Kesembuhan

Belajar Mendengar

Ditulis oleh Gede Prama

Jiwa-jiwa yang lapar, jiwa-jiwa yang terbakar, itu pemandangan yang muncul di mana-mana. Jangankan di rumah sakit dan di jalan raya, bahkan di tempat suci pun terlihat banyak jiwa yang lapar dan terbakar. Namun ini bukan bahan untuk menjelekkan pemerintah, bukan juga bahan agar keseharian jadi marah-marah, tapi bahan untuk segera mengembangkan hati yang indah. Bersama hati yang indah, tidak saja Anda lebih sedikit marah-marah, tapi juga pelan perlahan membuat bumi terlihat sebagai surga yang indah. Kebiasaan untuk melihat semuanya sebagai surga indah, ada kemungkinan membimbing jiwa berjumpa surga indah setelah kematian.

Salah satu pilihan yang tersedia dalam hal ini adalah belajar mendengar. Tidak saja karena mendengar bisa meringankan beban orang lain, tapi juga membuat para sahabat bisa berjumpa wajah pengetahuan yang lebih dalam. Awalnya, seseorang akan mendengar ke luar. Kemudian ia akan mendengar ke dalam. Jika tekun dan tulus, pada waktunya para sahabat bisa mendengar hal-hal rahasia. Dengan kata lain, ketekunan dan ketulusan untuk mendengarkan adalah salah satu menu spiritualitas yang sebaiknya dipertimbangkan. Terutama kalau mau jiwanya bertumbuh dalam mengagumkan.

Sebagai titik tolak dalam belajar mendengarkan, selalu lihat orang yang mau didengarkan sebagai jiwa-jiwa menderita yang memerlukan pertolongan. Kenali jejaring penderitaan mereka. Dari keuangan yang tidak pernah puas, sampai keluarga yang panas. Dari masa kecil yang penuh masalah, sampai keluarga yang penuh musibah. Titik tolak ini diperlukan, tidak saja untuk meringankan beban penderitaan orang, tapi juga membuat Anda terjaga rapi di sepanjang perjalanan. Terutama karena ketika ditemani belas kasih (compassion), perjalanan spiritual akan terjaga dan terlindungi.

Setelah yakin titik berangkatnya benar, jauhkan segala nafsu dan keinginan untuk membetulkan kesalahan orang lain. Sahabat-sahabat yang bacaannya banyak serta pendidikannya tinggi khususnya, jangan pernah menggunakan bacaan dan pendidikan untuk memperkosa hidup orang lain. Bacaan dan pendidikan adalah obat yang datang dari masa lalu, yang belum tentu tepat dengan persoalan masa kini. Lebih dalam dari itu, nafsu berlebihan untuk membetulkan orang lain membuat seseorang kehilangan energi empati. Sejenis energi yang sangat meringankan beban orang lain, sekaligus membuat perjalanan jiwa jadi lebih dalam.

Di psikologi ada pendekatan not knowing approach of therapy. Dengarkanlah orang lain dengan pikiran yang relatif kosong dari kerangka salah-benar, buruk-baik, kotor-suci. Lihat dan perlakukan mereka apa adanya. Sekali lagi apa adanya. Jika muncul pikiran yang mau menasihati, apa lagi menggurui, sebaiknya disimpan dulu di sebuah gudang di dalam. Bersamaan dengan itu, fokuskan energi untuk mendengarkan orang di depan. Posisi tubuh sebaiknya mengarah pada orang yang didengarkan. Mata sebaiknya melihat dengan cara yang sejuk dan lembut. Intonasi suara dijaga agar senantiasa pelan menyejukkan.

Agar energi para sahabat tidak diserap habis oleh orang yang didengarkan, hindarkan diri untuk hanyut dalam perasaan sedih orang yang didengarkan. Sebaliknya, lihat semua perasaan orang yang didengarkan seperti langit memandang awan-awan yang numpang lewat. Ingatkan diri lagi dan lagi: “Semuanya berlalu bersama waktu. Semua hanya numpang lewat”. Begitu di dalam terasa lelah, apa lagi gelisah, sentuh ruang hening-bening diantara dua nafas, diantara dua pikiran, diantara dua perasaan, diantara dua memori. Kemudian cepat kembali ke tugas inti Anda untuk mendengarkan.

Ketika orang bercerita, kurangi membawa agenda pribadi ketika mendengarkan. Misalnya, ketika orang cerita masalah, jangan pernah menyebutkan kalau masalah Anda lebih besar. Tatkala orang berbagi cerita kalau anaknya nakal, jangan pernah menyela dengan cerita bahwa anak Anda lebih nakal. Itu hanya mengotori tugas mulia Anda dalam mendengarkan. Begitu lawan bicara seperti kehabisan cerita, pancing ia dengan pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuat mengeluarkan lebih banyak lagi sampah mereka di dalam. Tambahkan pendapat yang membuat ia bisa merasa tidak salah. Sebaliknya malah membuat ia merasa sedang tumbuh indah.

Jika lawan bicara meminta pendapat atau saran, yakinlah pendapat dan saran Anda tidak menyalahkan. Terutama karena tidak ada orang yang suka disalahkan. Lebih-lebih ia yang sedang terluka jiwanya. Lebih tidak suka lagi disalahkan. Untuk itu, jauhkan pikiran dan ucapan dari segala bentuk penghakiman dan penolakan. Sebaliknya, pilihlah saran yang berisi banyak energi penerimaan. Bimbing mereka untuk menjadi diri mereka. Jangan pernah memaksa agar mereka mengikuti selera dan panggilan hidup Anda. Itu hanya akan membuat orang lain terasing dalam tubuh mereka sendiri.

Setelah mendengarkan cukup lama, serta sudah yakin kalau Anda mengenali panggilan alami lawan bicara, bimbing ia agar melangkah balik ke panggilan alami yang asli. Sesederhana ikan yang tumbuh mudah di air, burung yang terbang indah di udara, orang yang tumbuh indah di panggilan alaminya akan keluar dari masalah juga secara mudah dan indah. Sekali-sekali ingatkan diri dan lawan bicara Anda, kelinci makanannya rumput, merpati makanannya jagung. Demikian juga jiwa manusia. Dibekali kepekaan, bimbing lawan bicara agar tumbuh seperti bunga kamboja atau bunga lotus.

Bunga kamboja tempat bertumbuhnya di tanah kering, bunga lotus tempat bertumbuhnya di kolam basah. Keduanya berbeda, tapi keduanya tumbuh indah apa adanya. Setiap sahabat yang sering membimbing orang dengan cara ini suatu hari akan bertumbuh semakin dalam dan semakin dalam. Tidak saja kaya dengan pengetahuan dari luar, tapi juga kaya dengan pengetahuan dari dalam. Jika tekun dan tulus, bukan tidak mungkin suatu hari Anda akan mengerti pengetahuan di alam rahasia. Dan itulah yang sangat dirindukan oleh semua jiwa.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.