Kesembuhan

Tempat Suci Kesembuhan

Ditulis oleh Gede Prama

“Saya mimpi membunuh orang berkali-kali, tolong saya Guruji”, itu pertanyaan seorang anak muda. Inilah salah satu contoh manusia di mana tubuhnya tidak menjadi tempat suci kesembuhan (temple of healing) bagi jiwa, tapi menjadi tong sampah yang mengacaukan pertumbuhan jiwa. Di Barat dibuka rahasia, bahkan anak-anak pun mulai ada yang terkena kanker. Di negara bagian Montana AS, bunuh diri untuk para lansia bahkan dilegalkan. Serangkaian cerita yang meminta kita merenungkan, bagaimana membuat tubuh terindah di alam samsara ini (baca: tubuh manusia), menjadi tempat suci kesembuhan bagi pertumbuhan jiwa. Sebuah pertanyaan yang telah ditanyakan di sepanjang zaman. Meminjam temuan Saraha: “Ultimately, my body is my ultimate temple”. Bagi jiwa tercerahkan, tubuh manusia adalah tempat suci yang sangat menerangi.

Merawat tubuh kasar
Tubuh manusia adalah mesin paling rumit di alam samsara ini. Sehingga tidak bisa disembuhkan menggunakan satu disiplin saja. Bahkan buku suci seorang diri pun jika tidak dibantu disiplin lain tidak banyak menolong. Diperlukan pendekatan holistik yang lebih menyeluruh. Sebagai bahan untuk memperkaya perjalanan kesembuhan tubuh fisik, penting sekali melihat usus sebagai otak kedua. Maksudnya, tidak saja otak memilih makanan dan minuman yang tepat, usus juga ikut memilih. Melalui apa yang keluar dari usus, ia sedang memberi tahu apa-apa yang sebaiknya dimakan. Sahabat yang menekuni micro biome (komunitas bakteri di dalam usus) bercerita, ia yang menyembuhkan micro biome sedang menyembuhkan dirinya. Ia yang membunuh micro biome sedang membunuh dirinya sendiri. Sedihnya, melalui konsumsi anti biotik, gluten, gula, kafein, makanan dalam kaleng secara berlebihan, tidak sedikit manusia yang secara tidak sadar sedang membunuh micro biome di dalam ususnya. Pada saat yang sama, sedikit generasi baru yang tertarik memakan makanan segar yang kaya serat, nutrisi sehat yang merawat micro biome secara baik.

Otak ketiga yang layak direnungkan adalah kulit. Sebagaimana terlihat di kelas-kelas meditasi, sahabat yang sakit begini dan begitu, terlihat terang benderang bahwa kulitnya kurang bercahaya. Ringkasnya, ketidakseimbangan di dalam membuat sel-sel dalam tubuh mengalami kesulitan untuk melahirkan sel-sel yang baru. Tapi jangan buru-buru bersedih, ada longevity gene (gen yang membantu manusia agar berumur panjang) di dalam diri, yang bisa membantu sel-sel di dalam melahirkan sel-sel lain dalam jumlah yang cukup. Meminjam temuan ahli genetika dari Harvard Dr. David Sinclair, gen ini bisa dibikin semakin sehat dengan cara mempertahankan keadaan perut selalu sedikit lapar, melakukan puasa selang-seling misalnya siang makan malamnya tidak, serta mandi air hangat dan air dingin secara bergantian. Tidak terhitung peneliti kanker yang menyimpulkan, demikian juga temuan di bidang epigenetics, pola hidup (life style) sangat menentukan kesehatan seseorang. Dari nutrisi yang cukup, olah raga yang cukup, sampai tidur yang juga cukup. Tanpa telaten merawat segitiga terakhir, tubuh manusia rawan mendatangkan bahaya.

Merawat tubuh halus
Dengan tetap menghormati profesi yang berbeda, sebagian penyembuh memberi tahu pasien yang terkena penyakit kronis secara kurang teliti. Tanpa diimbangi pesan motivasi hidup yang cukup, orang yang tubuhnya sudah lemah kemudian disebut sedang diserang kanker ganas. Bahkan ada yang dengan gegabah menyebut bahwa hidup pasiennya tinggal beberapa minggu. Tentu saja pasiennya kaget. Sebagian bahkan betul-betul telah wafat. Dan yang membuat mereka roboh bukan kanker, tapi sistim keyakinan dalam diri pasien telah dibikin roboh. Maha karya pakar biologi sel Dr. Bruce Lipton dalam The biology of belief membuka rahasia secara terang benderang, penyakit yang disebabkan faktor keturunan hanya 1 %. Selebihnya, cara seseorang menyimpulkan lingkungan sangat menentukan sakit sehatnya seseorang kemudian. Dan keyakinan, sebagaimana telah dibuktikan melalui efek placebo, memegang peran sangat penting dalam proses kesembuhan. Itu sebabnya, seorang dokter medis bernama Dr. Habib Sadeghi yang berhasil menyembuhkan dirinya dari kanker menyimpulkan, yang diperlukan untuk sembuh bukan manusia yang mengenakan baju putih. Tapi manusia yang memiliki hati yang putih (baca: penuh cinta kasih).

Ajakannya untuk para sahabat, tubuh boleh didiagnosis terkena penyakit, tapi jangan izinkan sistim keyakinan dijangkiti penyakit. Bagi ia yang mendalami hubungan antara biologi dan psikologi mengerti, manusia bisa menciptakan tubuh biologi yang sehat melalui pendekatan psikologi yang juga sehat. Dan keyakinan memegang peran paling penting dalam hal ini. Meminjam dari Antony Robbins, keyakinan adalah kekuatan besar di dalam yang butuh dibangunkan. Sebagai langkah praktis, Dr. Bruce Lipton menyarankan the honey moon effect (efek bulan madu). Rasa senang dan gembira membuat otak menghasilkan lebih banyak dophamine, yang membuat tubuh bisa menyembuhkan dirinya. Dr. Habib Sadeghi secara eksplisit menyebutkan, ada cranial nerve zero di otak yang sangat membantu kesembuhan. Melakukan aktivitas menyenangkan yang menyehatkan seperti hubungan seks dengan pasangan hidup sangat membantu cranial nerve zero.

Dalam bahasa sederhana namun dalam, saat sakit khususnya, tubuh halus memerlukan hadirnya energi positif sebagai kekuatan penyeimbang. Itu sebabnya, Norman Cousin yang terkena penyakit penuh komplikasi bisa menyembuhkan dirinya dengan menonton film-film lucu yang penuh tawa selama 3 bulan. Tentu saja ditemani oleh sistim keyakinan yang kuat dan kokoh di dalam. Perpaduan antara keyakinan dan kesenangan yang menyehatkan adalah ramuan yang sangat membantu kesembuhan tubuh halus khususnya. Jika mau lebih dalam, belajar melakukan tiga tingkatan evolusi. Dari negatif (gelisah, resah, marah) menjadi positif (semuanya berkah indah). Dari positif menuju holistik. Sakit-sehat, duka-suka, dicaci-dipuji adalah sepasang sayap jiwa yang sama. Ia mirip puncak gunung yang tidak bisa dipisahkan dengan jurang di sebelahnya.

Merawat tubuh super halus
Para sahabat yang sehat sampai usia tua mengerti, keseimbangan adalah nutrisi spiritual yang paling dibutuhkan oleh tubuh manusia. Seimbang dalam arti yang seluas-luasnya. Seimbang antara tumbuh di pantai dan gunung, antara diam dan bergerak, antara mengambil dan menerima, antara material dan spiritual. Mirip dengan menemukan keseimbangan naik sepeda, tidak ada pedoman yang pasti. Hanya ketekunan untuk terus berlatih yang menyempurnakan di sepanjang perjalanan. Makanya ada penyembuh yang menyebutkan, perjalanan kesembuhan mirip dengan membuat karya seni. Tidak ada pedoman yang pasti. Ada juga yang menyimpulkan perjalanan kesembuhan seperti mendaki gunung tanpa puncak yang jelas. Kurangi memikirkan terlalu keras di mana puncak gunung kesembuhan. Cukup menjaga keseimbangan di sepanjang perjalanan.

Meminjam saran Guru meditasi sangat berpengaruh di zaman kita YA Thich Nhat Hanh: “Peace is a step”. Kedamaian, demikian juga kesembuhan, ada di setiap langkah. Ia tidak tersembunyi di puncak yang sangat jauh. Ia ada di balik ketekunan untuk menyatu rapi dengan saat ini. Tidak kebetulan kalau saat ini dalam bahasa Inggris disebut the present. Perlakukan saat ini seperti anak kecil membuka hadiah indah. Kesenangan, kegembiraan, kebahagiaan ada dalam proses membuka hadiahnya. Hal yang sama juga disarankan pada para sahabat yang telah dewasa, belajar menyatu rapi dengan saat ini. Makanya, di Zen ada peninggalan tua yang berbunyi seperti ini: “Meditasi adalah makan saat lapar, minum saat haus”. Artinya, menyatulah dengan setiap langkah keseharian. Tanpa menendang yang buruk, tanpa menggenggam yang dianggap baik.

Akibat langsung dari pendekatan ini, pikiran membocorkan jauh lebih sedikit energi melalui kritik dan konflik. Pada saat yang sama, pikiran mulai belajar keterhubungan sebagai akar semua kesembuhan. Ciri seseorang mengalami keterhubungan sederhana, hatinya penuh dengan rasa syukur, bibirnya sering mengucapkan doa terimakasih terus menerus. Ringkasnya, pikiran lentur yang dipadukan dengan hati yang bersyukur, itulah obat yang sangat menyembuhkan. Tidak saja menyembuhkan tubuh super halus, tapi juga menyembuhkan tubuh halus dan tubuh kasar. Terutama karena ketiganya terkait menjadi satu. Saat ketiga tubuh ini terkait dalam harmoni, di sana tubuh manusia menjadi tempat yang menyembuhkan jiwa. Di sana juga tubuh bisa memberi tahu apa-apa yang sebaiknya dilakukan di setiap langkah. Ini yang dimaksud Saraha di awal tulisan dengan kesimpulan: “Ultimately, my body is my ultimate temple”

Penulis: Guruji Gede Prama.

Photo: Keluarga Compassion.

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.