Kesembuhan

Memanggil Roh Tua

Ditulis oleh Gede Prama

Ciri khas zaman ini, pertumbuhan ekonomi kencang sekali. Bahkan tidak ada yang bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi. Akibatnya, dampak ekologinya akan parah sekali. Tidak saja ekologi di luar yang parah, ekologi di dalam diri manusia juga parah. Terpilihnya Donald Trump sebagai presiden negeri adi kuasa AS adalah pertanda yang layak dibaca. Terutama karena pemimpin adalah pantulan dari jutaan manusia yang memilih. Jika yang dipilih sangat pemarah, kemungkinan mayoritas pemilih di sana juga sangat pemarah.

Data dan kecenderungan seperti ini bukan bahan untuk menjelekkan pemerintah, bukan juga bahan untuk membesar-besarkan masalah. Sebaliknya, lihat ia sebagai cuaca panas yang merindukan datangnya musim hujan yang sejuk. Serupa kegelapan yang mengundang datangnya Cahaya. Sebagian sahabat yang mata spiritualnya terbuka mengerti, di zaman ketika ekologi luar dan di dalam demikian parah, di sana bumi memanggil-manggil datangnya roh tua. Gempa, gunung meletus, tsunami, dan bencana alam lainnya adalah sebagian pertanda dalam hal ini. Apa persisnya yang disebut roh tua sesungguhnya sederhana, manusia yang terlahir ke sini tidak untuk mendapatkan tapi untuk memberi. Ia yang tidak larut dalam kegelapan zaman, sebaliknya lahir untuk menerangi kegelapan zaman.

Sejauh catatan pengalaman, roh tua biasanya sulit sekali nyambung dengan orang keramaian bahkan sejak usia kecil. Seperti burung elang yang dititipkan di kumpulan burung-burung kecil, seindah apa pun nyanyian burung-burung kecil, selalu ada yang kurang dan tidak nyaman di sana. Itu sebabnya, roh-roh tua cenderung menjadi seorang penyendiri ketika kecil khususnya. Ketika belajar di sekolah, roh tua mengalami sejumlah kesulitan belajar hal-hal baru dan modern. Tapi terasa mudah belajar hal-hal tua seperti sejarah, buku suci tua, serta peninggalan tua lainnya. Hanya dengan mendengar dan membaca sedikit saja, hal-hal tua ini akan cepat masuk ke dalam memori, serta mudah dimengerti.

Ketika masih kecil (taman kanak-kanak, sekolah dasar), roh tua melihat teman-teman sebayanya sebagai anak kecil yang perlu dikasihani. Padahal ia sendiri masih kecil. Bersamaan dengan itu, ketika remaja (SMA, mahasiswa), roh tua akan merasa nyaman bergaul dengan orang yang berusia jauh lebih tua. Sekaligus merasa diri terhormat kalau dituakan oleh kawan-kawan seumur. Di usia remaja, ada energi kuat di dalam untuk senantiasa belajar, belajar dan belajar lagi. Ada dahaga mendalam akan pengetahuan. Seperti ikan yang merindukan samudera luas. Dan perjalanan pencarian pengetahuan roh jenis ini, semakin lama semakin ke dalam. Sampai suatu hari bisa menemukan raja segala pengetahuan, yakni pengetahuan tentang diri sendiri.

Di zaman ini, kebanyakan roh tua lahir sebagai empath (Jiwa-jiwa peka, kaya rasa. Negatifnya mudah terluka. Positifnya rindu berbagi Cahaya). Namun dalam waktu tidak terlalu lama, ia akan bisa mengolah jiwa yang peka menjadi benih-benih Cahaya. Ringkasnya, kepekaan bukan sumber masalah, tapi sumber berkah. Kepekaanlah yang membuat ia hati-hati agar tidak menyakiti. Kepekaanlah yang membimbing yang bersangkutan untuk tumbuh dalam harmoni. Kepekaan juga yang membuatnya mudah terhubung dan tersambung. Bersama keterhubungan, jiwa jenis ini akan mudah sekali membawa energi kesembuhan dan kedamaian pada lingkungan sekitar. Itu sebabnya kehadiran mereka menjadi sangat menyejukkan bahkan menyembuhkan.

Bagi sebagian jiwa-jiwa peka yang kaya rasa, lebih-lebih pernah menjadi murid spiritual di kehidupan sebelumnya, bahkan hanya ditatap dari kejauhan pun mereka akan menangis terharu. Ia mirip anak kecil yang lama mencari kehadiran Ibu. Tiba-tiba energi Ibu itu hadir menyejukkan di dekat mereka. Ciri lain roh tua, mereka memiliki inner life (kehidupan di dalam) yang sangat dalam. Percakapan di dalamnya sejuk penuh persahabatan. Melihat semua sebagai tarian kesempurnaan yang sama. Itu juga sebabnya mereka tidak bermusuhan dengan siapa-siapa. Apa yang disebut salah dan benar mirip tangan kiri dan tangan kanan dari tubuh yang sama.

Kehidupan di dalam yang dalam seperti ini membuat roh tua memiliki sangat sedikit sahabat dekat. Namun kualitas persahabatannya sangat dalam. Maksudnya, sedikit diwarnai hal-hal permukaan seperti uang dan kepentingan, lebih banyak diwarnai oleh hal-hal dalam seperti kerinduan untuk menerangi kegelapan alam menggunakan Cahaya di dalam. Manusia jenis ini sengaja mengundang orang lain mendekat tidak menggunakan kepintaran, tapi menggunakan kebaikan. Persisnya, kebaikan dalam tindakan. Awalnya ia akan dicurigai dan dimusuhi. Tapi lama-lama hukum akan bekerja sempurna. Taman bunga didatangi lebah. Taman sejuk didatangi burung-burung yang bernyanyi indah. Kebaikan akan mengundang datangnya kebaikan.

Alam dan dunia malam tidak terlalu menakutkan bagi roh tua. Bahkan ketika masih berumur sangat kecil pun, alam dan dunia malam tidak menakutkan. Itu terjadi karena aura belas kasih (compassion) roh-roh tua sangat bersahabat dengan lingkungan sekitar. Jangankan manusia, bahkan binatang buas pun merasa kasihan untuk melukai roh tua. Karena benih-benih Cahaya di dalam demikian sehat dan kuat, roh-roh tua akan mudah sekali melihat penampakan Cahaya. Dan penampakan Cahaya ini tidak memperbesar kesombongan. Sebaliknya, ia digunakan sebagai undangan untuk menyebarkan jauh lebih banyak Cahaya. Setidaknya dengan cara tidak memperpanjang daftar panjang kekerasan yang telah panjang.

Dibimbing oleh benih-benih Cahaya di dalam, roh-roh tua akan mudah sekali menemukan kecerdasan yang amat dibutuhkan di zaman di mana ia dilahirkan. Buku suci tentu saja banyak manfaatnya, namun ia obat yang datang dari masa lalu yang sangat jauh. Ketika bioritme alam berbeda sangat jauh dengan bioritme alam zaman ini. Itu juga sebabnya, roh-roh tua mudah menemukan skillful means (alat-alat cerdas) yang bisa membuat ia menyelamatkan banyak makhluk menderita di alam ini. Di zaman ini, diantara semua alat cerdas yang tersedia, yang paling cerdas adalah compassion (belas kasih).

Konkritnya, lihat semua mahluk sebagai jiwa-jiwa menderita yang membutuhkan pertolongan. Kalau pun ada yang menyakiti, yang membuat mereka menyakiti bukan kejahatan, namun penderitaan yang mendalam. Dengan bekal spirit seperti ini, roh tua akan mudah terjaga. Sekaligus mudah berbagi Cahaya. Yang suka menulis, menulis untuk meringankan beban penderitaan di alam ini. Yang suka melukis, melukis untuk meringankan beban penderitaan di alam ini. Kendati demikian, sebesar apa pun tindakan yang dilakukan di alam ini, ia tetap dipandang sebagai a flash of light in the darkness of the night. Dibandingkan umur semesta, umur manusia hanya kilatan cahaya di tengah malam yang sangat panjang. Akibatnya, kesombongan tidak muncul, kerendahatian menjadi kawan di sepanjang perjalanan. Dalam bahasa ringkas namun dalam: “Pencapaian spiritual boleh setinggi langit, namun selalu layani semua makhluk serendah hati bumi”. Selamat datang di rumah jiwa-jiwa yang indah.

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo courtesy: Pinterest

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.