Kesembuhan

Seni Memaafkan

Ditulis oleh Gede Prama

“Teruslah belajar memaafkan. Bukan karena orang lain penting. Tapi karena kedamaian Anda sangat penting”, begitu bunyi sebuah kearifan tua. Di zaman ini, pemahaman manusia akan pentingnya memaafkan bahkan lebih dalam lagi. Di kelas-kelas meditasi di Barat, di mana peserta meditasi otaknya dipantau dengan mesin pengukur gelombang otak bernama EEG, di sana muncul temuan sangat penting. Tanpa keberanian dan ketulusan untuk memaafkan, jiwa mana pun pertumbuhannya akan sangat terhalang. Seperti pohon yang terhalangi pohon lain, ia tidak akan tumbuh tinggi.

Di sesi-sesi meditasi sering terbuka rahasia, ia yang gagal memaafkan selama puluhan tahun tubuhnya dikunjungi penyakit kronis seperti kanker. Hubungannya dengan orang dekat dibakar oleh masalah. Ada yang mendengar bisikan bunuh diri. Tidak sedikit yang tidak bisa makan kendati uangnya sangat berlimpah. Banyak yang sulit mendapatkan rezeki. Intinya sederhana, kegagalan memaafkan seperti tembok tebal dan tinggi yang membuat seseorang gagal menemukan wajah kehidupan yang penuh kesembuhan, keberlimpahan dan kedamaian. Ia tidak menyisakan pilihan lain selain belajar seni memaafkan.

Memaafkan adalah kata sederhana, tapi bisa sangat membingungkan di lapangan. Jika mendekap orang yang melukai, jangan-jangan ia akan tambah melukai. Bila mendekati orang menghina, bukan tidak mungkin ia akan besar kepala. Seumpama orang mencerca dimaafkan, ia tidak akan tahu kalau yang dilakukan telah melukai hati banyak sekali orang. Ketika memaafkan, hati yang sakit akan terasa tambah sakit. Itulah sebagian kebingungan tentang memaafkan yang kerap terjadi di lapangan. Ujungnya, banyak sahabat yang berniat mulia mau memaafkan kemudian tidak jadi memaafkan.

Agar para sahabat sehat dan selamat, belajar membaca kompas petunjuk arah perjalanan di dalam. Jika di dalam terasa sangat sering terluka, lebih-lebih sangat peka, belajar memaafkan hanya di dalam hati saja. Kenali jejaring penderitaan orang yang melukai. Dari masa kecil yang bermasalah, keluarga yang penuh musibah, sampai sekolah yang bikin tidak betah. Dan di balik rasa sakit yang mereka timbulkan bukan kejahatan, tapi jiwa yang sangat terluka. Jiwa yang sangat terlukalah yang secara tidak sadar membuat orang ini menyakiti Anda. Setelah jejaring penderitaannya terbuka, bisikkan di alam doa semoga orang ini sehat dan selamat.

Agar doa Anda menyembuhkan ke luar dan ke dalam, dalami anatomi rasa sakit di dalam. Seseorang jiwanya terluka tidak saja karena reaksi orang di luar, tapi juga karena sempitnya ruang-ruang pengertian di dalam. Dari pikiran sempit picik yang memaksa diri selalu benar serta menyebut orang lain selalu salah, perasaan-perasaan tertekan dari masa kecil yang membuat para sahabat terlalu mudah terluka, sampai dengan karma buruk yang sedang berbuah. Simpelnya, rasa sakit yang dialami sekarang adalah buah dari rasa sakit yang pernah ditimbulkan ke orang lain di waktu lalu. Jika Anda tidak dendam dan tidak melawan, utang karmanya lunas. Bila para sahabat melawan penuh dendam, tidak saja hutang karmanya tidak lunas, bahkan menciptakan karma buruk baru yang akan berbuah kemudian.

Pilihan kedua untuk para sahabat yang sangat peka dan mudah terluka, belajar komunikasi telepatik yang sehat. Praktisnya, sesering mungkin bayangkan sisi-sisi baik dari orang melukai. Entah pernah dikasi uang, dipinjami barang, diajak makan, atau malah pernah diselamatkan. Panggil memori indah bersama orang melukai ini sesering mungkin. Para sahabat yang suka berdoa menggunakan sarana cahaya seperti dupa dan lilin, ketika menyalakan cahaya panggil lagi memori-memori indah tentang orang melukai. Lebih terang memori itu muncul lebih bagus. Bayangkan bibirnya yang tersenyum. Visualisasikan wajahnya yang tulus saat membantu Anda. Ingat juga rasa bahagia Anda ketika dibantu.

Sebagaimana dialami oleh tidak sedikit praktisi komunikasi telepatik dalam hal ini, tidak sedikit orang-orang yang menghina, mencerca, menimbulkan luka, yang datang tanpa diudang, kemudian menceritakan rasa bersalah. Serta meminta maaf secara sangat mendalam. Inilah bentuk solusi memaafkan yang menang-menang. Kedua belah pihak terasa terang dan menang. Setelah ini terjadi, jangan berhenti melakukan komunikasi telepatik positif jenis ini. Orang yang melukai memang telah minta maaf, namun Anda memerlukan perisai pelindung spiritual di sepanjang perjalanan. Dan pikiran baik serta indah di sepanjang perjalanan adalah perisai pelindung yang sangat menjaga.

Pilihan praktis lain yang tersedia, selama di dalam masih terbakar dan terluka, jauhi tempat dan lingkungan yang memungkinkan seseorang mengingat kembali luka jiwa yang ada. Ingatkan diri lagi dan lagi, ketika Anda menjauh dari orang melukai, Anda tidak saja sedang menjaga diri. Tapi juga menjaga orang lain dari kemungkinan untuk melukai. Dengan kata lain, dampak positifnya terjadi di kedua belah pihak. Selalu pertahankan keadaan pikiran yang netral. Jauh dari negatif dan positif. Anda yang telah belajar meditasi, sangat disarankan untuk sesering mungkin istirahat dalam jeda (baca: ruang hening bening) diantara dua nafas, diantara dua pikiran, diantara dua perasaan. Pendekatan ini juga sangat membantu.

Seorang sahabat yang lama jiwanya terluka, menyembuhkan diri selama bertahun-tahun dalam kesendirian, bersahabatkan istirahat dalam jeda serta memaafkan kemudian sembuh. Ia menunggu sampai pihak yang melukai punya acara super penting. Ketika orang yang pernah sangat melukai mantu (putrinya menikah), ia datang tanpa diundang sama sekali. Tidak sedikit orang yang kaget di sana. Tapi jiwa yang sembuh karena memaafkan membuat sahabat ini sangat tenang. Kemudian berbagi vibrasi indah tidak saja pada jiwa di dalam, tapi juga bervibrasi indah pada lingkungan sekitar. Ini yang sering disebut sebagai berceramah melalui sikap yang indah. Ceramah tanpa suara yang berbagi banyak Cahaya.

Di tengah dunia yang ditandai oleh banyak kekerasan mengerikan, pertengahan Maret 2019 di negeri damai bernama Selandia Baru bahkan ada tempat suci ditembaki orang secara sangat keji, tanpa kearifan memaafkan seperti ini, bahkan agama pun bisa membuat perjalanan jiwa jadi celaka. Dan nyaris semua kekerasan mengerikan seperti ini memiliki akar sejarah yang sangat panjang. Tanpa keberanian spiritual untuk memaafkan, mata rantai kekerasan ini akan terus berlanjut ke generasi-generasi berikutnya. Bahkan bisa memproduksi kekerasan dalam skala yang jauh lebih besar. Makanya di dunia memaafkan, sering terdengar pesan seperti ini: “Memaafkan memang tidak mengubah masa lalu. Tapi memaafkan secara meyakinkan bisa mengubah masa kini jadi jauh lebih damai”.

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo courtesy: Ada Delilah

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.