Kesembuhan

Masyarakat Tanpa Pemimpin

Ditulis oleh Gede Prama

“Berguru pada yang satu”, itu ciri dominan masyarakat tradisional di zaman dulu. Apa saja yang diperintahkan pemimpin di zaman itu, tanpa banyak berpikir orang kebanyakan akan mengikutinya. Sedikit ada protes dan perdebatan di sana. Apa lagi partai oposisi. Ia nyaris tidak terdengar. Di zaman ini lain lagi. Pemimpin melangkah ke mana, rakyat melangkah ke mana. Di Jepang sudah lama terjadi, dunia politik dan dunia usaha tidak terhubung. Di Swiss orang sering melakukan referendum untuk keputusan penting. Dengan kata lain, mereka tidak percaya dengan pemimpin. Di Rusia lebih parah lagi, orang tua sudah lama mendidik anak-anak seperti ini: “Jangan percaya siapa-siapa terkecuali percaya pada dirimu sendiri”.

Yang paling parah adalah Amerika Serikat di zamannya Donald Trump. Aspirasi pemimpin dan aspirasi masyarakat tambah hari semakin berseberangan. Kecenderungan seperti ini terjadi hampir di seluruh dunia. Orang-orang yang berkualitas sedikit yang tertarik memasuki dunia politik. Sementara dunia politik terus semakin asyik dengan dunia mereka sendiri. Jika ditelusuri lebih dalam, salah satu faktor penting yang membuat tidak terhubungnya pemimpin dengan masyarakat adalah menerapkan obat lama di zaman baru. Di zaman ketika rata-rata pendidikan masih rendah, masyarakat bisa bergerak karena ditakuti-takuti. Rasa takut ini juga yang menyebabkan masyarakat tradisional suka mendirikan lembaga pemasyarakatan. Merekrut banyak orang untuk jadi polisi dan tentara.

Mengacu pada temuan terkini dari behavioral neuro-scientist (ahli otak manusia dengan spesialisasi perilaku) Tali Sharot dari Universitas Harvard – sebagaimana dipresentasikan di situ youtube-nya TED – masyarakat kekinian jika diancam-ancam dengan ketakutan, perilakunya tidak banyak berubah. Contoh yang paling mencolok adalah larangan merokok di papan iklan dan bungkus rokok. Bunyi larangannya sangat menakutkan: “Merokok membunuhmu”. Tapi kendati larangannya demikian menakutkan, konsumsi rokok terus bertumbuh dari tahun ke tahun. Masih mengacu pada temuan Tali Sharot, di negeri semaju Amerika Serikat hanya satu dari sepuluh pekerja kesehatan di rumah sakit yang cuci tangan mengikuti standar keamanan pemerintah.

Pengumuman tentang larangan penggunaan narkoba di banyak negara bahkan lebih mengancam lagi. Di berbagai bandara dipasang papan pengumuman seperti ini: “Pembawa narkoba antarnegara diancam hukuman mati”. Di bagian lain bandara sejumlah negara, pembawa narkoba bahkan diancam ditembak di tempat. Sebagaimana telah terlihat dari tahun ke tahun, kuantitas dan kualitas pengguna narkoba terus bertambah dari tahun ke tahun. Di sebuah desa di Bali, kepala desa meningkatkan biaya denda perceraian hingga 10 kali lipat. Dengan niat agar angka perceraian bisa diturunkan. Hasilnya, angka perceraian tidak menurun, malah terus menaik.

Kesimpulan Tali Sharot setelah meneliti banyak fenomena seperti ini sederhana: “Masyarakat kekinian lebih mudah diajak berubah berdasarkan persuasi positif dibandingkan ancaman yang bersifat negatif”. Pengalaman keluarga spiritual Compassion membimbing masyarakat di social media selama puluhan tahun searah dengan kesimpulan terakhir ini. Setiap kali ada pesan yang berbau negatif sedikit saja, langsung saja ada perlawanan dari banyak orang. Namun begitu pesan berbau sepenuhnya positif, lebih-lebih mereka merasa diuntungkan oleh pesan yang disampaikan, respon negatif nyaris tidak ada. Sebaliknya, banyak orang mau diajak berubah secara indah.

Pelajaran penting buat para sahabat pemimpin, pengusaha, serta penentu arah masa depan, sudah saatnya meninggalkan obat tua dan lama yang menganggap masyarakat akan berubah dengan cara ditakut-takuti. Sudah waktunya mencoba obat yang baru. Terutama karena zamannya baru, serta bioritme alam juga berubah. Acuan terpenting dalam hal ini sederhana: “Masyarakat lebih mungkin diajak berubah melalui persuasi positif dibandingkan ancaman negatif”. Di dunia psikologi sepuluh tahun terakhir, tidak sedikit sahabat yang berpesan terang seperti ini: “Zaman kita adalah zamannya psikologi positif”.

Di keluarga spiritual Compassion, kami telah berkumpul selama bertahun-tahun saling melayani. Tidak pernah memungut uang dari peserta meditasi. Karena sumbangan peserta didonasikan pada pengelola di mana kami meminjam tempat, atau digunakan untuk bayar hotel tempat kami berteduh. Tidak ada jabatan. Tidak ada uang untuk kawan-kawan. Tapi tidak sedikit sahabat yang merasa aman dan nyaman bertumbuh di sini. Salah seorang pengusaha hotel bahkan secara polos pernah bergumam: “Bersama keluarga Compassion kami tidak dapat apa-apa, tapi kami semua merasa nyaman dan aman. Sebuah lingkungan sejuk yang tidak didapatkan di tempat lain”.

Setelah berlalu selama bertahun-tahun, terlihat jelas teman-teman nyaris tidak pernah dimarahi. Kalau pun ada orang yang membahayakan dirinya dan membahayakan orang lain, jumlahnya sangat sedikit. Itu pun mereka diminta menjauh secara sangat halus dan sangat terhormat. Pengalaman tangan pertama ini sedang membenarkan kesimpulan Tali Sharot: “Orang-orang lebih mudah diajak berubah berdasarkan persuasi positif dibandingkan ancaman yang bersifat negatif”. Ajakannya untuk para pemimpin, mari belajar berkomunikasi ke publik lebih berdasarkan persuasi positif dibandingkan ancaman yang bersifat negatif.

Hanya sebagai contoh, layak direnungkan bagi petugas pajak untuk berkomunikasi seperti ini: “Sembilan dari sepuluh orang bahagia ternyata membayar pajak”. Teman-teman di departemen kesehatan yang bertugas untuk mengurangi jumlah perokok, coba belajar berkomunikasi seperti ini: “Orang-orang yang menuanya indah semuanya tidak merokok di usia muda”. Lebih dalam dari sekadar gaya komunikasi, masyarakat lebih memerlukan keteladanan. Jika ingin masyarakat bayar pajak, yakinlah kalau uang negara tidak dikorupsi. Bila ingin masyarakat tidak merokok, yakinlah kalau pemimpin publik tidak menimbulkan terlalu banyak stres di ruang publik yang bisa memicu banyak orang lari ke rokok.

Tanpa keberanian jenis ini, tidak sedikit pemimpin yang akan ditinggalkan orang. Yang lebih tragis kalau pengalaman Swiss terjadi di sini. Masyarakat memilih untuk memimpin dirinya sendiri melalui referendum. Di tengah informasi yang serba negatif seperti saling membohongi dan saling mengancam, referendum hanya akan memperpanjang daftar panjang kekerasan yang telah panjang. Di titik inilah kearifan kepemimpinan diperlukan: “Seorang pemimpin tidak lahir untuk memerintah. Seorang pemimpin lahir untuk memperindah”. Medianya tidak lagi bibir yang mengancam, tapi telinga yang tulus untuk mendengarkan.

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo courtesy: Pinterest

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.