Kesembuhan

Renungan hari raya Nyepi: Musik Terindahnya Jiwa

Ditulis oleh Gede Prama

Dulunya, ide tentang segala sesuatu serba terhubung hanya terdengar di dunia spiritual. Sekarang, ia sudah memasuki dunia akademis. Seorang sahabat dekat di Amerika Serikat bercerita, di sejumlah Universitas terkemuka sudah mulai muncul bidang astro biology yang memadukan astronomi (ilmu perbintangan) dengan ilmu biologi. Di bidang kajian ini, ilmuwan menemukan, tubuh manusia dibentuk dari pecahan-pecahan yang sama dengan bahan-bahan yang membentuk bintang-bintang. Akibatnya, gerak-gerik manusia tidak saja mempengaruhi dinamika di muka bumi, tapi juga ikut mempengaruhi dinamika di dunia astronomi.

Sejalan dengan ini, di dunia fisika kuantum sudah lama terdengar pesan ini: “Patahnya sayap kupu-kupu di Okinawa ikut mempengaruhi cuaca di Australia”. Lagi-lagi ia bercerita tentang semuanya yang serba terhubung. Yang layak direnungkan, pertumbuhan ekonomi di mana-mana cepat sekali. Bahkan yang tercepat di sepanjang sejarah. Melihat apa yang terjadi di lapangan, tidak semua asumsi ilmu ekonomi benar. Salah satu asumsi ilmu ekonomi yang layak dipikirkan ulang adalah anggapan bahwa semakin tinggi pertumbuhan ekonomi, maka semakin sehat jiwa manusia. Angka-angka statistik di negeri maju, malah bercerita sebaliknya.

Ekologi jiwa

Angka bunuh diri, perceraian, konsumsi pil tidur, pengidap sakit kronis semuanya meroket naik di negeri maju. Di beberapa negara bagian di Amerika Serikat, bunuh diri bahkan dilegalkan. Laporan tentang kebahagiaan dunia di tahun-tahun terakhir bercerita, lebih dari 1 milyar manusia di muka bumi terkena penyakit depresi dan ketakutan berlebihan. Di negeri berbahasa lembut Inggris, satu dari tujuh anak mengalami ketidakseimbangan mental (mental disorder). Ia bercerita terang benderang, pertumbuhan ekonomi ternyata telah menimbulkan dampak ekologi yang parah sekali. Tidak saja ekologi di luar parah, ekologi di dalam jiwa manusia juga parah. Itu sebabnya, wacana di ruang-ruang publik tambah lama tambah bikin gerah.

Cara berbicara presiden negara adi kuasa Amerika Serikat Donald Trump lengkap dengan kata-katanya yang tidak sedap, tidak saja bercerita tentang ekologi jiwa seorang Donald Trump, tapi juga bercerita tentang ekologi jiwa banyak manusia. Terutama karena pemimpin dipilih oleh orang banyak. Perebutan kekuasaan di dunia politik, tidak ada yang tidak melibatkan kekerasan kata-kata. Demikian juga komunikasi di tingkat bawah, keadaannya sama saja. Jika dilihat dalam catatan sejarah, konflik senjata di dunia memang menurun beberapa tahun terakhir, tapi konfliknya bergeser dari konflik menggunakan senjata menjadi konflik menggunakan kata-kata. Dan luka jiwa yang ditimbulkan perang kata-kata tidak kalah parahnya dibandingkan konflik senjata.

Lembaga kesehatan dunia WHO sudah lama meramalkan bahwa mulai tahun 2020, dunia akan lebih dibebani oleh sakit mental dibandingkan sakit fisik. Sahabat-sahabat yang intensif melakukan pelayanan di tengah masyarakat mengerti, di sana-sini terlihat jiwa manusia dengan ekologi yang sangat menyentuh. Di kelas-kelas meditasi terlihat terang, bagaimana kata-kata orang tua yang tidak dewasa khususnya, menimbulkan luka jiwa yang demikian dalam. Dan luka jiwa ini kembali menjadi beban orang tua kemudian. Masa tua yang diniatkan indah, kemudian berubah menjadi penuh musibah. Bayangkan, tubuh tua yang lemah harus menggendong anak yang sakit mental.

Musik yang menyembuhkan

Dari zaman ke zaman terlihat, setiap kali tumbuh penyakit selalu diikuti oleh lahirnya obat. Di putaran waktu ketika ekologi jiwa manusia demikian parah, di sana-sini terlihat orang berbicara tentang daya sembuh musik. Di Inggris ada Chloe Goodchild yang mendalami daya sembuh musik secara dalam sekali. Di Amerika Serikat berlimpah orang yang menekuni daya sembuh musik. Di tengah maraknya tawaran orang akan daya sembuh musik, sedikit yang ingat kalau tokoh tua di dunia musik yakni Mozart pernah berpesan: “Musik terindah adalah ruang hening-bening diantara dua suara”.

Setelah mewawancarai ribuan sahabat yang sakit mental di sesi-sesi meditasi, para sahabat yang sakit mental di dalamnya riuh sekali. Ada yang riuh oleh kritik pada diri sendiri, ada yang super ramai dengan cara mempertentangkan benar melawan salah. Bagi orang jenis ini, jangankan cacian orang, bahkan buku suci pun membuat jiwa jadi tambah sakit. Terutama karena ukuran-ukuran ideal yang ada di buku suci digunakan untuk melukai diri sendiri dan orang lain. Orang lain yang dilukai kemudian menyerang dengan serangan balik yang jauh lebih melukai. Ini yang disebut oleh banyak kalangan di Barat sebagai agama membuat banyak manusia jadi sakit mental.

Di titik inilah kita sebaiknya mengingat kembali pesan Mozart untuk menyentuh ruang hening-bening diantara dua suara. Yang sering disarankan di kelas meditasi sederhana, setinggi apa pun pencapaian spiritual seseorang, kehidupan akan senantiasa bergelombang. Dan meditasi tidak ada di sini untuk menghentikan gelombang. Tapi mengajak para sahabat untuk berselancar di atas gelombang. Papan selancarnya bernama ketekunan untuk menyaksikan dengan penuh belas kasih. Sedih-senang, salah-benar, duka-suka, semuanya disaksikan dengan penuh belas kasih. Pengandaiannya sederhana, diri yang sejati mirip dengan layar komputer. Semua dualitas seperti salah-benar adalah gambar yang datang silih berganti.

Gambar api tidak membakar layar komputer, gambar air tidak membuatnya basah. Semua hanya numpang lewat. Pedoman praktisnya, ketika mendengar orang marah misalnya, belajar menyentuh ruang hening-bening diantara dua suara. Sebut saja orang marah mengeluarkan kalimat: “Anda tolol”. Diantara kata “Anda” dengan kata “tolol” ada ruang hening-bening. Latih diri untuk sesering mungkin bersentuhan dengan ruang hening-bening ini. Tidak sedikit murid meditasi yang berhasil disembuhkan oleh pendekatan ini. Sebagian orang menduga, kalau ruang hening-bening ini membuat manusia jadi tidak peduli.

Namun kawan-kawan yang sudah tersembuhkan di jalan ini mengerti, sebagaimana sifat alami air yang basah, sifat alami bunga yang indah, sifat alami jiwa yang hening-bening selalu rindu untuk membawa banyak jiwa agar mekar secara indah. Itu sebabnya, tidak semua jiwa terang bertumbuh dalam kesendirian. Sebagian bertumbuh di tengah keramaian bersahabatkan pelayanan. Bunda Teresa selama puluhan tahun tumbuh di kota kumuh Kalkuta. Nelson Mandela membayar mahal dengan cara dipenjara selama 27 tahun. Mahatma Gandhi membayar dengan harga yang lebih mahal karena tubuhnya wafat ditembak orang.

Di jalan setapak ini, doa tidak ada di sini untuk membuat hidup agar selalu indah. Doa ada di sini agar jiwa selalu tersenyum indah. Sahabat-sahabat di Bali sering disegarkan ingatannya, wajah Tuhan yang paling banyak disembah di Bali adalah keindahan. Jangankan tarian, bahkan batang kayu yang hanyut di kali pun diukir menjadi ukiran indah. Itu juga sebabnya, sahabat-sahabat dekat yang suka berdoa diberikan saran, setelah melantunkan doa Shanti (damai) tiga kali, ingat melantunkan doa Aham Prema (saya cinta kasih yang ada di sini untuk berbagi cinta kasih). Sebuah doa sederhana agar ekologi jiwa di dalam jadi semakin indah. Ini persisnya yang disebut musik terindahnya jiwa. Selamat hari raya Nyepi.

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo courtesy: Michael Brewer.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.