Kesembuhan

Memandikan Jiwa Dengan Cahaya

Ditulis oleh Gede Prama

Tubuh biologi adalah pantulan dari tubuh energi. Jauh sebelum tubuh biologi dikunjungi penyakit, tubuh biologi secara berulang-ulang sudah memberi tanda dalam bentuk rasa lelah, resah, gelisah bahkan marah-marah. Begitu keadaan serba resah dan gelisah ini menumpuk banyak di dalam, tubuh biologi mulai jauh dari seimbang. Dari sinilah asal muasalnya banyak penyakit. Jika didalami lebih dalam lagi, tubuh energi yang serba tidak seimbang berkaitan erat dengan keadaan jiwa yang miskin Cahaya. Di Barat ada yang menyebut rangkaian berpikir seperti ini sebagai the anatomy of pain.

Untuk membantu para sahabat agar sehat selamat, tidak ada salahnya mengingat sebuah pesan tua yang berbunyi seperti ini: “Jika belum bisa menghidupkan Cahaya di dalam, cukup pantulkan Cahaya yang ada”. Dengan demikian, ada dua tahapan sederhana agar jiwa bisa bermandikan Cahaya. Pertama, menjadi cermin bersih jernih agar bisa memantulkan Cahaya yang ada. Kedua, belajar terhubung dengan sumber Cahaya di dalam. Di jalan meditasi, para pemula sangat ditekankan untuk bisa memiliki pikiran yang bersih dan jernih. Agar bisa seperti cermin bersih yang memantulkan Cahaya. Pengandaiannya sederhana, setiap gerakan energi di dalam – dari sedih-senang hingga salah-benar – semuanya dilihat sebagai awan-awan tidak kekal yang numpang lewat. Pikiran yang bersih dan jernih diwakili oleh langit biru yang tidak tersentuh.

Begitu pikiran seseorang sudah jernih seperti ini, secara alami ia akan menjadi cermin jernih yang bisa memantulkan Cahaya. Tandanya, di mana ada pertanyaan di sana ada jawaban. Di mana ada masalah, di sana ada jalan keluar. Kesulitan tidak lagi memperlemah, sebaliknya ia ikut memperindah. Masa lalu yang menakutkan bisa ditenun menjadi masa depan yang menjanjikan. Cobaan, godaan, guncangan mirip dengan pisau tajam yang sedang melubangi bambu. Sebentar lagi jiwa bisa seindah seruling. Ini terjadi karena cermin jernih di dalam sudah memantulkan Cahaya di luar. Menyaksikan dengan penuh belas kasih (compassion), itulah intinya.

Menghidupkan Cahaya di dalam adalah tugas spiritual yang lebih susah. Namun jika ia bisa dilakukan, Cahaya yang dihasilkan akan jauh lebih indah. Ada beberapa pendekatan yang tersedia dalam hal ini. Pertama adalah mengolah luka jiwa menjadi benih-benih Cahaya. Dalam cara ini, memaafkan adalah sahabat yang paling menyejukkan. Memaafkan, demikian telah ditulis dalam waktu lama, memang tidak membuat masa lalu jadi berubah. Tapi secara meyakinkan membuat masa kini jadi jauh lebih indah. Lebih dalam dari itu, memaafkan tidak saja meringankan beban di dalam, tapi juga membuat seseorang bisa menemukan pengetahuan terindah di dalam. Ia sering disebut sebagai raja dari segala pengetahuan.

Kedua, mencipta melalui rasa syukur mendalam. Sebagaimana terlihat di sana-sini, manusia yang mencipta karena keinginan berlebihan, orientasinya adalah mau tampak lebih dibandingkan orang lain, mudah sekali dihinggapi perasaan terasing dalam tubuh sendiri. Tubuh tidak menjadi rumah yang bikin betah, sebaliknya menjadi rumah yang mudah bikin marah. Persoalan waktu, manusia jenis ini akan dikunjungi banyak masalah. Agar Cahaya indah muncul di dalam, belajar mencipta melalui rasa syukur mendalam. Konkritnya, cintai apa yang dilakukan, syukuri apa yang didapatkan. Kurangi membandingkan, perbanyak mengisi keseharian dengan rasa yang penuh penerimaan. Jika di dalam ada yang melawan, kecilkan ego dengan tugas-tugas pelayanan. Sekali-sekali sambil melihat bintang di langit, ingatkan diri lagi dan lagi: “Manusia hanya makhluk kecil di planet yang juga kecil”. Sementara mencipta melalui keinginan mudah membuat jiwa mengalami keterasingan, mencipta lewat rasa syukur mudah sekali membuat jiwa mengalami kedamaian.

Ketiga, belajar peka dengan tubuh energi. Baca pesannya, kemudian laksanakan dalam keseharian. Saat Anda lelah, cepat istirahat. Yang paling baik tentu saja tidur, atau duduk diam beberapa saat. Sambil mengizinkan otot-otot tubuh mengambil posisi istirahat. Jika tidak bisa, cukup istirahatkan pikiran dari segala bentuk konflik di dalam. Dari salah-benar, buruk-baik sampai kotor-suci. Di jalan meditasi mendalam, para sahabat sangat disarankan untuk menyentuh jeda (baca: ruang hening-bening) antara dua nafas. Atau jeda diantara dua pikiran, dua perasaan, dua memori. Menyentuh jeda jenis ini, telah terbukti sangat lama sangat membantu tubuh energi untuk istirahat.

Ketika tubuh energi merasa resah dan gelisah, temukan sumber yang membuat Anda tidak seimbang. Jika para sahabat terlalu banyak duduk, jalan kaki. Seumpama Anda terlalu banyak berada di dalam ruangan, gerakkan tubuh sebentar di alam terbuka dengan pemandangan indah. Bila selama ini merasa jauh dari keluarga, mendekatlah dengan keluarga. Seumpama ada yang sama sekali belum bersentuhan dengan spiritualitas, serta menghabiskan hampir semua waktu di dunia material, belajar spiritualitas. Setidaknya murnikan jiwa dengan pelayanan penuh ketulusan. Intinya, kurangi hanya memikirkan diri sendiri. Bikin jiwa tumbuh harmoni bersama lingkungan sekitar.

Jika para sahabat sering dibakar amarah, segera temukan akar kemarahan Anda. Jika harapan jauh di atas kenyataan, belajar mendekatkan harapan dengan kenyataan. Kurangi membawa ukuran ideal dari tempat lain untuk mengukur lingkungan sekitar. Jika para sahabat sering marah karena jiwanya terluka, tidak ada pilihan lain, belajar memaafkan. Arti lain dari memaafkan adalah membebaskan. Maksudnya, memaafkan belum tentu membebaskan orang yang dimaafkan. Tapi ia pasti membebaskan yang memaafkan. Seumpama para sahabat marah karena menekuni pekerjaan yang tidak sesuai dengan panggilan jiwa, latih diri untuk mencintai apa-apa yang dilakukan, mensyukuri apa-apa yang telah didapatkan. Di waktu luang, seimbangkan jiwa dengan melakukan apa-apa yang dicintai. Dari melukis sampai menulis.

Berbeda dengan energi fisik yang akan bertambah jika seseorang mendapatkan sesuatu, energi spiritual akan diperoleh jika para sahabat memberikan sesuatu. Di jalan kebahagiaan mendalam sering terdengar pesan seperti ini: “Di tingkatan yang lebih dewasa, kebahagiaan yang lebih dalam adalah buah dari ketulusan untuk membahagiakan orang lain”. Di bagian lain, ada juga pesan yang berbunyi seperti ini: “Jika tidak bisa membuat orang-orang tersenyum indah, cukup jangan marah-marah”. Jiwa-jiwa yang indah sering dibimbing seperti ini: “Jangan pernah meninggalkan sebuah tempat sebelum Anda bisa membuat setidaknya satu orang tersenyum indah”.

Di zaman di mana kebahagiaan sangat dirindukan oleh nyaris semua manusia, jiwa akan mudah bercahaya kalau para sahabat mengisi keseharian dengan cara membuat orang sekitar berbahagia. Selalu ingatkan diri lagi dan lagi, kebahagiaan bukan buah kejadian. Kebahagiaan adalah buah dari cara memandang kejadian. Untuk itu, lihat semua kejadian dari sisi-sisi yang membahagiakan. Jangan pernah lupa, canda adalah obat termurah, cinta adalah obat terindah. Dan wajah canda yang terindah adalah menertawakan diri sendiri. Wajah cinta yang terindah adalah cinta kasih dalam tindakan. Bersama cinta kasih dalam tindakan, di sepanjang perjalanan jiwa menemukan lentera.

Penulis: Guruji Gede Prama
Keterangan gambar: Miniatur Borobudur yang ada di Ashram Avalokiteshvara tempat Guruji bermukim di Bali Utara. Ia bercerita tentang perjalanan indah menuju pencerahan

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.