Kesembuhan

Malaikat Indah Bernama Perasaan

Ditulis oleh Gede Prama

Di zaman dulu, orang yang terlalu banyak menggunakan perasaan sering disebut lemah. Bahkan ada yang menyebutnya cengeng. Sebaliknya, orang-orang yang bisa menahan dan menekan perasaan disebut kuat. Maklum, zaman dulu. Dan di zaman ini, di mana persentase orang yang sakit mental terus menaik, penghuni rumah sakit jiwa menaik, angka bunuh diri semakin tinggi bahkan di negara super kaya sekali pun, layak merenungkan ulang pengertian bahwa orang kuat adalah ia yang sering menekan perasaan. Di kelas-kelas meditasi sering terlihat, sahabat-sahabat yang menekan perasaan dalam waktu terlalu lama dikunjungi penyakit berbahaya seperti kanker. Bahkan ada yang pernah dirawat di rumah sakit jiwa. Ada yang menjadi pengguna narkoba. Sampai sering dikunjungi bisikan agar bunuh diri.

Untuk membantu para sahabat agar sehat dan selamat, coba jawab pertanyaan berikut ini sejujur-jujurnya di kertas yang sangat dirahasiakan. Dengan kata lain, hanya Anda sendiri yang tahu.

1. Anda mengalami kesulitan untuk diam kendati hanya beberapa menit
2. Anda merasa tidak nyaman dalam kesendirian
3. Tatkala sendiri Anda sering melontarkan kritik pada diri sendiri
4. Tidur Anda sering diganggu oleh mimpi buruk
5. Tanpa alasan jelas, Anda sering merasa haus dan minum air
6. Begitu percakapan tidak nyaman, Anda sering ganti topik pembicaraan
7. Tanpa disadari, Anda senang mendengar orang lain menderita
8. Kendati tahu salah, tiba-tiba Anda ikut membicarakan kekurangan orang
9. Ada rasa bahagia di dalam ketika mendengar orang melukai ternyata menderita
10. Tanpa aba-aba, Anda ikut mengkritik dan menyalahkan orang
11. Anda sering terganggu oleh berita yang penuh kekerasan
12. Berita-berita buruk sering terbawa masuk ke dalam mimpi
13. Anda sering merasa lelah
14. Anda sering merasa gelisah
15. Tanpa sebab yang terlalu terang, Anda tiba-tiba marah
Jika para sahabat menjawab ya pada sekurang-kurangnya 5 dari 15 pertanyaan di atas, itu tanda kalau seseorang cukup sering menekan perasaan. Bila teman-teman menjawab ya antara 6 sampai 10 dari 15 pertanyaan di atas, itu tanda kalau seseorang sudah terlalu sering menekan perasaan. Kalau kawan-kawan menjawab ya lebih dari 10 dari 15 pertanyaan di atas, itu tanda bahaya bahwa seseorang sudah sangat tertekan. Tanpa perbaikan yang berarti, perjalanan jiwa bisa sangat berbahaya.

Sebelum perjalanan berikutnya menjadi berbahaya, mari merenungkan keindahan perasaan. Kemudian menggunakan perasaan tidak saja sebagai kompas penunjuk arah perjalanan, tapi juga menggunakan perasaan sebagai malaikat penyelamat yang sangat indah.

Luka jiwa sebagai pembawa Cahaya

Dalam kehidupan jiwa-jiwa berbahaya, luka jiwa seperti pelecehan seksual di masa kecil atau orang tua yang bubar, terus menerus mengikuti, serta mendikte keputusan-keputusan penting dalam kehidupan. Tidak sedikit wanita yang mengalami pelecehan seksual di masa kecil, kemudian sangat dingin ketika berjumpa pria. Tidak sedikit pria yang kehilangan Ibu ketika masih kecil, kemudian mudah jatuh cinta pada wanita yang berpenampilan dewasa. Inilah yang disebut wound driven life. Kehidupan dikendalikan sepenuhnya oleh luka jiwa. Kemudian bertumbuh dari satu bahaya ke bahaya yang lain.

Yang dilakukan jiwa-jiwa bercahaya lain lagi. Jangankan manusia biasa, bahkan jiwa suci pun harus mengalami luka jiwa sebagai bagian dari proses pendewasaan. Kemudian pelan perlahan, yang bersangkutan meletakkan luka jiwa bukan sebagai sumber bahaya, melainkan sebagai sumber cahaya. Persisnya, ambil pelajaran dari luka jiwa yang telah lewat. Kemudian melangkah dewasa menggunakan pelajaran tadi. Jika tahu tidak enaknya orang tua bercerai, jangan pernah bercerai. Bila tahu tidak enaknya disakiti, jangan pernah menyakiti. Akibatnya, cengkeraman luka jiwa semakin melemah. Pada saat yang sama seseorang menemukan arah yang indah. Ini yang disebut sebagai mission driven life. Luka jiwa tidak membawa bahaya, malah membuat seseorang menemukan misi hidupnya di sini di muka bumi.

Sebagai langkah konkret keseharian, belajar menerangi diri dengan cahaya kesadaran. Persisnya kesadaran penuh (mindfulness). Setiap kali memori buruk dari masa lalu berkunjung, sadari ia sebagai bagian dari diri Anda yang utuh. Tidak perlu menendang, tidak perlu melawan. Sebaliknya, ketika senang dan gembira, kurangi mengekspresikan diri secara berlebihan. Sambil ingat, ketika bandul perasaan terlalu ditarik ke kanan bersama rasa senang berlebihan. Persoalan waktu, ia akan balik ke kiri dalam bentuk rasa sedih yang juga berlebihan. Dan jalan setapak kesadaran penuh identik dengan selalu bertumbuh di tengah. Tidak terlalu sedih, tidak terlalu senang. Awalnya ada yang melawan, nanti lama-lama jadi biasa.

Berkawan dengan luka jiwa

“What you resist persist”, itu bunyi ungkapan tua di psikologi. Apa yang dilawan di dalam, akan melawan balik dengan kekuatan yang lebih besar. Untuk itu, jangan pernah bermusuhan dengan luka jiwa. Lebih-lebih menyebut luka jiwa dengan sebutan dosa dan neraka. Ia hanya akan membuat perjalanan jiwa semakin parah. Sebaliknya, belajar berkawan dengan luka jiwa. “Unpacking your wound”, demikian pesan seorang sahabat penyembuh di Barat. Maksudnya, seperti tas gendongan yang berisi banyak barang. Begitu berat, jangan buru-buru membuang semuanya. Sebagian isinya akan dibutuhkan kemudian. Pengalaman dilukai di masa kecil sebagai contoh, ia bisa menjadi bekal indah untuk merawat anak-anak agar lebih sedikit mengalami luka jiwa. Dipukuli oleh sahabat masa kecil sebagai contoh lain, ia bisa menjadi bahan untuk tumbuh semakin sejuk dan lembut.

Bagi kawan-kawan yang sering lelah, resah, gelisah apa lagi marah, cermati di mana luka jiwa bermukim di dalam tubuh. Jika sering sakit kepala, kurangi berpikir perbanyak mengalir. Bila mengalami gangguan jantung, sempurnakan cinta kasih. Seumpama sakit paru-paru atau pencernaan, latih diri untuk lebih terhubung melalui rasa syukur yang mendalam. Sahabat yang terkena hepatitis, kembangkan hati yang indah. Jika sakitnya dekat-dekat organ seks, itu tanda jiwa rindu pengalaman kebersatuan melalui yoga, meditasi, doa. Anda yang sering sakit di kaki, hati-hati melangkah dalam kehidupan. Jika para sahabat sering sakit di kerongkongan dan sekitar mulut, belajar berbicara yang lebih halus. Jika tidak yakin menyejukkan, sebaiknya bungkus bibir dengan senyuman.

“Division, wholeness, yes-ness”, itu salah satu tangga emas di jalan ini. Nyaris semua jiwa yang luka memulai perjalanan dengan perasaan yang terpisah. “Saya korban, orang yang melukai lawan”, itu salah satu wajah keterpisahan yang sering dipercakapkan di dalam oleh jiwa-jiwa yang luka. Agar sehat dan selamat, belajar bertumbuh dari keterpisahan menuju ke-u-Tuhan. Orang melukai dan dilukai tidak dua, melainkan satu. Maksudnya, keduanya ada di sini membawa pesan agar jiwa-jiwa tumbuh menuju kedewasaan. Meditasi melalui ketekunan untuk menyaksikan penuh senyuman, akan sangat membantu dalam transisi dari keterpisahan menuju ke-u-Tuhan. Kapan saja ke-u-Tuhan sudah membadan di dalam, di sana seseorang bisa bahagia dan damai dengan mengatakan “ya” pada setiap kekinian.

Di tingkatan inilah seseorang bisa tersenyum indah pada setiap memori buruk yang datang dari masa lalu. Itu sebuah tanda kalau luka jiwanya mulai kadaluwarsa (expired). Sehingga dengan mudah seseorang bisa membuangnya. Semudah membuang buah dan sayur yang sudah membusuk. Seringan membuang barang pabrikan yang masa berlakunya sudah lewat. Di saat seperti itulah, seseorang bisa mengucapkan selamat tinggal pada luka jiwa. Pada saat yang sama, yang bersangkutan mulai belajar menjadi pembawa Cahaya. Dan yang membimbing seseorang menuju ke sana adalah perasaan. Ringkasnya, perasaan bukan tanda jiwa yang lemah, namun kompasnya jiwa-jiwa yang indah.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo Courtesy: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.