Kesembuhan

Pulau Cinta Kasih

Ditulis oleh Gede Prama

Di zaman Charles Darwin dulu, manusia ditempatkan sebagai obyek pasif. Melalui teori evolusinya, Darwin menyebut manusia sebagai hasil seleksi alam yang tidak bisa dilawan. Di zaman kita ceritanya lain lagi. Ada banyak ilmuwan seperti Gregg Braden yang menempatkan manusia sebagai kekuatan aktif yang ikut mencipta wajah alam dan kehidupan. Temuan-temuan keilmuan mutakhir bahkan bercerita, tulang-tulang manusia dari zaman kuno di ekstrak kemudian ditemukan inti DNA mereka, ternyata manusia berperan aktif dalam menentukan wajah dunia dan kehidupan. Dalam kaitan ini, sebutan tentang Bali sebagai pulau cinta kasih bukan hanya hasil fantasi Elizabeth Gilbert melalui maha karya “Eat, pray, love”, tapi juga hasil ketekunan tetua Bali selama ribuan tahun. Yang secara meyakinkan membuat Bali disebut dunia sebagai pulau cinta kasih.

Setidaknya ada tiga bukti kuat dan masih tersisa sampai sekarang, bagaimana manusia Bali secara tekun dan tulus selama ribuan tahun membentuk pulau ini sebagai pulau cinta kasih. Pertama, dengan tidak bermaksud menyebut keyakinan yang berbeda dengan sebutan yang kurang bersahabat, di Bali selama ribuan tahun makhluk-makhluk bawah yang berwajah seram menakutkan dirawat dan diberi makan melalui suguhan. Ini bukan cerita tentang ketakutan manusia di depan setan. Sekali lagi bukan! Tapi bercerita tentang kesempurnaan cinta kasih. Bagi orang biasa, cinta kasih hanya layak diberikan pada orang atau makhluk yang bersahabat, atau bermandikan pujian. Namun bagi jiwa bercahaya, cinta kasih layak diberikan pada semua makhluk tanpa terkecuali.

Dalam bahasa sederhana namun mendalam, kebencian berlebihan pada kekuatan kegelapan sama dengan memperpanjang daftar panjang kegelapan yang telah panjang di alam ini. Dan kegelapan hadir karena ketiadaan Cahaya. Dalam kaitan inilah, layak ditunjukkan rasa hormat mendalam pada tetua Bali karena telah mewariskan ajaran spiritual yang sangat dalam: “Kekuatan kegelapan tidak ada di sini untuk menyerang, tapi hadir di sini untuk menyempurnakan kasih sayang”. Dalam bahasa lain, hanya karena ada kegelapan maka Sang Cahaya bisa memancar jauh lebih terang. Dan diantara semua Cahaya yang menyinari bumi, yang paling terang adalah cinta kasih dalam tindakan.

Bukti kedua tentang Bali sebagai pulau cinta kasih, jiwa manusia oleh tetua Bali disebut dewa ya kala ya. Ada sisi gelap dan sisi terang dalam jiwa manusia. Ini benih cinta kasih yang kuat dan sehat. Bagi manusia-manusia yang sakit dan menderita, kekurangan adalah kekuatan di dalam yang hanya layak untuk dibuang. Semakin keras mereka mencoba membuang kekurangan, semakin menderita mereka di dalam. Melalui pengakuan terhadap sisi gelap dan sisi terang dalam jiwa manusia, manusia diajak melihat wajah jiwa manusia yang penuh dan utuh. Holistik bahasa modernnya. Simbol paling universal dalam hal ini adalah lingkaran Yin-Yang ala tetua di China.

Ada sisi gelap dan sisi terang. Di wilayah gelap ada lingkaran terang, di wilayah terang ada lingkaran gelap. Makna praktisnya, ada keburukan dalam kebaikan, ada kebaikan dalam keburukan. Maksudnya, jika tidak waspada kebaikan bisa membuat orang gelisah. Terutama kalau berharap berlebihan bahwa orang yang dibantu harus membantu balik. Ada kebaikan dalam keburukan maksudnya, hanya karena ada orang-orang buruklah maka orang baik terlihat menarik dan simpatik. Hanya karena ada wanita yang tidak cantik maka wanita cantik terlihat jauh lebih menarik. Inilah benih-benih cinta kasih yang dalam sekaligus mengagumkan. Di Barat ada yang menulis: “When I love myself enough, life blossoms in a beautiful way”. Ketika seseorang mencintai dirinya secara utuh dan penuh, maka kehidupan mekar indah menyerupai bunga indah.

Bukti ketiga tentang Bali sebagai pulau cinta kasih, di tempat-tempat di mana alam bercinta, bukit yang maskulin dipeluk oleh samudera yang feminin, di sana tetua Bali mendirikan tempat suci. Uluwatu, Tanah Lot, Ponjok Batu, Pulaki, Sila Yukti adalah sebagian contoh dalam hal ini. Ia bercerita secara terang benderang, ada rahasia jiwa yang sangat dalam di balik perjumpaan spirit maskulin dan feminin. Jika mau lebih dalam, kenapa pria menyukai wanita, wanita tertarik pada pria, karena ada kerinduan jiwa akan kebersatuan. Wanita yang terlahir feminin kekurangan energi maskulin. Pria yang terlahir maskulin kekurangan energi feminin. Perjumpaan indah antara keduanya di dalam, itulah yang dicari oleh perjalanan jiwa-jiwa dalam waktu lama.

Di buku suci, hal-hal seperti ini memperoleh pembenaran di ajaran Tantra. Makanya, hanya di Tantra ada orang-orang suci yang memiliki pasangan hidup. Salah satunya adalah Guru Milarepa bernama Marpa. Guru Tantra lain bernama Saraha bahkan secara eksplisit menyebut seks sebagai jalan menuju pencerahan. Sebuah jalan setapak yang sangat dilarang bagi para pemula. Terutama karena seks seperti listrik tegangan tinggi. Jika kena setrum, seseorang pasti mati. Namun bila Anda bisa mengolah listrik tegangan tinggi menjadi cahaya, maka cahaya yang dilahirkan akan sangat terang benderang.

Di dunia kesembuhan dan kedamaian di Barat, mirip dengan jalan Tantra, ada yang menganjurkan vitamin p (pleasure). Alias kesenangan. Salah satunya adalah seks. Setelah didalami, ternyata ada ribuan urat saraf yang menghubungkan organ seks dengan bagian otak yang berfungsi menghasilkan hormon kesembuhan, kebahagiaan dan kedamaian. Dalam tubuh wanita, urat syaraf itu berjumlah delapan ribu. Dalam tubuh pria, ia berjumlah empat ribu. Ini didukung oleh temuan lain, wanita-wanita yang rawan terkena penyakit kanker payudara, dalam persentase yang besar datang dari orang tua tunggal. Alias wanita yang berpisah dengan suaminya.

Ringkasnya, ada rahasia Cahaya di balik perjumpaan maskulin-feminin. Ada cerita cinta kasih di balik tempat-tempat suci yang ditandai oleh pelukan antara gunung dengan samudera. Lebih dalam dari itu, ada rahasia kesembuhan, kebahagiaan, kedamaian di sana. Serangkaian rahasia yang paling dicari oleh zaman ini. Dan rahasia ini baru menyembuhkan dan membimbing jiwa pulang kalau seseorang mengobati diri dengan cinta kasih dalam tindakan. Sekali lagi, dalam tindakan. Dari menyayangi keluarga, mencintai panggilan kerja, melayani orang seperti melayani Tuhan, sampai dengan memberi makan kucing (anjing) jalanan serta merawat tanaman.

Digabung menjadi satu, sebutan Bali sebagai pulau cinta kasih tidak saja hasil temuan dan fantasi Elizabeth Gilbert, tapi benih-benih cinta kasihnya sudah ditanam lama di sini. Ribuan tahun yang lalu. Pohon cinta kasihnya sudah bertumbuh sangat tua di sini. Dan karena putaran zaman sangat gelap, maka Cahaya ini muncul ke permukaan menerangi dunia. Ajakannya untuk para sahabat, mari menjadi duta cinta kasih dalam keseharian. Setidaknya dengan sedikit keluhan namun banyak senyuman. Itu juga sebabnya, meditasi yang dibagikan keluarga Compassion, selalu diakhiri dengan mantra indah Aham Prema (saya cinta kasih yang ada di sini untuk berbagi cinta kasih).

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo courtesy: Pinterest

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.