Kesembuhan

Berani Berbahagia

Ditulis oleh Gede Prama

“Apakah saya pernah bahagia?”, itu pertanyaan seorang sahabat yang sangat menyentuh. Di zaman yang rata-rata pendidikannya lebih tinggi, pertanyaan biasanya menjadi cermin lebih jujur keadaan seseorang di dalam dibandingkan jawaban. Pertanyaan sahabat ini bercerita banyak hal. Pertama, benih kebahagiaannya kecil dan jarang dirawat. Kedua, ia tumbuh di lingkungan yang tidak mendukung mekarnya bunga kebahagiaan. Ketiga, sebagai hasil pembelajaran dan pengkondisian yang panjang, sahabat ini mirip ikan di lautan tapi tidak tahu apa itu air. Terutama karena kehidupan sesungguhnya kebahagiaan. Tentu saja kalau seseorang merawat benih kebahagiaan di dalam, serta mencari lingkungan yang memungkinkan benih kebahagiaan agar tumbuh indah.

Terasing dalam tubuh sendiri


Nyaris setiap sahabat yang diminta menulis tentang siapa dirinya, semuanya terjebak dalam historical self (saya lahir di sini, sekolah di situ, dll), logical self (melakukan pembenaran pada diri sendiri), emotional self (saya sering sedih, saya memiliki keluarga bahagia, dst). Dan nyaris semua cerita tentang diri itu adalah hasil meniru (copy paste) dari orang lain khususnya orang tua. Makanya dalam persentase yang sangat besar terlihat, begitu orang tuanya pemarah anaknya juga pemarah, jika orang tuanya cerewet maka anaknya juga cerewet. Ini awal banyak sekali kehidupan yang terasing (alienated soul). Menjadi orang lain di tubuh sendiri. Sekaligus awal banyak sekali penyakit.


Itu sebabnya, di keramaian sering terlihat mata manusia yang datar, hambar, kosong. Di media sosial serupa, tidak sedikit sahabat yang mengeluh dirinya kosong, tidak merasakan apa-apa. Bahkan ada yang mengaku pernah mencoba melakukan bunuh diri. Sebelum terlambat, mari menemukan benih kebahagiaan di dalam, merawatnya secara indah, serta menemukan lingkungan mendukung yang memperindah. Sebagai langkah awal, penting sekali menanamkan pengertian dan keyakinan, segelap apa pun masa lalu seseorang, selalu ada benih kebahagiaan di dalam. Anggap saja orang tua bermasalah, sekolah berisi musibah, lingkungan penuh sampah, tapi tetap saja manusia dirawat oleh alam yang berisi berlimpah kebahagiaan.

Perhatikan makanan sebagai contoh, ia dihasilkan oleh energi kebahagiaan yang berlimpah. Dari bumi yang penuh cinta kasih, cahaya matahari yang berisi berlimpah energi, hujan yang penuh kelembutan, binatang yang mengorbankan nyawanya, sampai oksigen sebagai wakil cinta kasih yang tidak bersyarat dan tidak berhingga. Belum lagi ditambah dengan bunga mekar indah yang berbagi aura kebahagiaan setiap hari, burung bernyanyi yang mewartakan kebahagiaan, lumba-lumba berlompatan yang lagi-lagi bercerita tentang kehidupan sebagai tarian sukacita. Dalam bahasa Kabir yang lugas namun jelas: “Saya tertawa, ikan mati kehausan di dalam air”. Agar benih kebahagiaannya mulai bertumbuh indah, belajar tidak menjadi ikan yang kehausan di air.

Harmoni dalam tubuh sendiri


Langkah konkritnya, lihat sisi-sisi membahagiakan dari setiap kekinian. Selalu ada sisi membahagiakan bahkan dari kejadian yang paling menyedihkan sekali pun. Ingatkan diri lagi dan lagi, kebahagiaan bukan buah kejadian. Kebahagiaan adalah buah dari cara memandang. Sesederhana menemukan kotoran sapi di depan rumah yang dikirim tetangga. Jika pikirannya negatif, ia menjadi awal petaka dengan tetangga. Jika cara memandangnya positif, kotoran sapi bisa menjadi awal persahabatan dengan tetangga. Karena ia pupuk subur yang akan mekar menjadi bunga indah. Semua kejadian dalam hidup sama persis dengan kotoran sapi. Bisa dilihat secara negatif, bisa juga dilihat secara positif. Dan benih kebahagiaan akan mulai tumbuh indah, jika seseorang tekun tidak mudah menyerah untuk selalu melihat semuanya dari sisi-sisi yang positif.

Dalam psikologi positif, sudah lama dianjurkan untuk melakukan positive affirmation (penegasan positif) di dalam. Penyembuh terkemuka Louise Hay dalam You Can Heal Your Life adalah salah satu tokoh yang sangat menyukai pendekatan ini. Di sepanjang hidupnya, beliau tidak pernah bosan menganjurkan orang untuk menegaskan ke dalam diri: “All is well”. Semuanya telah, sedang dan akan baik-baik saja. Dalam bahasa psikologi klasik ala Sigmund Freud, apa yang diucapkan secara berulang-ulang di alam sadar selama bertahun-tahun, ia ikut menerangi kegelapan alam bawah sadar. Ini yang dimaksud “menulis ulang kisah hidup Anda”, bukan ditulis oleh orang lain khususnya orang tua. Dari sini juga benih-benih keterasingan di dalam diri mulai disembuhkan. Seperti kegelapan menghilang yang melahirkan cahaya, benih-benih keterasingan di dalam diri yang mengecil membuat benih kebahagiaan mulai membesar.

Bagus kalau bisa mengombinasikan antara pendekatan psikologi ini dengan meditasi. Psikologi mengobati kerinduan otak kiri (logika) yang cenderung menguat akibat pendidikan. Meditasi membawa para sahabat untuk melihat diri secara lebih utuh. Tidak saja logika tapi juga rasa. Tidak saja perdebatan tapi juga keheningan. Makanya meditasi terus menerus menganjurkan untuk menjadi seorang saksi. Persisnya seorang saksi yang penuh harmoni. Langkah meditasinya, saat duduk meditasi atau melakukan kegiatan keseharian, selalu bimbing pikiran secara halus dan lembut untuk merasakan jeda diantara dua nafas. Di ujung nafas masuk dan nafas keluar ada jeda. Cukup rasakan tanpa negatif-positif. Sebagaimana dialami banyak sahabat yang melakukan pendekatan ini, logika sedikit melemah, rasa tumbuh semakin indah. Seseorang mulai belajar bertumbuh dalam ke-u-Tuhan (wholeness).

Menyirami benih kebahagian di dalam


Dari sinilah benih-benih kebahagiaan akan tumbuh pelan perlahan. Bagi para pemula, kebahagiaan adalah serangkaian perasaan atau sensasi menyenangkan di dalam. Dari makan enak sampai tidur nyenyak. Dari merasa senang sampai seimbang. Sebagian pemula bahagia karena sejumlah hal menyenangkan akan terjadi. Seperti anak-anak yang akan tumbuh mandiri, masa tua yang akan indah. Intinya, rasa senang karena memberikan sesuatu pada diri sendiri. Itu tanda-tanda awal yang sehat. Begitu seseorang semakin dewasa secara kebahagiaan, ia mulai belajar berbahagia dengan cara memberikan sesuatu pada orang lain. Sesederhana seorang Ibu yang bahagia karena bisa membelikan baju baru pada bayinya. Seorang nenek yang merasa masa tuanya bermakna karena bisa merawat cucu.

Ketekunan yang dipadukan dengan ketulusan bisa membuat kebahagiaan suatu hari bertumbuh menjadi rasa berkecukupan. Tidak saja cukup membahagiakan diri, tapi juga cukup membahagiakan orang lain. Yang tersisa hanya rasa damai yang mendalam. Sebagaimana sifat air yang basah, sifat alami bunga yang indah, sifat alami jiwa yang telah sampai di sini mekar menjadi jiwa yang indah. Tandanya, tumbuh rasa hormat dan respek pada kehidupan. Setiap ciptaan di alam ini, sekecil apa pun, menimbulkan rasa hormat dan respek. Yang dimaksud rasa hormat dan respek sederhana, bisa melihat semua sempurna apa adanya. Burung di udara, ikan di air, kamboja di tanah kering, lotus di kolam basah, semua sudah sempurna pada tempatnya. Anehnya, ia yang di dalamnya tumbuh rasa hormat dan respek mendalam pada kehidupan, secara alami orang lain akan penuh rasa hormat dan respek pada yang bersangkutan.

Ujungnya, muncul keberanian paling berani yang bisa dilakukan di zaman ini. Berani berbahagia dengan apa-apa yang telah dimiliki. Jangankan makan enak, bahkan nafas pun menimbulkan rasa bahagia yang mendalam. Meminjam temuan pakar biologi sel Dr. Bruce Lipton dalam The biology of belief, orang-orang yang berani berbahagia sedang mengalami honey moon effect (efek bulan madu). Otaknya menghasilkan lebih banyak dophamine yang membuat tubuh bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Langkah praktisnya kemudian, jika punya uang sejuta rupiah silakan makan di restoran, jika punya uang hanya seratus ribu rupiah makanlah di warung. Yang terpenting bukan di mana makannya, bukan apa yang dimakan, tapi keberanian untuk berbahagia dengan apa-apa yang dimakan. Termasuk berani berbahagia dengan siapa saja yang sedang ada di sebelah Anda. Orang seperti inilah yang menjadi penyembuh terbaik bagi dirinya sendiri, sekaligus membimbing dirinya menuju masa tua yang penuh harmoni.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.