Kesembuhan

Hidup Sejahtera Selamanya

Ditulis oleh Gede Prama

Di semua tingkatan kehidupan ada manusia yang tidak sejahtera. Di tingkat bawah, tengah, atas sama-sama ada manusia yang tidak sejahtera. Perasaan tidak sejahtera ini kemudian bisa mengalir ke berbagai hal yang berbahaya. Dari keluarga yang terbakar dan bubar, sakit mental, sampai dengan bunuh diri. Setelah belajar dari ribuan sahabat yang hidupnya bermasalah di sesi-sesi meditasi, di sana terlihat kalau kesejahteraan lebih banyak terkait dengan dinamika seseorang di dalam. Jika seseorang di dalamnya tidak seimbang, apa lagi sering terbakar, bahkan ketika berlimpah uang pun, yang bersangkutan akan tetap merasa tidak sejahtera. Untuk kemudian memproduksi penyakit di dalam, serta menyebar aura buruk ke luar.

Penghalang kesejahteraan

Sudah diteliti luas di psikologi khususnya, kalau banyak manusia memiliki abundance block (halangan berat di dalam agar bisa merasa sejahtera). Karena sejumlah pengalaman dan pendidikan di masa lalu khususnya, tidak sedikit manusia secara tidak sadar menghalangi dirinya agar sejahtera. Pendidikan masa kecil yang menyebut orang kaya jahat, orang berlimpah harta banyak menipu, bahkan ada buku suci yang menyebutkan kalau orang kaya sangat sulit masuk surga, adalah serangkaian pendidikan panjang yang masuk ke alam bawah sadar. Alam bawah sadar kemudian tanpa permisi, atau tanpa disadari menghalangi yang bersangkutan untuk menjadi sejahtera.

Seorang sahabat di Barat bercerita, setelah dilakukan hipnoterapi, di sana muncul memori masa kecil. Ketika ia dalam perjalanan membeli hadiah ulang tahun yang ke sembilan, orang tuanya mengira ia sudah tidur. Di dalam mobil kedua orang tuanya bertengkar soal harga hadiah yang akan diberikan pada anaknya. Kisah singkat ini membuat alam bawah sadar sahabat ini menyimpulkan, kehidupan penuh dengan keterbatasan dan kekurangan. Karena itu, jangan berharap tinggi-tinggi dalam kehidupan. Berharap terlalu tinggi bisa membuat orang tua dan orang dekat jadi bertengkar serta berbahaya. Itu contoh lain penghalang menuju kesejahteraan. Tanpa upaya sengaja untuk membenahi diri, tidak terhitung manusia yang akan penuh rasa sakit bertumbuh dari sebuah ketidaksejahteraan menuju ketidaksejahteraan yang lain.

Di titik inilah para sahabat dituntut untuk menjadi penyelamat terbaik bagi diri sendiri. Jika pahlawan zaman dulu membawa senjata kemudian melahirkan kekerasan, pahlawan di dalam diri memerlukan banyak cinta untuk diri sendiri serta ketekunan untuk terus bertumbuh di kolam kedamaian. Jika pendekatan kesembuhan zaman dulu penuh dengan energi penolakan, pendekatan kesembuhan zaman ini kaya dengan energi penerimaan. Dalam bahasa yang lebih puitis: “Penerimaan diri adalah awal terbitnya matahari indah di dalam diri”. Untuk itu, belajar menerima diri apa adanya. Letakkan kekurangan dan kelebihan sebagai bagian dari diri yang utuh dan holistik. Ia mirip alam yang menerima baik malam maupun siang. Dari sana langkah penyelamatan diri sebaiknya dimulai.

Langkah Penyelamatan

Sebagai langkah awal penyelamatan diri, baik dan bagus kalau membaca kisah-kisah orang besar yang dekat di hati. Tidak saja ada berlimpah pelajaran di sana, tapi juga ada banyak magnet kemajuan di sana. Izinkan wawasan jadi kaya karena berlimpahnya jalan setapak menuju besar. Bekali diri dengan pengetahuan luas, kalau hidup jauh lebih luas dan lebih lebar dari rumus dan formula mana pun. Lebih bagus lagi kalau bisa hadir di dekat tokoh-tokoh yang dianggap besar dan berhasil. Kemudian rasakan auranya secara langsung. Letakkan diri seperti tanah liat. Orang besar yang dikagumi dianggap sebagai cetakan. Itu langkah permulaan yang sangat meyakinkan.

Bersamaan dengan itu, bangkitkan energi-energi keyakinan di dalam. Salah satu langkah praktis yang banyak menolong, setiap hari setelah bangun pagi serta menjelang tidur, belajar membuat daftar kemenangan dalam hidup. Dari sering menang main layang-layang ketika kecil, pernah juara kelas ketika sekolah, pernah mendapat tropi di dunia olah raga, sampai naik pangkat di dunia kerja. Ketika menulis daftar kemenangan ini, bayangkan diri Anda sebagai seorang pembawa cahaya yang menelusuri ruang-ruang gelap di dalam diri. Kegelapan ketakutan, keraguan, ketidakpastian semuanya diterangi satu per satu. Mirip kegelapan di malam hari, ia akan langsung hilang kalau dihadirkan cahaya penerang.

Langkah praktis berikutnya, bikin daftar panjang orang-orang baik dan menyentuh yang pernah hadir dan menyelamatkan hidup Anda. Dari mama yang penuh perhatian, papa yang penuh tanggung jawab, pembantu yang jujur dan tulus, guru sekolah yang baik hati, sampai kakek-nenek yang penyabar dan penyayang. Dan kehadiran mereka dalam hidup Anda untuk memberitahu, kalau Anda punya banyak benih kebaikan dan keberhasilan di dalam. Yang diperlukan dari Anda adalah menyirami benih-benih kebaikan dan keberhasilan ini melalui penerimaan diri yang penuh dan utuh. Seperti sampah dan bunga indah, buruk dan baik berputar silih berganti. Dan keduanya tumbuh di taman kehidupan yang sama.

Di dunia spiritual khususnya, kemajuan akan terjadi lebih cepat kalau manusia sering berkumpul bersama sahabat-sahabat dengan minat dan cita-cita yang sama. Untuk itu, temukan sahabat-sahabat dengan energi dan minat yang sama. Kemudian belajar saling menerima dan saling memberi semangat di sana. Hindari segala bentuk kritik. Perbincangkan hanya benih-benih indah di dalam diri masing-masing. Belajar saling berbagi pengalaman. Jika ada yang menemukan cara dan teknik baru, perbincangkan cara dan teknik baru ini secara bersama-sama. Intinya, belajar untuk terus menerus saling memperkaya baik pengetahuan maupun pencapaian.

Ketika sendirian, belajar membayangkan lingkaran cahaya yang mengelilingi diri Anda. Lingkaran cahaya ini tidak saja melindungi Anda, tapi juga membangkitkan rasa syukur mendalam. Lahir sebagai manusia, memiliki minat kuat untuk belajar, punya tekad untuk mengembangkan diri, punya sahabat dan keluarga yang mendukung, lebih-lebih rindu untuk berbagi cahaya suatu hari kelak, sungguh itu sebuah berkah kelahiran yang sangat langka. Belajar mensyukurinya. Di Barat ada yang menyebut lingkaran ini dengan circle of gratitude (lingkaran cahaya yang berisi banyak rasa syukur). Ketika memberi apa saja, termasuk memberi senyuman dan tatapan mata yang penuh penerimaan, bayangkan Anda sedang menyalakan lilin orang.

Sambil endapkan di dalam hati, ketika Anda menyalakan lilin orang lain, di satu sisi Anda tidak kehilangan cahaya. Di lain sisi, jalan setapak yang dilalui semakin terang. Kalau pun suatu hari lilin Anda padam, akan ada tempat di mana Anda bisa meminta cahaya kembali. Inilah yang disebut sebagai hidup sejahtera selama-lamanya. Di dalam tumbuh rasa berkecukupan mendalam, kemudian lahir kerinduan agar banyak orang mengalami rasa berkecukupan yang sama. Di tingkat ini, kebahagiaan tidak lagi datang karena seseorang telah menerima sesuatu. Kebahagiaan datang karena Anda menemukan kebahagiaan dalam memberi. Jika Anda memerlukan mantra, lafalkan mantra ini dalam kesendirian: “Apa yang saya inginkan sudah tersedia secara berlimpah di dalam”.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.