Kesembuhan

Berkawan Dengan Kejernihan

Ditulis oleh Gede Prama

Untuk ke sekian kalinya, Ibu kota Jakarta rusuh lagi. Sebabnya uang dan kekuasaan lagi. Nyawa manusia melayang lagi. Jika berkawan dengan kemarahan, kejadian seperti ini mudah sekali membakar. Tidak saja membakar diri di dalam, tapi juga membakar hubungan antar manusia di luar. Akibatnya, kejadian yang terjadi dalam satu hari bisa merusak kualitas kehidupan tidak saja berhari-hari, tapi juga bertahun-tahun. Tidak sedikit kejadian rusuh yang terjadi ribuan tahun yang lalu, bahkan masih melahirkan sakit mental sampai dengan hari ini.

Perhatikan tembok China yang kokoh dan megah itu. Ia dibangun karena hubungan tidak harmonis antara orang China dan Monggol ribuan tahun lalu. Dan sebagaimana terlihat dalam kejadian rusuh Jakarta di tahun 1998, di mana sahabat-sahabat keturunan China banyak sekali dilukai bahkan kehilangan nyawa, ada benih kebencian antara keturunan Monggol pada keturunan China di sana. Padahal permusuhan membakar antara orang China dan Monggol sudah terjadi ribuan tahun lalu. Namun masih melahirkan kebencian dan kemarahan, menimbulkan sakit mental, serta memakan nyawa manusia bahkan sampai hari ini.

Begitulah persisnya yang terjadi jika manusia berkawan dengan kemarahan. Peradaban manusia akan terus menerus terbakar api dari hari ke hari. Sakit mental akan muncul lagi dan lagi. Nyawa manusia akan hilang percuma lagi dan lagi. Di saat-saat seperti inilah, layak direnungkan untuk tidak lagi berkawan dengan kemarahan, tapi belajar berkawan dengan kejernihan. Jangan pernah marah pada api yang membakar. Jangan pernah marah pada air yang bikin basah. Memang demikianlah hukum alaminya. Dengan cara yang sama, jangan pernah marah pada perebutan uang dan kekuasaan yang sering berujung rusuh. Memang demikianlah hukum alaminya sejak dulu.

Dari sinilah bisa lahir benih-benih kejernihan di dalam. Ikan berenang di air, burung terbang di udara. Uang dan kekuasaan sejak awal yang tidak berawal memang penuh dengan aura kekerasan. Bagi para sahabat yang berjalan di jalan keselamatan dan kedamaian, penting sekali membekali diri dengan kejernihan seperti ini. Di satu sisi, tidak dibakar oleh keadaan. Di lain sisi, jiwa tumbuh dalam kedewasaan. Setidaknya tidak ikut memperpanjang daftar panjang kekerasan yang telah panjang. Dalam kaca mata kemarahan yang jauh dari jernih, kejadian rusuh seperti terjadi di Jakarta rabu 22 Mei 2019, mudah sekali terpeleset pada kesimpulan berbahaya, pihak yang kalahlah yang bikin rusuh.

Sekali lagi, ini kesimpulan terlalu sederhana yang mudah melahirkan bahaya. Yang sering terjadi, politik, uang, kekuasaan senantiasa jauh lebih rumit dari pikiran yang sederhana. Terutama karena pihak-pihak yang terlibat kebanyakan dibakar oleh kemarahan. Pernah lahir manusia jernih di dunia politik seperti Mahatma Gandhi dan Nelson Mandela. Tapi itu peristiwa super langka. Biasanya, lumpur dikunjungi cacing. Taman indah dikunjungi kupu-kupu indah. Uang, politik, kekuasaan lebih sering dikunjungi oleh kemarahan dibandingkan kejernihan.

Kendati sangat jarang dan sangat langka, mari mempersiapkan kelahiran generasi pemimpin baru yang berkawan dengan kejernihan, bukan dibakar secara berbahaya oleh kemarahan. Langkah praktisnya, kurangi bertanya apa dan siapa yang salah. Perbanyak bertanya, bagaimana kehadiran Anda agar memperindah. Agar benih-benih kejernihan tumbuh di dalam, di tengah kerumitan keadaan manusia mirip tiga orang buta yang memegang bagian berbeda dari tubuh gajah yang sama. Yang memegang belalai mengira ini ular. Yang memegang kaki menduga makhluk ini batang pohon. Orang buta yang memegang badan gajah menyimpulkan bahwa ini tembok.

Pertanyaan siapa yang salah dijamin menjauhkan orang dari kejernihan. Serta mendekatkan siapa saja pada kemarahan. Untuk kemudian ikut dibakar keadaan. Undangannya untuk para sahabat, ganti pertanyaannya, dari “siapa yang salah” menjadi “apa hubungan antara satu pendapat dengan pendapat yang lain”. Pertanyaan jenis inilah yang menyirami benih-benih kejernihan di dalam. Kembali ke soal kerusuhan Jakarta rabu 22 Mei 2019, jika tidak bisa menjernihkan keadaan, cukup jangan dibikin keruh oleh keadaan. Seperti kolam keruh yang secara alami akan jernih jika didiamkan, sering terjadi kejernihan akan muncul ke permukaan begitu seseorang istirahat dalam diam dan hening.

Untuk tugas-tugas pengamanan dalam jangka pendek, sudah ada aparat keamanan yang bekerja dibimbing oleh aturan dan norma. Namun untuk langkah-langkah jangka panjang, jangan pernah izinkan kemarahan mencuri kejernihan. Sebaliknya, izinkan kejernihan duduk di atas kemarahan. Hanya dengan cara seperti itu, maka mata rantai penderitaan dan kemarahan yang telah berumur ribuan tahun di sini di muka bumi, pelan perlahan bisa dipotong dan dihentikan. Setidaknya, generasi baru tidak melahirkan benih-benih kebencian dan kemarahan yang baru. Inilah jalan setapak yang dilalui oleh para pembawa Cahaya. Yang lahir di sini untuk mengurangi bahaya. Ingat jiwa-jiwa yang indah, kegelapan hadir karena ketiadaan Cahaya.

Penulis: Guruji Gede Prama.
Photo: Pinterest.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.