktu puluhan tahun bertaman mengerti, ada energi kesembuhan luar biasa di sana, ada banyak rahasia spiritual yang disembunyikan. Lebih-lebih kalau berada di alam terbuka ditemani oleh rasa syukur dan rasa terimakasih yang sangat dalam. Daya sembuhnya lebih hebat, rahasia spiritual yang terbuka jauh lebih banyak.

Dalam kaca mata spiritual mendalam, orang yang disabotase oleh luka jiwa memiliki awan penghalang yang sangat gelap di chakra ke empat yakni ulu hati. Cirinya, memiliki kesulitan untuk mencintai. Pada saat yang sama energi benci dan iri mendominasi secara sangat kuat di dalam. Jika itu terjadi, segera belajar mencintai diri apa adanya. Sebagai bahan penguat, manusia yang tidak pernah salah tidak ada. Bahkan jiwa-jiwa suci pun memerlukan kesalahan di awal sebagai ruang untuk bertumbuh. Untuk itu, belajar menjadi lebih pemaaf pada diri sendiri. Bagi sahabat-sahabat peka yang bertumbuh di tengah lingkungan yang banyak menimbulkan luka, berkomunikasilah dengan orang sekitar dengan pendekatan “I message” bukannya “You message”. Konkritnya, ketika terluka, tarik nafas lebih dalam, temukan lingkungan terbuka yang lebih bersahabat, begitu tenang di dalam, sampaikan pesan ke orang dekat yang melukai seperti ini: “Saya sangat terluka, mohon bantu saya menyembuhkan luka ini”. Pendekatan komunikasi ini menyembuhkan kedua belah pihak.

Kapan saja energi gelap dan energi terang di dalam sudah seimbang, di sana seseorang bisa berdansa dengan luka jiwa. Tandanya, ketika memori buruk dari masa lalu muncul, energi trauma ditipu orang muncul, seseorang bisa memeluknya sesederhana nenek sangat penyayang memeluk cucunya yang sedang menangis. Neneknya sangat bahagia, cucunya yang dipeluk juga sangat bahagia. Siapa saja yang bisa sampai di sini, jangankan tindakan dan ucapannya, bahkan tatapan matanya saja sudah menyejukkan. Di sesi-sesi meditasi sering terlihat, tidak sedikit sahabat yang menangis haru, hanya karena dilihat dengan mata yang penuh penerimaan. Di Barat, ada yang menyebut manusia jenis ini dengan sebutan bringers of the dawn. Pembawa cahaya fajar. Ia yang terlahir untuk menerangi banyak sekali kegelapan.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: The Shift Network.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.