Kesembuhan

Libur Tiap Hari

Ditulis oleh Gede Prama

Salah satu alasan penting kenapa manusia sering rindu untuk berlibur karena mau membuang ketidaknyamanan. Jutaan manusia setiap tahun bahkan menghabiskan banyak uang, pergi ke tempat yang sangat jauh, hanya untuk lari dari segala bentuk ketidaknyamanan. Ujungnya sudah ketahuan, dari waktu ke waktu, dari tahun ke tahun, manusia yang merasa tidak nyaman jumlahnya semakin bertambah. Maju dan bertumbuhnya industri pariwisata adalah data pendukung yang sangat meyakinkan dalam hal ini. Padahal, mirip malam dan siang, ketidaknyamanan dan kenyamanan berputar silih berganti.

Sedikit yang menyadari, problem utamanya bukan bagaimana membuang ketidaknyamanan karena ketidaknyamanan tidak bisa sepenuhnya dibuang, melainkan bagaimana berhubungan secara sehat dengan ketidaknyamanan. Untuk diendapkan dalam-dalam oleh para sahabat, praktik spiritual mendalam seperti meditasi dan yoga tidak hadir di sini untuk mengusir ketidaknyamanan. Melainkan membimbing para sahabat agar bisa berhubungan secara jauh lebih sehat dengan ketidaknyamanan. Anehnya, begitu hubungan seseorang dengan ketidaknyamanan tumbuh sehat, di sana yang bersangkutan bisa menikmati libur setiap hari.

Sebagai pedoman praktis, sama dengan alam besar di luar yang secara alami mengenal musim panas dan musim hujan, nyaman dan tidak nyaman adalah sifat alami alam kecil di dalam. Jangan pernah membenci sifat alami api yang panas. Jangan pernah membenci sifat alami air yang basah. Dengan cara yang sama, jangan pernah membenci sifat alami alam kecil di dalam yang berputar bergantian antara tidak nyaman dan nyaman. Siang adalah waktu berkarya, malam adalah waktu istirahat. Demikian juga dengan rasa nyaman dan tidak nyaman.

Ketika rasa nyaman datang, itu putaran waktu untuk banyak berterimakasih dan bersyukur. Jalani setiap rasa nyaman ditemani kesadaran mendalam kalau semuanya akan berlalu. Tidak perlu menggenggam, cukup izinkan rasa nyaman lewat secara alami, memberi nutrisi spiritual pada jiwa di dalam. Seperti sedang makan enak, nikmati rasa enak secukupnya saja. Izinkan rasa enak lewat di mulut secara pelan, perlahan, serta alami. Agar rasa nyaman memperkaya jiwa, izinkan rasa nyaman membuat Anda semakin terhubung dan tersambung dengan diri yang Agung. Rasa syukur adalah sahabat dekat dalam hal ini. Terimakasih adalah doa terindah di saat seperti ini. Di Barat ada yang menyebutnya dengan falling into grace.

Saat rasa tidak nyaman berkunjung, itu undangan bagi para sahabat untuk bertumbuh semakin dalam dan semakin dalam. Tanpa kegelapan malam, cahaya mana pun tidak akan memancar indah. Tanpa ketidaknyamanan, kenyamanan mana pun akan datar dan hambar. Untuk itu, kurangi mengusir ketidaknyamanan secara berlebihan. Jangan pernah bermusuhan dengan ketidaknyamanan. Seperti penyakit yang membawa pesan-pesan spiritual, ketidaknyamanan juga membawa bimbingan-bimbingan. Bimbingan pertama, seseorang sedang bertumbuh secara kurang seimbang.

Jika kawan-kawan terlalu banyak duduk, berjalan-jalanlah di taman terbuka dengan pemandangan indah. Bila para sahabat jenuh di keramaian, belajar berumah dalam kesendirian. Seumpama Anda jenuh dengan kehidupan orang dewasa yang terlalu serius, sekali-sekali tertawa dan bernyanyi bersama anak-anak. Bimbingan kedua yang dihadirkan oleh ketidaknyamanan, ada tumpukan perasaan tertekan di dalam yang muncul ke permukaan. Jika itu terjadi, cepat temukan media ekspresi yang sehat. Menulis adalah salah satu pilihan yang sehat. Tulis perasaan tertekan Anda di tempat rahasia. Tulis tanpa salah-benar, tanpa buruk-baik, tanpa takut diketahui orang. Kapan saja di dalam terasa lebih tenang seimbang, pancarkan energi penerimaan yang tidak bersyarat.

Dalam bahasa murid-murid di jalan psikolog Carl G. Jung, jumpai bayangan di dalam (baca: perasaan-perasaan tertekan). Bila mana perlu belajar berdansa dengan sang bayangan. Kenali lebih dalam kesempurnaan jiwa yang menyerupai lingkaran sempurna. Di Timur ia disebut mandala. Di China ia disebut Yin-Yang. Tetua Bali menyebut jiwa manusia dengan sebutan dewa ya kala ya. Ada sisi gelap sekaligus sisi terang dalam jiwa manusia. Dan keduanya adalah sepasang bibir kesempurnaan yang sama. Bimbingan ketiga yang dihadirkan ketidaknyamanan, ketidaknyamanan adalah undangan agar seseorang membawa cahaya kesadaran pada kegelapan di dalam diri.

Seorang sahabat di Barat yang mengajarkan senam spiritual yang halus dan lembut. Dengan gerakan tubuh yang pelan perlahan sekaligus menyembuhkan. Serta berhasil menyembuhkan banyak orang bercerita, yang menyembuhkan dan mendamaikan bukan gerakannya, melainkan kesadaran yang menyertai setiap gerakan. Persisnya, kesadaran mendalam kalau semua berpasang-pasangan. Sedih pasangannya senang. Duka pasangannya suka. Serta kedua pasangan ini datang silih berganti tanpa henti. Duka dan sedih ada di sini bukan sebagai racun spiritual. Melainkan hadir membawa nutrisi spiritual. Persisnya nutrisi yang membuat jiwa semakin dalam. Di Barat ada yang memberi nama langkah spiritual seperti ini dengan healing the whole self. Kata health (kesehatan) berasal dari kata keseluruhan (whole).

Berbekalkan tiga bimbingan yang dihadirkan ketidaknyamanan ini, para sahabat tidak lagi bermusuhan dengan ketidaknyamanan. Sebaliknya, mulai bisa berhubungan secara sehat dengan ketidaknyamanan. Akibatnya, ketidaknyamanan berhenti menjadi musuh, ia hadir sebagai kawan yang membantu jiwa untuk bertumbuh. Di dunia meditasi, ini yang disebut sebagai transformasi sampai di tingkat akar. Mirip pohon, jika daun, batang dan akar sehat, maka keseluruhan bagian jiwa jadi sehat. Dengan bekal seperti ini, sangat mungkin perjalanan kehidupan jadi selamat.

Untuk membuat ceritanya jadi ringkas, padat, namun mendalam, buah indah dari praktik spiritual mendalam seperti ini, tangan para sahabat boleh melakukan pelayanan di keramaian, tapi pikiran istirahat di keheningan kesendirian. Tubuh boleh bekerja atau melayani keluarga, tapi hati istirahat dalam rasa berkecukupan dan rasa syukur mendalam. Itulah persisnya yang disebut sebagai libur setiap hari. Dan Anda pun tidak perlu menghabiskan banyak uang, atau pergi jauh untuk mengusir ketidaknyamanan. Yang tersisa kemudian hanya satu, keseharian yang sangat kaya dengan senyuman.

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo courtesy: Pinterest

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.