Kesembuhan

Pernikahan Terindah

Ditulis oleh Gede Prama

Tidak banyak orang yang terlahir dan tumbuh di tengah kegelapan, kemudian bisa keluar dari kegelapan, serta berbagai Cahaya. Salah satu diantara manusia langka ini adalah Tracy McMillan. Sebagaimana diceritakan di situs youtube-nya TED, wanita yang lahir dari Ibu yang berprofesi sebagai pekerja seks komersial, ayahnya seorang pengedar narkoba, serta sudah pernah gagal dalam pernikahan selama tiga kali, ternyata menyimpan rahasia sangat indah. Mungkin rahasia sangat indah yang paling dicari oleh banyak sekali orang.

Rahasia itu ternyata sederhana namun sangat mendalam: “Sebelum menikah dengan orang lain, sebaiknya belajar menikah dengan diri sendiri terlebih dahulu”. Tidak sedikit psikolog dengan spesialisasi percakapan di dalam sepakat, manusia modern banyak yang tidak jujur dengan dirinya sendiri. Persisnya, hanya mau mempercakapkan yang baik-baik saja. Tidak saja saat bercakap-cakap dengan orang lain hanya mau disebut baik, saat bercakap-cakap dengan diri sendiri pun hanya mau yang baik-baik saja. Itulah salah satu bentuk kegagalan untuk menikah dengan diri sendiri. Akibatnya, pertumbuhan jiwa di dalam jadi tidak sehat dan tidak seimbang.

Ketidakseimbangan di dalam inilah yang muncul ke permukaan dalam bentuk respon pada lingkungan sekitar yang juga tidak seimbang. Perceraian, anak yang sakit mental, kekerasan, penyakit dan segala bentuk rasa sakit adalah wajah permukaan dari ketidakseimbangan di dalam. Jika tidak segera disembuhkan, ketidakseimbangan ini bisa bertumbuh menjadi sejumlah hal yang berbahaya. Ajakannya untuk para sahabat, mari belajar menjadi pahlawan penyelamat bagi diri sendiri. Kemudian ada kemungkinan bisa menjadi pahlawan penyelamat bagi orang lain.

Diperlukan jiwa pemberani untuk bisa melihat sisi-sisi buruk dan sisi-sisi gelap di dalam, begitu salah satu pesan di jalan spiritual mendalam. Dengan kata lain, jalan setapak ini hanya untuk jiwa-jiwa yang kokoh dan tidak mudah roboh. Bagi yang labil, lebih-lebih sering sakit, gunakan pengetahuan ini hanya untuk menambah wawasan. Boleh dilaksanakan, nanti setelah di dalam terasa jauh lebih kokoh dan stabil. Mark Matousek dalam maha karyanya yang berjudul “Writing to awaken” punya saran praktis namun mendalam: “Beri tahu diri Anda secara jujur dan utuh. Ketika kisah di dalam jujur dan utuh, kemudian kehidupan pun bisa bertumbuh jujur dan utuh”.

Untuk itu, perjalanan panjang menikah dengan diri sendiri bisa dimulai dengan membuat daftar panjang tentang hal-hal buruk yang pernah dilakukan. Tentu bukan untuk membangkitkan rasa bersalah. Bukan juga untuk membuat para sahabat dikejar rasa berdosa. Sekali lagi bukan. Tapi mengajak para sahabat untuk jujur pada diri sendiri. Kemudian melihat diri sendiri secara utuh dan komplit. Tidak saja punya hal baik, tapi juga punya hal buruk. Tidak saja punya kelebihan tapi juga punya kekurangan. Fisikawan nuklir David Bohm dalam maha karyanya “Health and the implicate order” berpesan bahwa kata kesehatan (health) berasal dari kata keutuhan (whole). Seseorang baru sembuh kalau tumbuh utuh.

Awalnya ada yang melawan di dalam ketika diajak membuat daftar panjang keburukan dan kesalahan. Maklum, manusia sudah dikondisikan dalam waktu yang sangat lama untuk menerima hanya yang baik-baik saja. Di titik inilah, seseorang diajak untuk menjadi seorang pemberani secara spiritual. Dalam bahasa murid-murid di jalan Carl Jung, belajar berani menjumpai sang bayangan. Maksudnya, menjumpai sisi-sisi buruk dan sisi gelap di dalam diri. Ketakutan dan keraguan sering menggoda untuk mengatakan tidak dalam hal ini. Tidak terhitung jumlah argumen yang akan dibawa ke permukaan oleh ketakutan dan keraguan. Kendati demikian, teruslah jumpai sisi-sisi gelap di dalam.

Langkah praktisnya, begitu teringat hal-hal buruk dan salah yang pernah dilakukan sejak masa kecil, tulis ia dalam daftar panjang. Serta di tempat yang sangat rahasia. Dari pernah mencuri uang ketika kecil, pernah menggugurkan kandungan ketika remaja, sampai sering memarahi anak ketika baru menikah. Seperti memasuki ruang gelap, ketakutan akan ular dan segala bayangan gelap lainnya akan muncul ke permukaan. Sejauh seseorang membekali diri dengan niat mulia untuk menyembuhkan diri dan menyembuhkan orang lain, tidak ada yang perlu ditakuti. Di jalan spiritual mendalam sering terdengar pesan seperti ini: “Compassion is the best protector”. Belas kasih (baca: niat mulia untuk mengurangi penderitaan di alam ini) adalah pelindung yang paling baik.

Sebagai bahan renungan, bahkan jiwa-jiwa sangat suci pun memerlukan kesalahan di awal sebagai ruang-ruang untuk bertumbuh. Sang Rama memanah kaki Subali ketika masih anak-anak. Pangeran Siddharta yang belakangan menjadi Buddha mengecewakan ayahandanya serta istrinya, karena lari pagi-pagi meninggalkan istana serta menjadi petapa. Begitulah cara jiwa bertumbuh di alam ini. Hanya tahu yang benar kalau pernah salah. Hanya tahu yang baik kalau pernah melakukan hal-hal buruk. Agar sehat selamat, belajar menjadi tukang taman terampil di taman jiwa di dalam. Maksudnya, kesalahan seperti daun kering. Asal ditempatkan di bawah pohon bunga, suatu hari ia akan berevolusi menjadi bunga yang indah.

Diantara semua bentuk ketrampilan spiritual, yang bisa dicoba adalah ketrampilan untuk selalu berterimakasih dan bersyukur. “Gratitude is engine of holistic change”, begitu pesan seorang sahabat di Barat. Senantiasa berterimakasih dan bersyukur adalah mesin spiritual yang mudah membantu seseorang untuk tumbuh dalam ke-u-Tuhan. Untuk itu, latih diri lagi dan lagi untuk bersyukur dan berterimakasih. Termasuk bersyukur dan berterimakasih pada kekurangan dan kesalahan. Kekurangan dan kesalahanlah yang membimbing jiwa agar tumbuh semakin dewasa. Dalam bahasa yang sederhana namun dalam: “Kebahagiaan memang menyenangkan, tapi tidak ada pelajaran di sana. Kesedihan memang tidak menyenangkan, tapi berlimpah pelajaran yang ada di sana”

Begitu seseorang bisa melihat kesedihan dan kebahagiaan sama-sama sebagai pembawa pesan yang mendamaikan, di sana seseorang mulai belajar menikah dengan diri sendiri. Kahlil Gibran dalam Sang Nabi punya warisan spiritual yang terang benderang: “Tatkala seseorang bercengkrama dengan kebahagiaan di ruang tamu, kesedihan sedang menunggu di tempat tidur”. Dengan kata lain, manusia tumbuh serumah baik dengan kebahagiaan dan kesedihan. Karena serumah maka manusia tidak akan pernah bisa lari dari kesedihan khususnya. Kapan saja seseorang bisa memeluk sedih-senang sama mesranya, di sana ia bisa disebut telah menikah dengan diri sendiri. Bermodalkan pernikahan di dalam yang indah, jauh lebih mudah untuk bisa memiliki pernikahan di luar yang indah.

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo courtesy: Pinterest

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.