Kesembuhan

Warta keluarga spiritual Compassion: Jalan pencerahan untuk jiwa dewasa

Ditulis oleh Gede Prama

Menyegarkan ingatan tentang FB live rabu 21-8-2019 lalu, kehidupan mirip pohon beracun. Pemula disarankan menjauh. Belajar kesembuhan tubuh, mental, spirit. Tapi jiwa-jiwa dewasa disarankan menjaga pohon beracun kehidupan agar tidak terlalu banyak meracuni mahluk Tuhan. Terutama dengan pelayanan. Dari lubuk hati yang terdalam harus diceritakan, pelayanan membuka jendela pengertian yang sangat dalam. Serangkaian pengertian yang tidak bisa diberikan oleh buku suci dan meditasi. Setelah melayani masyarakat selama puluhan tahun bersama keluarga Compassion, di sana banyak pintu pengertian mendalam terbuka.

Kami memang pernah diusir dari 3 tempat suci, pernah ditenggelamkan hujan di 2 tempat suci yang lain, pernah diancam nyawa, ditakut-takuti ular dan black magic. Syukurnya, semua bisa dilalui. Setelah melalui banyak guncangan ini, di sana baru mengerti melalui pencapaian (bukan melalui bacaan dan perdebatan), cerita Svetaketu di Upanishad yang berbunyi begini: “Belajar apa-apa yang tidak bisa dajarkan”. Dari sana juga baru mengerti melalui pencapaian pesan Lao Tzu: “Ia yang mengerti tidak bicara. Ia yang bicara tidak mengerti”. Lao Tzu benar, pintu pengertian yang dibuka oleh pelayanan, memang tidak bisa diceritakan. Lidah manusia mana pun akan kurang panjang untuk bisa menceritakannya.

Bedanya dengan orang biasa, di mana guncangan melahirkan amarah dan dendam, di jalan pelayanan mendalam, guncangan melahirkan kerinduan untuk melakukan pelayanan lagi dan lagi. Bukan karena mau disebut suci. Bukan juga karena mau disebut tinggi. Sekali lagi bukan. Tapi karena sebagaimana sifat alami air yang basah, sifat alami bunga yang indah, sifat alami jiwa-jiwa dewasa (jiwa yang dalam), secara alami menemukan kebahagiaan dalam sikap yang indah. Dengan kata lain, sikap yang indah lahir bukan karena takut neraka, bukan karena serakah akan surga. Tapi karena sifat alami jiwa yang indah mekar kedalam keseharian yang indah. Tidak ada perjuangan dan paksaan di sana. Semuanya alamiah.

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo courtesy: Keluarga Compassion

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.