Kesembuhan

Warta keluarga spiritual Compassion: Lotus putih indah di dalam diri

Ditulis oleh Gede Prama

Menyusul mekarnya Lotus Putih indah di hari cinta kasih hari ini di Ashram Avalokiteshvara, bertepatan dengan tenggelamnya bulan Purnama ke lima di Barat, serta terbitnya matahari indah di timur, banyak sahabat bertanya penasaran: “Apa pesan spiritual di balik semua ini?”.

Di ajaran tua Tantra ditulis, putaran waktu paling sakral memang saat bulan Purnama tenggelam di Barat, bersandingan sejajar dengan matahari terbit di timur. Matahari simbol ayah, bulan Purnama mewakili Ibu. Di saat sakral seperti itulah, Ayah dan Ibu kadang melahirkan lotus indah sebagai simbol pencerahan. Dan sebelum itu terjadi, di Ashram memang berkali-kali muncul kulit ular. Sebagai simbol lepasnya kulit-kulit jiwa yang palsu. Untuk sahabat di Bali, Purnama kelima adalah hari upacara di Pura Bukit Penulisan. Hulunya pulau Bali (baca: kajaning kaja).

Dan sebagaimana bisa dibaca di banyak buku suci, salah satu nama Buddha belas kasih Avalokiteshvara adalah Ia yang memegang Lotus Putih (white lotus holder). Ajakannya untuk para sahabat, pesan-pesan suci seperti ini bukan kawannya kesombongan. Tapi undangan untuk menyempurnakan pelayanan. Sebagaimana sering dibagikan pada sejumlah sahabat sangat dekat: “Pencapaian spiritual boleh setinggi langit, tapi selalu ingat untuk melayani semua mahluk serendah hati bumi”.

Penulis: Guruji Gede Prama
Foto: Bunga lotus putih yang mekar pagi ini. Persis di depan patung Buddha tempat Guruji bermukim di Bali Utara

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.