Kesembuhan

Kaya Raya Selamanya

Ditulis oleh Gede Prama

Sementara di negara-negara berkembang orang menderita karena kekurangan, di negara-negara kaya manusia menderita karena kelebihan. Dari kelebihan gula, kelebihan makanan, sampai kelebihan obat penenang. Gejala seperti ini memunculkan pertanyaan, kapan jiwa manusia bisa sepenuhnya kaya kemudian bisa berbagi Cahaya? Sebuah pertanyaan tua yang belum ditemukan jawabannya sampai dengan sekarang. Kendati demikian, tidak ada salahnya untuk membahasnya kembali. Setidaknya untuk memberi inspirasi pada khalayak ramai akan keterbatasan kekayaan di luar saja, sekaligus mengundang para sahabat agar mengimbangi kekayaan di luar dengan kekayaan di dalam.

Salah satu negeri kecil di kawasan Himalaya yakni Bhutan, sudah sejak tahun 1972 mengganti ukuran pencapaian negara dari kekayaan menuju kebahagiaan. Ini diikuti oleh sejumlah lembaga dunia yang mengukur indeks kebahagiaan negara-negara di dunia. Setiap sahabat yang pernah tumbuh di lingkungan yang kaya secara material mengerti, di tengah uang yang berlimpah, rumah yang indah, serta pujian orang yang juga berlimpah, ada banyak sekali jiwa-jiwa resah dan gelisah. Jika negeri super kaya di Barat dijadikan sebagai bahan pelajaran, di sana tidak sedikit orang kaya yang mengakhiri hidupnya dengan cara yang sangat menyentuh.

Kekayaan di dalam

Dari sinilah lahir generasi manusia yang lapar mencari ke dalam. Ada yang mencari kebahagiaan. Ada yang mencari kedamaian. Namun di jalan ini tidak ada petunjuk jalan yang sederhana. Tidak ada Guru yang sepenuhnya jelas. Terutama karena hutan di dalam diri manusia beda-beda. Coba renungkan dua pertanyaan berikut ini. Apakah manusia perlu bergabung dengan keramaian agar mendapatkan pengakuan? Tanpa ragu banyak orang akan menjawab ya. Apakah seseorang perlu tumbuh menjadi diri yang unik dan autentik. Ini juga akan dijawab ya tanpa sedikit pun rasa ragu. Kedua jawaban ini melahirkan benturan spiritual di dalam. Dari sinilah asal mula banyak sekali kegelisahan. Di satu sisi mau diterima oleh keramaian. Di lain sisi, keramaian melahirkan keterasingan (baca: seseorang menjadi orang asing dalam tubuh sendiri).

Bahayanya keramaian, baik pujian dan makian orang-orang akan membuat seseorang terjebak dalam “ensiklopedia diri yang palsu”. Pujian orang memperbesar keakuan (ego). Makian orang membuat seseorang tumbuh dalam kesedihan. Dan baik keakuan maupun kesedihan, keduanya sama-sama bukan diri sejati yang sedang dicari. Bayangkan sebuah keluarga terhormat yang sedang makan bersama di meja besar. Bagi orang tua zaman dulu, ini sebuah kebanggaan. Namun bagi sebagian generasi kini, ini sebuah siksaan yang sangat menyakitkan. Terutama karena semua orang dipaksa bertumbuh di kotak yang sama. Ia ibarat kelinci yang dipaksa memakan jagung, merpati yang dipaksa memakan rumput. Ujungnya mudah ditebak, kekayaan di luar membuat seseorang merasa sangat miskin di dalam.

Dari sinilah muncul kebutuhan untuk keluar dari ensiklopedia palsu tentang diri sendiri. Di mana seseorang mulai berjarak secukupnya dengan pujian dan makian orang. Pada saat yang sama belajar bersahabat dengan ke-u-Tuhan (wholeness) di dalam diri. Konkritnya, apa pun gerakan pikiran dan perasaan di dalam – dari salah-benar hingga dukacita-sukacita – semuanya diberikan jarak yang sama. Pengandaiannya, jiwa-jiwa yang miskin di dalam hanyut di tengah banjirnya kehidupan. Praktik kesadaran penuh (mindfulness) membuat seseorang berenang ke pinggir. Semua dualitas diberi jarak yang sama. Sampai suatu hari yang bersangkutan bisa menjadi saksi di pinggir sungai. Di jalan meditasi, seorang saksi yang tidak memilih disebut membuka pintu tanpa diri (selfless). Bukan tidak memiliki tubuh dan pikiran, sekali lagi bukan. Tapi mulai keluar dari ensiklopedia diri yang palsu.

Kaya karena berkecukupan

Tandanya sederhana, seseorang tidak lagi mudah menyerang tatkala diserang. Manusia tidak lagi merasa lebih ketika bermandikan pujian. Semuanya dijalani secara mengalir. Bunga indah di hari ini akan jadi sampah di hari lain. Pujian di hari ini akan berubah jadi makian di hari lain. Begitulah hukumnya sejak dulu. Menyatu dengan hukum alam yang mengalir, itulah awal kekayaan berlimpah di dalam. Seseorang menjadi kaya bukan karena memenuhi semua keinginan. Melainkan menjadi kaya karena bisa berjarak secara sehat dengan semua keinginan berlebihan. Inilah pancuran sejuk di dalam diri. Sekaligus sumber kekayaan yang tidak pernah habis. Semua pengalaman mirip bayangan di cermin yang datang dan pergi. Diri sejati serupa cermin bersih dan jernih.

Di Barat ada yang menulis begini: “When you are selfless, you meet your best self”. Tatkala Anda bisa keluar dari ensiklopedia diri yang palsu, Anda berjumpa bagian terbaik dari diri Anda sendiri. Tanda penting orang yang menderita karena berumah dalam ensiklopedia diri yang palsu sederhana, selalu menyebut diri benar dan menyebut orang lain salah. Menempatkan diri sebagai korban luka jiwa, menyebut orang melukai dengan sebutan sesat. Ketika berbicara, seluruh isi pembicaraan hanya mau didengarkan, tidak mau mendengarkan. Sering menyebut kehidupan tidak adil, karena orang lain mendapatkan jauh lebih banyak. Sering terbakar dengan kesimpulan orang baik mengalami hal-hal buruk, orang buruk berjumpa hal-hal baik.

Sedangkan pencari yang sudah keluar dari ensiklopedia diri yang palsu memiliki rasa berkecukupan di dalam. Sudah melihat dengan mata sendiri, sudah mengalami sendiri, kalau kekayaan di luar saja membawa hawa panas yang sangat membakar. Kemudian mengimbangi diri dengan pancuran sejuk di dalam diri yang bernama rasa berkecukupan. Proses bertumbuhnya, manusia beruntung seperti ini berevolusi dari restless mind (pikiran resah gelisah) menuju resilient mind (pikiran luwes yang terbuka sekaligus lentur). Ketika menemukan kebenaran, manusia jenis ini menyisakan sebagian ruang dalam pikiran untuk kebenaran lain milik orang lain. Sebagai akibatnya, ia sembuh dari amarah, jiwanya mulai bertumbuh sangat indah.

Penjelasan lain, jiwa beruntung ini tumbuh dari surviving menuju thriving. Kelompok surviving (manusia yang sekadar hidup) menjalani kehidupan secara datar dan monoton. Bangun pagi, berangkat kerja, pulang lagi di sore hari tanpa tumbuh semakin dewasa dari tahun ke tahun. Tiba-tiba saja jiwa sudah resah, gelisah, kemudian marah-marah. Kelompok thriving (sebutan para psikolog untuk manusia yang sukses luar dan dalam) menjalani kehidupan secara kaya dan bermakna. Bagi jiwa jenis ini, kisah-kisah diri sendiri yang sering diceritakan ke orang kebanyakan adalah serangkaian perangkap yang mematikan. Ia membuat seseorang tumbuh kecil dan kerdil di ensiklopedia diri yang palsu.

Kelompok thriving ini keluar dari rumah kecil ini, kemudian menemukan kebahagiaan di tengah keramaian bukan karena bermandikan pujian. Tapi bahagia di tengah keramaian karena bisa melakukan pelayanan. Persisnya, pelayanan yang membuat seseorang merasa kaya. Ternyata perjuangan hidup sejak kecil bisa meringankan penderitaan banyak orang, sekaligus membuat jiwa di dalam merasa sangat berkecukupan. Seorang Guru spiritual yang telah lama bergabung dengan kelompok thriving pernah berpesan: “Kenapa mesti lelah mengejar kekayaan di luar, kalau seisi semesta sudah menjadi milik Anda”. Inilah manusia yang kaya raya selamanya. Ia memiliki kekayaan yang tidak bisa dicuri oleh siapa pun.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.