Kesembuhan

Bahasa Tubuh Terindah

Ditulis oleh Gede Prama

Salah satu dampak negatif pertumbuhan ekonomi yang sulit dilambatkan adalah menurunnya rasa percaya antar manusia. Di Rusia sana, tidak sedikit orang tua yang mengindoktrinasi anak-anak dengan pesan seperti ini: “Jangan pernah percaya siapa-siapa, percaya hanya pada dirimu sendiri”. Itu sebabnya, di sana-sini terlihat mata manusia yang kosong dan kering. Mencari ke sana ke mari namun tidak ketemu apa-apa. Di banyak keramaian, ada lautan manusia yang mudah terbakar. Salah satu sebabnya, orang-orang menatap dengan mata panas yang penuh kecurigaan dan permusuhan. Banyak manusia yang tidak lagi percaya dengan bahasa verbal yang keluar dari mulut.

Bagi para sahabat yang peka dengan bahasa tubuh, bahasa tubuh manusia modern kasar sekali. Sedikit yang menyadari, bahasa tubuh yang kasar sedang berbagi kekerasan baik ke luar maupun ke dalam. Begitu kekerasan menumpuk banyak sekali di dalam, di sana seseorang rawan dikunjungi banyak penyakit berbahaya. Termasuk bisa digoda oleh rayuan bunuh diri. Untuk itu, mari belajar bahasa tubuh yang sehat sekaligus indah. Yang bisa berbagi kesejukan dan kesembuhan baik ke luar maupun ke dalam. Yang pertama sekaligus paling utama adalah mata. Mata tidak saja jendela jiwa, tapi jendela dari mana seseorang sedang berbagi dan menyerap energi.

Agar mata para sahabat sejuk dan indah, selalu ingatkan diri lagi dan lagi, setiap orang yang dijumpai sedang membawa pertengkaran sengit di dalam dirinya. Dari salah melawan benar, sampai setan melawan Tuhan. Dari masa lalu yang kelabu sampai masa depan yang meragukan. Kesadaran mendalam akan hal ini membuat energi belas kasih (compassion) bangkit di dalam. Ujungnya, tidak saja kesejukan memancar ke luar melalui mata, tapi mata juga menyerap energi kesejukan dari luar. Dalam bentuknya yang lebih dalam, energi belas kasih adalah jembatan keterhubungan yang paling meyakinkan. Dan keterhubungan adalah jembatan menuju kesembuhan dan kedamaian.

Bahasa tubuh ke dua, selalu disimpan di dalam hati yang terdalam, manusia diberkahi dua telinga dan satu mulut. Artinya, manusia disarankan untuk mendengar dua kali lebih banyak dibandingkan berbicara. Sedihnya, terlalu banyak manusia yang mendengar untuk berkomentar, bukan mendengar agar membantu orang jiwanya mekar. Sebagai contoh, begitu mendengar ada orang bercerita tidak punya anak setelah menikah selama 5 tahun, ada sahabat yang langsung berbicara: “Saya sudah 30 tahun menikah juga tidak punya anak. Dan semuanya baik-baik saja”. Inilah contoh mendengar untuk berkomentar. Mendengar jenis ini tidak menyembuhkan sekaligus tidak menyejukkan.

Mendengar yang menyembuhkan dan menyejukkan sederhana, cukup mendengar saja. Tanpa kerangka buruk-baik, tanpa ada niat untuk membetulkan kesalahan orang lain, tanpa ada nafsu untuk menunjukkan bahwa pihak yang mendengar lebih baik dibandingkan yang didengar. Lebih sejuk lagi kalau saat mendengar, pendengar menyadari sedalam-dalamnya kalau yang didengar sedang kepanasan di dalam. Kehadiran pendengar adalah memercikkan tirtha yang menyejukkan. Bahasa tubuh ketiga yang ikut menyejukkan dan berbagi energi kesembuhan adalah posisi tubuh saat berbicara dengan orang lain.
Agar para sahabat bisa berbagi kesejukan, belajar mengarahkan tubuh (dari telapak kaki, lutut, dada, muka sampai mata) sepenuhnya ke orang yang sedang diajak berbicara. Matikan gadget, kurangi menulis atau diganggu oleh interupsi jenis lain. Latih diri untuk sepenuhnya hadir untuk orang lain. Di Barat ada ungkapan tua: “Your best present is your presence”. Dan kehadiran Anda sepenuhnya untuk orang tidak saja menjadi hadiah indah untuk orang lain, tapi juga hadiah indah untuk jiwa di dalam. Jiwa akan tumbuh semakin dewasa sekaligus bercahaya. Ada banyak pengetahuan indah yang akan diperoleh melalui hadir sepenuhnya untuk orang lain.

Bahasa tubuh ke empat adalah suara. Diantara jeda antara dua kata atau dua pesan, jangan pernah menggunakan suara seperti “mmm, hhhh”. Sebagian sahabat yang berbahasa Inggris sering menggunakan kata “you know, so to speak”. Kawan-kawan berbahasa Indonesia ada yang menggunakan kata “betul khan?”. Jeda yang diisi suara atau kata yang tidak perlu ini, tidak saja membosankan bagi orang luar, tapi juga membuat seseorang bercerita secara implisit kalau yang bersangkutan kurang cerdas di dalam. Ada cerita tidak percaya diri di sana. Ada pertempuran di dalam yang tidak disadari sedang diceritakan ke orang-orang.

Bahasa tubuh ke lima yang menjadi inti dari semuanya, latih diri untuk berbicara tidak dengan kepala tapi dengan hati. Sementara kepala bersama kepintarannya penuh tembok pemisah lengkap dengan benar-salah, orang yang berkomunikasi dengan hati tekun dan tulus membangun jembatan indah yang menghubungkan. Orang yang berkomunikasi dengan kepala mudah sekali tergelincir pada sikap sempit dan picik bahwa yang bersangkutan benar dan orang lain salah. Tembok benar-salah ini kemudian membuat hubungan kedua belah pihak jadi sangat berjarak. Salah-salah bisa konflik, serta memperpanjang daftar panjang kekerasan yang sudah panjang.

Manusia yang berkomunikasi dengan hati tidak tertarik dengan tembok pemisah, lebih tertarik untuk membangun jembatan indah. Setiap kali berinteraksi dengan orang lain, pertanyaan ke dalamnya bukan apa beda antara yang bersangkutan dengan orang lain, tapi selalu bertanya ke dalam apa yang sama atau serupa antara yang bersangkutan dengan orang lain. Sebut saja berjumpa orang yang beragama lain. Temukan hal indah tentang agama orang lain, kemudian bicarakanlah hal indah ini bersama-sama. Contoh konkret, ketika berjumpa sahabat Muslim misalnya, ajaklah sahabat Muslim bercerita indahnya karya Jalalludin Rumi. Yang bercerita tentang religion of the heart, the heart of religion (agama hati, inti sari agama).

Saat berjumpa kawan-kawan beragama Katolik, diskusikanlah puisi Santo Fransiscus dari Asisi yang super indah: “Tuhan, izinkan saya menjadi budakmu. Di mana ada api, izinkan saya jadi tirtha yang menyejukkan. Di mana ada kemarahan, izinkan saya hadir mewakili spirit memaafkan…”. Setelah melihat mata lawan bicara sejuk, tertarik dan bersahabat, di sana boleh bercerita begini: “Kami dibimbing oleh Guruji untuk sering melantunkan doa Aham Prema. Artinya, saya cinta kasih yang ada di sini untuk berbagi cinta kasih”. Sekaligus, itulah cara terindah berbagi keindahan. Sambil ingatkan diri lagi dan lagi, di pulau cinta kasih Bali wajah Tuhan yang paling banyak disembah adalah keindahan. Jangankan ukiran bahkan sawah pun ditata sangat indah.

Penulis: Guruji Gede Prama.

Photo: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.