Kesembuhan

Anda Jiwa Yang Indah

Ditulis oleh Gede Prama

Seorang sahabat psikolog dengan pengalaman konsultasi selama puluhan tahun bercerita, kalau banyak pasien memulai wawancara dengan pertanyaan berbahaya seperti ini: “Apa yang salah dengan jiwa saya?”. Hal yang sama juga terjadi di sesi-sesi meditasi. Banyak orang yang punya masalah ini dan itu, menganggap pasti ada yang salah dengan jiwa mereka. Pemicu di balik pertanyaan berbahaya ini sangat beragam. Dari tubuh yang terkena penyakit kronis, anak bermasalah, pasangan hidup tidak memuaskan, hanya punya anak perempuan, prestasi keuangan tidak memuaskan, putra tunggal menikah dengan agama lain, anak berkebutuhan khusus, sampai orang-orang dekat yang wafat mendadak.

Jika didalami, ada sebuah inti yang sama di sana. Jiwa-jiwa gelisah mengukur dirinya dengan ukuran-ukuran ideal orang kebanyakan. Tidak saja ukuran itu belum tentu cocok, ukuran itu juga relatif tergantung siapa yang mengukurnya, ukuran itu juga berubah dari zaman ke zaman. Mirip dengan burung kecil yang mau mengejar pesawat jet, orang jenis ini tidak saja akan kelelahan kemudian, tapi juga bisa mengakhiri kehidupan di jurang penderitaan. Sebelum betul-betul kelelahan, mari melakukan perenungan yang dalam. Alkisah suatu hari para binatang mau meniru manusia yang punya sekolah. Pelajaran berenang dibimbing ikan, topik terbang diajarkan burung, mata kuliah lari dosennya serigala.

Setelah sekian tahun berlalu, sekolah para binatang ini ditutup. Yang bisa terbang, tetap hanya burung. Yang berenangnya bagus tetap hanya ikan. Pelajarannya, setiap orang punya jiwa yang unik-unik. Serta tidak bisa dibandingkan. Mirip dengan tubuh. Ada orang yang cocok dengan kopi, ada yang jantungnya berbahaya karena minum kopi. Ada yang dibikin sehat oleh vitamin C, ada yang lambungnya berbahaya karena vitamin C. Jiwa juga serupa. Meminjam peninggalan tua fisikawan bernas Albert Einstein: “Jika Anda mengukur burung dengan ukuran ikan, mengukur ikan dengan ukuran burung. Maka semua manusia akan terlihat idiot”.

Berbekalkan referensi seperti ini, agar sehat dan selamat mari belajar melonggarkan cengkeraman pikiran bahwa hidup harus begini dan harus begitu. Hidup mesti sama dengan yang ini dan yang itu. Kemudian tumbuh alami di tempat masing-masing. Sambil ingat, lumba-lumba memperindah kehidupan di lautan. Kupu-kupu memperindah kehidupan di taman. Keduanya bertumbuh di tempat yang sangat berbeda, yang pertama berlimpah air yang kedua sedikit air, tapi keduanya indah apa adanya. Seorang wanita Inggris bernama Sophie Andrews bercerita secara sangat menyentuh di situs youtube-nya TED. Jika ia menggunakan ukuran ideal orang kebanyakan untuk mengukur hidupnya, mungkin ia sudah celaka. Namun wanita ini mengembangkan ukuran tersendiri untuk hidupnya, kemudian bisa berbagi cahaya kepada dunia.

Tatkala berumur belasan tahun, Sophie Andrews mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh ayahnya sendiri bersama teman-teman. Dan itu dilakukan berulang-ulang. Karena tidak tahan dengan keadaan menyedihkan seperti ini, Sophie lari dari rumah. Tidak tahu mesti pergi ke mana, di tengah jalanan ramai kota London ia melihat telepon umum. Di tengah kotak telepon umum ia melihat nomor telepon darurat yang bisa dihubungi. Singkatnya, meneleponlah ia ke sana. Sehingga rasa sakit dan luka jiwanya yang sangat mendalam didengarkan secara sabar, telaten, halus dan tulus oleh orang di seberang sana. Ini dilakukan berulang-ulang sampai Sophie bangkit dari hidupnya yang sangat terpuruk.

Karena merasa berhutang budi pada organisasi yang menyelamatkan jiwanya, wanita asli Inggris ini kemudian menyediakan diri untuk menjadi pelayan yang tidak memungut biaya. Singkat cerita, bertumbuhlah ia di sana menjadi seorang pelayan dengan cara menjadi pendengar di telepon. Mendengarkan banyak sekali jiwa gelisah dan resah. Ada yang histeris, ada yang menangis. Ada yang mau bunuh diri, ada yang mau menceburkan diri. Ia tekuni profesi pelayan ini sampai puluhan tahun. Sampai suatu hari, wanita menyentuh ini berhasil menjadi CEO (chief executive officer) alias orang nomor satu di organisasi pelayanan dengan ribuan pekerja.

Bahan kontemplasinya untuk para sahabat, inilah yang dilakukan oleh the alchemist zaman dulu. Mengubah besi menjadi emas. Mengubah penderitaan mendalam menjadi prestasi hidup yang sangat mengagumkan. Andaikan Sophie Andrews menggunakan ukuran-ukuran ideal remaja pada umumnya, mungkin ia sudah bunuh diri. Dalam ukuran ideal orang kebanyakan, remaja belasan tahun seharusnya tumbuh dirawat keluarga di rumah yang sehat. Tapi yang dialami Sophie, ia diperkosa oleh ayahnya sendiri. Bahkan bersama teman-teman mereka. Sebuah gambaran yang kontras dan sangat menyedihkan.

Dari pembandingan tidak adil dan tidak sehat seperti inilah lahir pertanyaan berbahaya: “Apa yang salah dengan jiwa saya”. Sedikit yang menyadari, pertanyaan apa yang salah membuat seseorang mirip lumpur yang mengundang datangnya cacing. Serupa sampah yang mengundang datangnya lalat. Ini juga yang menyebabkan banyak jiwa-jiwa gelisah tumbuh dari satu rasa resah ke rasa resah yang lain. Hidup dari satu bisikan bunuh diri ke bisikan bunuh diri yang lain. Agar hal-hal berbahaya di dalam berevolusi menjadi hal-hal bercahaya, ucapkan selamat tinggal pada pertanyaan berbahaya dalam bentuk “apa yang salah dengan jiwa saya”.

Sebagaimana sering disarankan pada banyak sekali sahabat, yang terpenting bukan apa yang terjadi, tapi mengolah apa yang terjadi menjadi bahan-bahan pertumbuhan. Lebih dalam dari itu, gunakan rasa sakit di dalam tidak untuk mencelakai diri, tapi untuk mengurangi penderitaan banyak jiwa yang terluka di alam ini. Itu sebabnya, di jalan Compassion khususnya, sudah lama ditulis pesan seperti ini: “Ia yang belajar spiritual dengan niat mulia untuk mengurangi penderitaan di alam ini, akan bertumbuh jauh lebih cepat dibandingkan orang yang belajar spiritual untuk kepentingan lain seperti komersial misalnya”.

Itu sebabnya, sahabat-sahabat dekat di keluarga Compassion tidak bosan-bosan disegarkan ingatannya, kurangi bertanya apa yang salah. Selalu kembangkan keyakinan di dalam bahwa Anda jiwa yang indah. Di alam ini, sampah sedang berevolusi menjadi bunga indah, kegelapan sedang berevolusi menjadi cahaya indah. Dengan cara yang sama, asal tekun, tulus dan halus, Anda pun bisa mengolah luka jiwa menjadi jiwa yang sangat indah. Dalam cerita Sophie Andrews, ia tidak saja berevolusi menjadi jiwa yang indah, tapi juga berhasil berbagi cahaya yang sangat indah. Resep yang ditemukan pun tidak terlalu susah: “The best help is one who listen emphatically without judgement”. Bantuan terbaik yang bisa diberikan ke orang lain adalah telinga yang bebas dari penilaian buruk-baik, serta hati yang kaya dengan empati. Tiap sahabat yang bertumbuh di jalan ini mengerti. Awalnya mendengarkan membuat kita merasa tidak menderita seorang diri. Kemudian mendengarkan membuat jiwa tumbuh dalam harmoni. Ujungnya, mendengarkan membuat jiwa kaya akan empati.

Penulis: Guruji Gede Prama.

Photo: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.