Kesembuhan

Sehat Bercahaya Sampai Tua

Ditulis oleh Gede Prama

Jika Anda mengukur ikan dengan ukuran burung, mengukur burung dengan ukuran ikan, maka semua makhluk akan terlihat idiot”, itu salah satu peninggalan fisikawan besar Albert Einstein. Intinya, hidup dengan cara menjadi orang lain menghabiskan banyak sekali energi. Sedihnya, melalui proses pendidikan yang panjang, sosialisasi dan kulturalisasi yang juga panjang, sadar tidak sadar manusia sedang dibentuk untuk menjadi orang lain. Ujungnya mudah ditebak, di sana-sini terlihat banyak sekali jiwa-jiwa resah dan gelisah. Seorang sahabat yang kariernya menanjak bagus di sebuah bank besar bercerita kalau ia mengalami sakit kepala selama bertahun-tahun. Setelah ditanya masa lalunya, ternyata orang tuanya gagal menjadi pejabat bank, kemudian memaksa anaknya agar menjadi pejabat bank.

Inilah salah satu akar penting kegelisahan di zaman ini. Banyak manusia tidak tumbuh di tempat alaminya. Sebagai akibatnya, ia bernasib serupa pohon kamboja yang ditanam di lumpur basah. Mirip lotus yang ditanam di tanah kering. Tanpa perbaikan berarti, perjalanan jiwa akan sangat berbahaya. Ajakannya kemudian, mari belajar menyembuhkan diri. Terutama karena ketika Anda sembuh, tidak saja bisa menyembuhkan orang lain, tapi juga membuat perjalanan jiwa penuh makna sekaligus penuh cahaya. Serangkaian pencapaian yang sangat langka di zaman gelap ini.

Pertolongan pertama pada luka jiwa

Di banyak rumah ada kotak P3K (pertolongan pertama pada kecelakaan). Di sana berisi obat yang bisa menyembuhkan kalau tubuh tiba-tiba terluka. Yang bikin sedih, tidak ada kotak atau pedoman kalau tiba-tiba jiwa terluka. Padahal, jiwa terluka jauh lebih sering dibandingkan tubuh. Orang tua yang tidak dewasa, sekolah yang bermasalah, lingkungan pergaulan yang penuh kekerasan, rasa kesepian yang berkepanjangan, kegagalan di dunia pekerjaan, pasangan hidup yang tidak nyambung, anak-anak yang nakal, adalah sebagian sumber luka jiwa yang bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Tanpa bekal pertolongan pertama pada luka jiwa, banyak luka jiwa yang menumpuk di dalam akan muncul ke permukaan dalam bentuk penyakit berbahaya, atau kehidupan sangat berbahaya seperti bunuh diri.

Untuk membantu para sahabat agar sehat selamat, begitu di dalam terasa tidak enak saja, jangan menunggu sampai dibakar amarah, apa lagi menunggu sampai diserang kanker, cepat hadirkan energi positif sebagai kekuatan penyeimbang. Ia bisa berupa mendengarkan musik kesukaan, membaca buku inspiratif, mendatangi alam terbuka dengan pemandangan indah, atau mendatangi kawan dekat yang mudah menimbulkan tawa canda. Intinya, menghadirkan energi sukacita ke dalam diri. Langkah kedua, begitu agak tenang di dalam, bikin daftar panjang kemenangan yang pernah dicapai sejak kecil. Dari pernah menang main layang-layang ketika kecil, menang main bola ketika masih sekolah, pernah juara kelas, sampai karier yang menanjak. Ketiga, latih diri untuk melihat lingkungan sekitar dan kehidupan dari sisi-sisi berkah. Selalu ada sisi berkah bahkan di balik masalah.

Sahabat-sahabat yang pernah ikut sesi meditasi sering dibagikan, obat penyembuh yang sangat menyembuhkan bernama ketekunan untuk selalu terhubung dengan energi saat ini. Dualitas seperti salah-benar, buruk-baik, duka-suka yang menciptakan konflik panas di dalam, keduanya didekap seperti langit mendekap awan-awan. Semuanya mirip ombak yang datang dan pergi. Dan tugas meditasi mirip pantai, yang mengizinkan semua ombak datang dan pergi secara alami. Agar tubuh menjadi sahabat pertumbuhan, ingat selalu untuk merawat tubuh dengan penuh keseimbangan. Seimbang antara diam dan bergerak. Seimbang antara di dalam dan di luar ruangan. Seimbang antara nutrisi hewani dengan nutrisi nabati. Seimbang antara kepentingan diri sendiri dan kepentingan orang lain.

Menemukan rumah indahnya jiwa

Agar tubuh bertumbuh menjadi rumah indahnya jiwa, penting sekali mengenali bioritme alam di mana kita bertumbuh. Di zaman serba kekurangan dulu, manusia sakit karena perlu menambahkan sesuatu ke dalam. Dari menambahkan makanan, obat, serta vitamin. Di zaman ketika pertumbuhan ekonomi menjadi panglima yang susah dilawan, manusia sakit perlu mengurangkan banyak hal dari dalam. Dari mengurangi gula, lemak, narkoba, serta konsumsi bahan-bahan berbahaya lainnya. Studi-studi tentang kanker menemukan, ada hubungan yang cukup kuat antara obesitas (kegemukan) dengan kanker. Sel-sel kanker ternyata sangat menyukai gula dan rasa manis. Orang-orang yang terkena kanker umumnya kepalanya berisi berlimpah kerumitan, yang perlu segera dikurangi.

Hal yang sama juga terjadi dengan tubuh emosi. Agar sehat dan selamat, ada banyak hal yang perlu dikurangi di dalam diri. Dan yang paling perlu dikurangi adalah keinginan berlebihan agar selalu tampak lebih baik, lebih kaya, lebih terpandang dibandingkan orang lain. Perhatikan kawan-kawan yang hidupnya penuh perjuangan. Sebagian yang penampilannya indah di luar, ternyata di dalamnya sangat gelisah. Michael Jackson adalah Guru dunia yang terbaik dalam hal ini. Kekayaan materinya berlimpah, pujian orang berlimpah, reputasinya sangat indah. Dan sudah dicatat sejarah, akhir hidupnya di usia muda sangat menyentuh hati. Pendiri perusahaan Apple Steve Jobs membawa cerita serupa. Pemain film terkemuka Robbins William dan David Carradine juga berbagi cerita yang sama.

Catatan sejarah seperti ini sedang mengundang para sahabat untuk bertumbuh, dari penuh perjuangan menuju penuh penerimaan. Di jalan tua yang penuh penerimaan tersisa pesan tua yang berbunyi seperti ini: “Penderitaan terjadi karena manusia gagal menyadari, diri Anda adalah tujuan yang telah Anda cari selama berkehidupan-kehidupan”. Sebuah cara pandang yang sangat melawan arus. Manusia modern umumnya menganggap kalau ciri-ciri ideal tertentu seperti kaya terkemuka sebagai tujuan di masa depan yang mesti dikejar. Di jalan tua yang penuh penerimaan, bukan ciri-ciri ideal itu yang dicari. Tapi kembali ke panggilan alami masing-masing. Ia sesederhana ikan yang menjadi ikan, burung yang menjadi burung. Hasilnya, tidak saja manusia mengalami jauh lebih sedikit kelelahan, tapi juga mengalami sedikit keterasingan.

Tubuh yang dulunya menjadi penghambat pertumbuhan, berubah menjadi rumah indah yang penuh kesejukan. Manusia yang kelelahan berkejaran ke masa depan berubah menjadi manusia yang bersahabat dengan kekinian. Meminjam warisan tua sejumlah buku suci tua, menjadi diri sendiri yang unik dan otentik adalah bentuk kehidupan yang paling damai yang pernah ada. Ia sedamai lumba-lumba di lautan, seindah kupu-kupu di taman. Di tingkatan ini, seseorang akan mengerti melalui pencapaian, pikiran yang lentur serta hati yang bersyukur memberi lebih banyak energi dibandingkan makanan terenak serta liburan yang terindah. Senyuman adalah malaikat terindah yang pernah lahir di tubuh manusia. Bersama malaikat jenis ini, tidak saja tubuh sehat, jiwa selamat, tapi Anda bisa sehat bercahaya sampai di usia tua.

Di tingkatan ini, manusia tidak saja mengenal evolusi dari sisi biologi dan ekologi, tapi juga mengalami evolusi kesadaran. Kesadaran bahwa kita tidak lagi hidup sakit karena menjadi orang lain. Melainkan mulai hidup sehat karena telah menjadi diri sendiri (baca: hidup sesuai dengan panggilan alami). Cirinya sederhana, kehidupan jadi sepenuhnya mengalir. Jika air sungai mengalir mencari samudra, jiwa-jiwa jenis ini sudah mengerti melalui pencapaian, bukan melalui perdebatan: “Anda bukan setetes air yang mencari samudra. Anda adalah samudra dalam setetes air”. Selamat datang di rumah jiwa-jiwa yang indah.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.