Kesembuhan

Merawat Orang-Orang Sulit

Ditulis oleh Gede Prama

Seperti apel busuk, jika ada satu saja yang super sulit di keluarga atau tempat kerja, ia akan mudah sekali menular. Zaman ini memang aneh, yang baik sulit sekali untuk disebarkan. Tapi yang buruk menyebarnya mudah sekali. Untuk itu, diperlukan kecerdasan super khusus agar orang-orang super sulit ini tidak menyebarkan aura negatif secara berlebihan. Di dunia lelucon, ada cerita seperti ini: “Jika orang bodoh kekurangan uang, paling-paling ia mencuri spion. Namun bila orang super pintar merasa kekurangan uang, tidak saja mobilnya bisa dibawa pergi, bahkan pabrik mobilnya pun bisa dibikin hancur”.

Pesan implisitnya, tingkatkan kewaspadaan kalau orang-orang super sulit itu datang dari kelompok yang super pintar. Daya hancurnya akan jauh lebih hebat. Tetua Jawa punya warisan spiritual yang layak diendapkan: “Orang bodoh kalah sama orang pintar. Orang pintar kalah sama orang licik. Tapi ada orang yang tidak bisa dikalahkan oleh orang licik, yakni seseorang yang senantiasa merasa beruntung”. Dari sinilah ilmu merawat orang super sulit sebaiknya dimulai. Kalau mau “mengalahkan” mereka, jangan coba-coba mengalahkannya dengan kepintaran, apa lagi kelicikan. Ia hanya akan memperpanjang daftar panjang kekerasan yang telah panjang.

Mulailah dengan melihat orang super sulit sebagai kekuatan di alam ini untuk meningkatkan energi keberuntungan. Persisnya, keberuntungan di dalam diri (the inner feng shui). Tanpa ampelas, kayu tidak akan halus serta menjadi patung yang indah. Tanpa angin menerjang, layang-layang tidak akan terbang. Tanpa pisau tajam, bambu tidak akan menjadi seruling bersuara sangat indah. Begitulah orang-orang super sulit sebaiknya ditempatkan. Mereka bukan sumber ancaman, mereka sedang membawa peluang untuk membuat jiwa memancar semakin terang. Dengan spirit seperti ini, di dalam akan muncul energi berlimpah untuk bisa merawat mereka.

Di jalan setapak belas kasih (compassion), ada obat yang sangat menyembuhkan ke dua belah pihak. Baik yang dilukai maupun yang melukai. Yakni mengenali jejaring penderitaan di balik orang-orang super sulit. Dari orang tua bermasalah, sekolah yang penuh musibah, keuangan yang selalu kekurangan, sampai jiwa yang selalu gelisah. Begitu jejaring penderitaan mereka terbuka, biasanya belas kasih langsung bangkit di dalam. Kualitas belas kasih di dalam yang sempurna, di satu sisi membuat seseorang terlindungi secara rapi. Pada saat yang sama, energi kreatif bangkit, serta mengirim vibrasi-vibrasi positif ke orang-orang yang berniat kurang terpuji.

Sahabat-sahabat yang tekun dan tulus di jalan ini mengerti, berlimpah cara dan akal yang sering muncul di lapangan. Untuk kepentingan praktis di lapangan, jauh lebih mudah menjinakkan orang super sulit menggunakan telinga dibandingkan bibir. Maksudnya, mendengarkan dengan penuh empati akan memberi dampak positif jauh lebih besar, dibandingkan dengan berargumen dan berdebat ke sana ke mari. Sering terjadi, orang-orang super sulit akan semakin sulit untuk dikendalikan kalau diajak berdebat. Lebih-lebih perdebatannya berbau menyerang. Ia akan membawa kedua belah pihak masuk jurang.

“Mendengarkanlah tanpa dikotori niat untuk membetulkan kesalahan orang lain”, begitu dasar ilmu the art of listening (seni mendengar). Melalui cara mendengar seperti ini, tidak saja yang didengarkan sejuk, yang mendengarkan juga sejuk. Lebih dalam dari itu, sering hadir energi-energi interaksi yang positif kalau dialog dilakukan tanpa nafsu berlebihan untuk membetulkan kesalahan orang lain. Lebih-lebih kalau cara mendengar seperti ini dikombinasikan dengan tatapan mata yang penuh penerimaan. Konkritnya, lihat lawan bicara seperti seorang Ibu melihat bayi tunggalnya yang sedang menangis.

Di kelas-kelas meditasi sering terlihat, perpaduan antara ketulusan untuk mendengarkan tanpa nafsu untuk membetulkan, dengan tatapan mata yang penuh penerimaan, sering membuat para sahabat menangis haru, bahkan sebelum pembicaraan dimulai. Terutama karena hadir energi-energi belas kasih yang halus dan tulus di sana. Orang-orang super sulit seperti menemukan Ibu yang mereka cari dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain. Dalam salah satu sesi meditasi pernah terjadi, anak yang super sulit berontak ke mamanya karena dikirim ikut sesi meditasi. Malamnya ia melarikan diri. Dengan niat yang sangat tidak terpuji.

Belum saja ia lari jauh dari tempat meditasi kami, segerombolan anjing menggiring anak ini agar kembali ke tempat meditasi. Karena anjing liarnya banyak dan galak, anak ini pun terpaksa kembali. Di sesi meditasi lain, ada remaja bermasalah yang ketergantungan obat yang memberi nasehat yang indah sekali: “Guruji, hati-hati dekat-dekat dengan orang seperti kami. Kalau telat mendapat obat sebentar saja bisa mengambil gelas untuk melempar muka orang yang sedang diajak berbicara”. Pesannya, begitu orang super sulit didengarkan dan diterima, tidak saja mereka tidak jadi menyerang, tapi ada kekuatan di alam ini yang ikut menjaga. Bahkan orang super sulit pun ikut menjaga.

Saran praktis lainnya, sesering mungkin lakukan komunikasi telepatik yang simpatik dengan orang super sulit. Konkritnya, sesering mungkin bayangkan kebaikan-kebaikan yang pernah mereka lakukan. Dari pernah dibantu, pernah diselamatkan, pernah diajak makan enak, serta daftar panjang kebaikan lainnya. Kemudian, doakan agar mereka sehat selamat. Sesakit dan setersinggung apa pun rasanya di dalam, jangan pernah tergoda untuk berpikir dan berbicara buruk tentang orang super sulit. Pendekatan ini tidak saja menyelamatkan orang lain. Ia malah lebih menyelamatkan perjalanan jiwa Anda sendiri.

Kata kuncinya terletak pada self-management. Ketekunan dan ketulusan untuk selalu menjaga diri agar senantiasa tenang dan seimbang. Jauh dari ketakutan dan kekalutan. Sebaliknya, ditemani kedamaian kemudian merasakan penderitaan di alam ini sebagai penderitaan kita juga. Sesederhana tangan kanan yang merawat tangan kiri yang sedang terluka. Tidak selalu berhasil tentu saja. Namun apa pun yang terjadi, ingatkan diri lagi dan lagi: “Jika bisa diubah, silakan diubah. Jika tidak bisa diubah, terima sajalah. Sering terjadi, sebagian orang bisa berubah karena tidak terlalu dipaksa untuk diubah. Sebagian yang lain berubah karena diterima secara indah”. Inilah jalan spiritual yang indah.

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo courtesy: Pinterest

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.