Kesembuhan

Kuil Indahnya Jiwa

Ditulis oleh Gede Prama

Kebanyakan orang baru memikirkan kesehatan setelah keadaan tubuh sangat parah. Ada yang lumpuh, ada yang terkena kanker, atau malah sekarat tidak ingat apa-apa. Sehingga tubuh bukannya menjadi surganya jiwa, malah menjadi nerakanya jiwa. Padahal sebuah pepatah tua bercerita: “Health is not everything, but without health everything is nothing”. Kesehatan memang bukan segala-galanya, tapi tanpa kesehatan maka segala-galanya jadi percuma. Belajar dari sini, mari seawal mungkin telaten merawat tubuh. Tidak perlu menunggu tubuh agar sakit parah baru merawat tubuh.

Meminjam peninggalan tua fisikawan nuklir David Bohm dalam maha karyanya berjudul “Health and The Implicate Order”, kata health (kesehatan) berasal dari kata whole (keseluruhan, kadang disebut ke-u-Tuhan). Dengan demikian, jika ingin bersahabat dekat dengan kesehatan, seawal mungkin latih diri untuk hidup secara utuh dan holistik. Maksudnya, tubuh bukanlah ciptaan yang terpisah dengan pikiran, perasaan dan spirit. Tubuh juga bukan entitas yang terpisah dengan alam sekitar. Ajakannya kemudian, seawal mungkin latih diri untuk membangun jembatan keterhubungan antara tubuh dengan pikiran, perasaan dan spirit. Atau antara tubuh dengan alam sekitar.

Dalam bahasa sederhana namun dalam, jalan menuju kesembuhan bukan soal menolak penyakit dan hal-hal buruk lainnya, namun soal bagaimana bertumbuh bersama dalam keseimbangan. Mirip taman bunga, semua taman bunga memiliki sampah. Tapi kalau cerdas, sampah bisa diolah menjadi bunga indah. Dengan cara yang sama, semua tubuh manusia berisi ketidaksempurnaan. Namun asal peka dengan tanda-tanda yang disampaikan tubuh, ketidaksempurnaan tubuh seperti penyakit bisa menjadi malaikat cantik yang sangat menyelamatkan kemudian.

Seorang sahabat yang terkena hepatitis B di usia muda bercerita, kalau ia diselamatkan oleh penyakit hepatitis B. Karena terkena penyakit hepatitis B maka ia tidak minum alkohol sama sekali, selalu menjaga kadar kolesterol. Lebih dalam dari itu, ia membaca pesan spiritual di balik penyakit hepatitis B. Intinya, kalau hepatitis B gagal disembuhkan seseorang akan terkena kanker hati. Makanya teman ini sepanjang hidupnya mengembangkan dan mengajarkan hati yang indah. Ini contoh konkret mengolah sampah menjadi bunga indah, mengolah penyakit menjadi malaikat yang super cantik.

Agar bisa sampai di sana, kurangi terlalu bertenaga untuk membuat tubuh menjadi serba baik dan indah. Latih diri untuk selalu tumbuh di wilayah-wilayah keseimbangan. Saat jenuh di dalam ruangan, jalan-jalanlah di ruang terbuka. Ketika lingkungan orang dewasa terasa terlalu serius, sekali-sekali bermain dan bernyanyilah bersama anak-anak. Bila semua terasa datar dan hambar, dengarkan musik kesukaan Anda. Seumpama Anda tidak menemukan orang yang bisa diajak berdialog secara tulus, tulis perasaan-perasaan tertekan Anda. Setelah tenang, pancarkan energi penerimaan ke dalam diri. Jadilah sahabat tulus bagi diri Anda sendiri.

Pedoman praktis berikutnya, di Barat ada yang menulis soal tubuh manusia seperti ini: “Use it or lose it”. Jika tubuh tidak digerakkan, maka seseorang bisa kehilangan tubuhnya. Untuk itu, sangat disarankan untuk melakukan gerakan 5 menit setiap jamnya. Bisa berdiri, berjalan, melakukan gerakan yoga, atau mencari udara segar di luar ruangan. Sahabat-sahabat di keluarga spiritual Compassion diminta untuk sering melakukan centering yoga. Juga sekurang-kurangnya 5 menit dalam setiap jam. Dampak kesehatan dari cara ini jauh lebih baik dibandingkan lari satu jam dua kali dalam seminggu.

Hal lain yang layak direnungkan, di zaman kita yang super sibuk syarat terpenting agar tubuh sehat adalah kualitas tidur. Dulunya kita diminta tidur antara 6 sampai 8 jam sehari, sekarang standarnya sudah ditingkatkan menjadi 7 sampai 9 jam sehari. Bagi kawan-kawan yang terlalu sibuk sehingga tidak bisa menyentuh standar ini, sangat disarankan untuk melakukan tidur pendek beberapa kali di siang hari. Lamanya tidak penting, yang penting adalah mengalami rasa lelap setidak-tidaknya 5 menit. Bagus kalau mengingat hal-hal kocak dan lucu menjelang tidur, sehingga tidur bisa menjadi perjalanan jiwa yang sangat menyembuhkan. Situs The truth about cancer memberi tips bagus sekali, kombinasi antara olah raga yang cukup, dengan tidur yang juga cukup mengurangi resiko terkena kanker.

Di sesi-sesi meditasi sering dibagikan, sumber kebocoran energi paling besar di zaman ini adalah konflik di dalam. Dari kritik berlebihan pada diri sendiri, pertempuran antara salah-benar, buruk-baik, sampai perasaan yang turun-naik bersama duka dan suka. Di jalan meditasi, terutama di tingkat kesempurnaan bukan di tingkat pertumbuhan, para sahabat diminta untuk “istirahat”. Persisnya istirahat dari segala bentuk konflik di dalam. Terutama dengan membadankan dalam-dalam, apa yang disebut pikiran dengan sebutan salah atau benar adalah senyuman kesempurnaan yang sama. Dengan cara ini jauh lebih sedikit energi yang bocor. Sehingga tubuh bisa kembali ke posisi alami yang bisa menyembuhkan dirinya sendiri.

Di situs youtube-nya TED, ada guru besar nutrisi dari Israel yang ulasannya tentang nutrisi dalam sekali. Tidak ada nutrisi terbaik untuk semua tubuh manusia, yang ada adalah nutrisi terbaik yang sesuai dengan ciri unik kita masing-masing. Bagi para sahabat yang masa kecil dan masa remajanya aktif, belajar mengimbangi diri dengan nutrisi yang lebih pasif seperti buah dan sayur. Buah pun disarankan memakan “rainbow fruits” (buah yang warna-warni). Namun hati-hati, karena buah umumnya berisi banyak gula, maka ia sebaiknya diimbangi dengan banyak bergerak dalam keseharian. Terutama agar kadar gula darah tidak berlebihan.

Dalam bahasa penekun Ayur Veda, jika makanannya salah maka obat mana pun tidak akan banyak menolong. Bila makanannya tepat maka obat mana pun tidak dibutuhkan. Kesimpulan yang sama juga datang dari buku The Ultimate Medicine. Di atas semuanya, belajar tumbuh penuh harmoni bersama tubuh, bukan bermusuhan dengan tubuh, bukan dihanyutkan oleh hawa nafsu tubuh. Ketika harmoni di dalam bertumbuh sejalan dengan harmoni di luar, di sana tubuh bisa menjadi kuil indahnya jiwa. Di tingkatan ini, kesehatan tidak lagi berarti keadaan tanpa penyakit, tapi persahabatan mendalam dengan kehidupan. Setiap kekinian (menjengkelkan maupun menyenangkan) didekap indah dengan senyuman.

Penulis: Guruji Gede Prama.

Photo: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.