Kesembuhan

Jalan Setapak Jiwa Yang Indah

Ditulis oleh Gede Prama

Pertumbuhan ekonomi yang demikian cepat di mana-mana ternyata tidak membuat semua manusia merasa berkecukupan. Sebagian orang kaya bahkan terus menerus dikejar oleh perasaan ada yang kurang di dalam. Energi merasa kurang di dalam ini tentu saja ada positifnya. Ia membuat seseorang bekerja, berusaha dan belajar lebih semangat. Namun sedikit yang menyadari, perasaan serba kurang di dalam mirip rayap yang bisa menghancurkan bangunan. Itu sebabnya, di mana-mana terlihat manusia yang keluar dari mobil mewah tapi matanya gelisah. Orang yang berbaju indah tapi setiap hari marah-marah. Dari bangunan yang megah sering keluar manusia yang resah.

Di sesi-sesi meditasi sering terlihat, perasaan serba kurang di dalam ini bahkan sudah bertumbuh menjadi penyakit sangat berbahaya. Termasuk keluarga yang diancam bahaya. Tanpa keberanian spiritual yang cukup, banyak manusia akan bernasib seperti ikan yang kehausan di dalam air. Merasa sangat kurang di tengah materi yang berkelimpahan. Di Barat ada peneliti yang menemukan, sementara di negara terbelakang manusia sulit tidur karena diancam kekurangan, di negara-negara kaya manusia juga sulit tidur karena takut kehilangan. Padahal, keadaan sulit tidur bisa bertumbuh menjadi banyak penyakit berbahaya.

Bercermin dari sinilah, sangat-sangat penting untuk mendidik diri sejak dini untuk merasa berkecukupan. Tentu saja bukan dengan cara berhenti belajar dan berusaha. Namun dengan cara melaksanakan panggilan kekinian sebaik-baiknya, serta menerima hasilnya seikhlas-ikhlasnya. Bersamaan dengan menyirami benih rasa berkecukupan di dalam, kemudian latih diri untuk terhubung dengan kecerdasan alam semesta. Setiap kali melakukan apa saja atau ada jeda, sempatkan waktu untuk berterimakasih dan bersyukur. Tanyakan ke alam sekitar, pesan apa yang sedang mereka mau sampaikan untuk pertumbuhan jiwa Anda.

Jika Anda mendengar burung-burung bernyanyi, ingatkan diri akan pentingnya sukacita. Bila para sahabat melihat bunga mekar indah, bisikkan ke dalam hati pentingnya keindahan. Seumpama ada yang mendengar anjing menggonggong, ia membawa pesan penting tentang kesetiaan. Kawan-kawan yang melihat pohon rindang yang sejuk, renungkan dalam-dalam kalau pepohonan adalah simbol petapa yang bertumbuh menuju cahaya ditemani keikhlasan sempurna. Di waktu ketika suara sound system tetangga demikian menggoda, ingatkan diri untuk menyempurnakan kesabaran. Kapan saja memori tentang orang melukai muncul kembali, ingatkan diri tentang pentingnya memaafkan. Dan memaafkan adalah pialanya jiwa-jiwa yang indah.

Lebih dalam dari itu, ingat-ingat kembali orang yang pernah menyentuh hati Anda. Dari mama yang penyabar sampai papa yang suka membuat Anda tertawa. Dari nenek yang penyayang, sampai kakek yang selalu membuat Anda rindu pulang. Jika di dekat Anda ada binatang peliharaan, beri mereka makanan. Temui kawan-kawan yang mudah membuat para sahabat tertawa. Jumpai kerabat yang mengingatkan Anda akan sifat-sifat baik di dalam diri. Lihat kembali foto-foto tua yang membuat Anda tertawa, atau membuat para sahabat jadi gembira. Sirami pohon atau rumput kering. Ringkasnya, lakukan sesuatu yang bisa membuat Anda merasa kalau hidup Anda ternyata berguna dan bermakna.

Di dunia spiritual telah lama terdengar pesan, tubuh bisa mempengaruhi pikiran, pikiran juga bisa mempengaruhi tubuh. Agar pengaruh tubuh pada pikiran relatif positif, rawat tubuh persis seperti merawat seorang sahabat sangat dekat. Pada waktunya tubuh juga akan merawat balik diri Anda. Agar pengaruh pikiran relatif positif pada tubuh, selalu lihat semuanya dari sisi-sisi berkah. Di psikologi ada yang menulis, zaman kita adalah zamannya psikologi positif. Ringkasnya, kurangi memikirkan hal-hal negatif. Selalu lihat semuanya dari sisi-sisi positif. Pada waktunya pikiran positif membuat tubuh sehat, perjalanan jiwa jadi selamat.

Sudah menjadi catatan tua di dunia yang memadukan psikologi dan spiritualitas, ada interaksi dinamis antara tubuh, pikiran dan spirit. Ketiganya saling mempengaruhi. Karena tubuh adalah yang paling terlihat diantara ketiganya, belajar peka dan halus dengan tanda-tanda yang dikirimkan tubuh. Tubuh yang mudah lelah, tidur yang mulai sedikit terganggu, buang air yang kurang lancar, makan yang kurang enak, gusi berdarah, semuanya sebaiknya dibaca dengan penuh kepekaan dan kasih sayang. Tidak saja pesan biologinya dibaca, pesan spiritualnya juga dibaca. Asal para sahabat dekat dengan tubuh, memperlakukan tubuh sebagai sahabat dekat, sesungguhnya tubuh sering berbicara tentang langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan kemudian.

Jika mau lebih dalam, belajar membongkar tembok yang memisahkan diri yang kerdil (tubuh fisik) dengan diri yang agung (alam semesta). Sahabat peneliti dari Barat ada yang menulis, manusia hanya menerima benih DNA dari orang tua 1 %, sisanya benih DNA datang dari alam semesta. Ajakannya kemudian, seisi alam semesta sesungguhnya keluarga kita. Untuk itu, perlakukan semua ciptaan seperti memperlakukan tubuh sendiri. Ketika mau menyirami kloset sebagai contoh, kalau di sana ada semut, keluarkan dulu semutnya. Saat berjalan di taman, kalau ada pilihan untuk tidak menginjak rumput, sebaiknya jangan menginjak rumput. Ketika berjumpa siapa saja, jika tidak yakin kata-kata akan menyejukkan, bungkus bibir dengan senyuman.

Karena tubuh, pikiran, spirit menyatu dinamis, cara memperlakukan tubuh dengan cara yang indah seperti ini, pelan perlahan juga membuat pikiran dan spirit juga bertumbuh indah. Tandanya, para sahabat bisa menjalani panggilan kehidupan dari bekerja sampai berkeluarga dengan cara yang lebih tenang. Anda akan mudah tertawa bahkan bisa tertawa pada kekurangan Anda sendiri. Memaafkan akan menjadi langkah yang mudah dan indah. Di atas semuanya, percakapan di dalam tidak lagi ditandai oleh terlalu banyak melo drama, yang menyebut diri sendiri sebagai korban. Dan menyebut orang melukai sebagai lawan yang layak dihancurkan.

Bagi jiwa-jiwa jenis ini, gatha (doa yang diucapkan ke dalam diri) setiap hari berbunyi seperti ini: “Menyadari bahwa semuanya telah, sedang dan akan baik-baik saja, saya berjanji untuk membuat sekurang-kurangnya dua orang tersenyum di hari ini. Salah satunya adalah diri saya sendiri. Dan rasa berkecukupan di dalam adalah senyuman terindah untuk diri sendiri”. Inilah jalan setapak yang ditempuh jiwa yang indah. Tubuhnya sehat, pikirannya tenang, jiwanya selamat. Dari kombinasi indah seperti inilah kemudian lahir niat mulia untuk selalu berbagi cahaya. Setidaknya dengan cara tidak menyakiti orang lain. Bagus kalau bisa meringankan beban penderitaan orang lain.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.