Kesembuhan

Beragama Dengan Tindakan

Ditulis oleh Gede Prama

Menjamurnya penganut ateis di Barat khususnya sedang bercerita kalau semakin banyak orang yang berjarak dengan agama. Persisnya, berjarak dengan organisasi keagamaan. Terutama karena di mana-mana agama karismanya terus menerus menurun. Di Timur tidak banyak berbeda. Tidak sedikit generasi baru yang lapar jawaban, kemudian sangat kecewa ketika pertanyaan mereka dijawab dengan dogma dan upacara. Lebih-lebih ketika melihat sepenggal ajaran agama digunakan untuk melukai bahkan membunuh orang lain, tidak sedikit yang sudah meninggalkan agama kendati hanya di dalam hati.

Belajar dari sini, penting untuk direnungkan sejak awal untuk beragama sesuai dengan tuntutan zaman kekinian. Zaman ini ditandai oleh semakin tingginya rata-rata pendidikan. Dan manusia lebih percaya pada mata mereka, dibandingkan telinga mereka. Salah satu sebab penting kenapa wibawa agama sangat menurun, telinga manusia mendengar banyak sekali hal yang indah di ayat-ayat suci agama. Tapi mata manusia zaman ini, melihat terlalu sedikit hal-hal indah dari mereka yang berkecimpung di dunia agama. Tidak elok dan tidak indah membicarakan kekurangan dan ketidaksempurnaan orang. Apa lagi di ruang-ruang publik.

“Tatkala muka terlihat jerawat di cermin, jangan pernah memecahkan cermin. Obati jerawatnya”, demikian bunyi sebuah pesan tua. Pesan bimbingannya, ketika melihat banyak hal tidak indah di luar, jangan menggunakannya sebagai bahan untuk menimbulkan masalah. Sebaliknya, gunakan ia sebagai masukan agar taman jiwa di dalam semakin indah. Untuk itu, langkah pertama sekaligus paling utama menuju taman jiwa yang indah adalah mempercakapkan hanya hal-hal indah di dalam. Di sesi-sesi meditasi sering terbuka rahasia, teman-teman yang sakit begini sakit begitu, percakapan di dalamnya penuh kritik dan perlawanan. Baik pada diri sendiri dan orang lain.

Yang sering terjadi, manusia menggunakan ukuran-ukuran ideal agama, atau ukuran-ukuran ideal dari tempat lain untuk mengukur kehidupan kekinian. Karena kehidupan bertumbuh dinamis, sementara ukuran-ukuran itu tidak dinamis, maka terjadilah benturan di dalam pikiran. Antara yang senyatanya dengan yang seharusnya. Dari sinilah datangnya kesimpulan bahwa agama telah membuat banyak manusia sakit mental. Persisnya, ukuran-ukuran ideal agama membuat pikiran manusia mengeras seperti batu. Sementara kehidupan selalu mengalir seperti air. Ini muara dari banyak sekali kritik berlebihan pada diri sendiri, sekaligus awal dari banyak sekali kehidupan yang terbakar.

“Surrender to what is”, itu pesan yang sering terdengar di dunia meditasi. Maksudnya, agar percakapan di dalam jadi lebih indah belajar berdekapan dengan setiap kekinian. Tanpa syarat apa-apa. Dalam bentuknya yang lebih dalam, latih diri untuk bersahabat dengan ketidaknyamanan. Terutama karena beragama tidak beragama, meditasi tidak meditasi, berdoa tidak berdoa, ketidaknyamanan akan senantiasa berkunjung lagi dan lagi. Ia sesederhana musim hujan gelap yang datang setiap tahun. Taman jiwa di dalam akan mulai tumbuh indah, begitu seseorang mulai bisa menerima ketidaknyamanan, sesederhana sang waktu menerima datangnya musim hujan.

Tanda-tanda awal menuju ke sana, seseorang mulai lebih banyak mempercakapkan hal-hal indah di dalam. Konkretnya, mulai bisa melihat sisi-sisi indah dari masalah. Mulai bisa bersyukur dan berterimakasih. Seperti taman bunga indah yang mengundang datangnya lebah, percakapan di dalam yang positif dan indah juga mengundang wajah kehidupan yang juga indah. Di Barat ada yang menyebutnya dengan the law of attraction (hukum daya tarik). Untuk itu, setelah percakapan di dalam jadi lebih indah, langkah ke dua agar taman jiwa di dalam jadi indah adalah menjaga diri dengan kebaikan dalam tindakan. Kapan saja dan di mana saja, begitu ada kesempatan berbuat baik, cepat dilaksanakan.

Dari mematikan sakelar lampu yang lupa dimatikan, memindahkan batu berbahaya di tengah jalan, menyeberangkan orang tua yang mau menyeberang, mendekap anak yang sedang menangis, sampai secara tulus mau mendengarkan orang tua yang kesepian. Di lapangan sering terlihat, manusia yang memahami kehidupan melalui tindakan yang penuh kebaikan, cahaya jiwanya jauh lebih indah dibandingkan ia yang memahami kehidupan hanya melalui bacaan dan perdebatan. Lebih-lebih ia yang menggunakan bacaan untuk menyerang dan menjatuhkan orang, tidak sedikit yang meluncur turun ke jurang berbahaya secara sangat menyentuh.

Langkah ke tiga yang tidak kalah pentingnya dalam membuat taman jiwa di dalam jadi indah adalah belajar berterimakasih dan bersyukur. Tidak ada jembatan keterhubungan yang lebih kokoh dan lebih indah dari hati yang penuh dengan rasa syukur dan rasa terimakasih. Bersama jembatan jenis ini, seseorang tidak pernah merasa kesepian. Seisi alam terasa menjadi sahabat dekat kita. Di jalan setapak ini sering terdengar pesan indah seperti ini: “Doa tidak diciptakan untuk membuat kehidupan agar selalu indah. Doa diciptakan agar jiwa selalu tersenyum indah. Termasuk tersenyum indah ketika kehidupan dikunjungi masalah”.

Kombinasi unik antara percakapan di dalam yang senantiasa indah, keseharian yang dijaga oleh sikap yang indah, serta hati yang selalu indah, membuat tubuh manusia bernasib seperti lentera berjalan. Jangankan ketika kehidupan bermandikan cahaya pujian dan kesuksesan, bahkan ketika kehidupan dikunjungi kegelapan kegagalan pun, seseorang masih melihat jalan ke luar di sana-sini. Dalam psikologi Carl Jung, ia disebut synchronicity. Kehidupan ditandai oleh kebetulan-kebetulan yang kaya dengan makna. Ada banyak perjumpaan-perjumpaan penuh makna yang tidak direncanakan. Di mana ada pertanyaan, di sana ada jawaban. Di mana ada masalah, di sana ada jalan keluar.

Di tingkatan seperti ini, seseorang tidak lagi terlalu lapar dengan buku suci di luar. Hati yang indah, itulah buku suci di dalam yang tidak pernah habis untuk dibaca. Sementara sebagian orang menjadi baik karena diancam oleh penjara dan neraka, jiwa-jiwa indah jenis ini menjadi baik karena menemukan rumah jiwa di sana. Ia sesederhana lumba-lumba yang menemukan lautan, sesimpel kupu-kupu yang menemukan taman. Inilah persisnya yang dimaksud dengan beragama melalui tindakan. Ini juga wajah agama yang sangat dibutuhkan oleh generasi baru yang sudah disentuh oleh rata-rata pendidikan yang jauh lebih tinggi.

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo courtesy: Pinterest

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.