Kesembuhan

Social Media Yang Mempercantik Jiwa

Ditulis oleh Gede Prama

Penemu bom atom dulu mungkin tidak mengira bahwa temuannya akan membunuh banyak sekali manusia tidak berdosa. Hal yang sama juga terjadi sekarang di zaman kita. Penemu kecerdasan buatan (artificial intelligence) awalnya pasti tidak mengira bahwa temuannya akan digunakan sebagai alat untuk menyebarkan teror mental. Jika teror melalui bom membuat korbannya wafat dan lenyap, tapi teror mental membuat korbannya masih ada di sini di bumi. Membebani keluarga dan masyarakat. Dengan kata lain, teror mental yang dilakukan pihak-pihak tertentu di social media akan menimbulkan beban keluarga dan masyarakat yang jauh lebih berat.

Social media yang membakar

Itu sebabnya jurnal berpengaruh Psychology Today sudah berulang-ulang mengingatkan, social media adalah jalan tol menuju sakit mental. Semakin lama seseorang berinteraksi di social media, semakin mungkin ia terkena sakit mental. Sekali lagi, itu kesimpulan jurnal Psychology Today. Setelah didalami, ternyata interaksi yang luas dan cepat membuat banyak manusia merasa dirinya kurang bahagia dibandingkan orang lain. Menyimpulkan bahwa orang lain lebih beruntung. Dan yang bersangkutan kurang beruntung dibandingkan orang lain. Jika perasaan jenis ini menumpuk selama puluhan tahun di dalam, ia menjadi benih-benih sakit mental.

Bagi para sahabat yang mata spiritualnya terbuka mengerti, ada yang lebih dalam dari itu. Sebenarnya ada banyak teror mental yang dilakukan berbagai pihak di social media. Targetnya adalah orang banyak dibikin takut akan begini dan begitu. Energi ketakutan kolektif banyak orang kemudian mengundang datangnya banyak petaka dan bahaya. Di tengah petaka dan bahaya itulah para penyebar teror mental akan mengambil keuntungan. Dan mereka tidak memikirkan bahwa teror mental itu akan menimbulkan penderitaan lama dan panjang di muka bumi. Termasuk akan membuat menderita para penyebar teror mental sendiri.

Belajar dari sini, mari melindungi diri dan keluarga agar tidak menjadi korban teror mental di social media. Sebagaimana sering dibagikan, serangan orang dan isu menakutkan lainnya mirip dengan api. Dan pikiran positif adalah air sejuk yang sangat melindungi. Sebut saja isu tentang pemanasan global. Tentu saja pemanasan global ada dan sedang terjadi. Namun mengizinkan isu pemanasan global melahirkan ketakutan berlebihan di dalam, itu benih-benih sakit mental. Salah satu wajah pikiran positif yang menyelamatkan dalam hal ini adalah mempelajari ilmu self-organizing universe (baca: semesta memiliki seluruh kemampuan untuk mengorganisir dirinya sendiri). Ikut menanam pohon, mengurangi penggunaan plastik, membuang sampah pada tempatnya tentu baik. Tapi jangan izinkan isu pemanasan global melahirkan ketakutan berlebihan di dalam.

Langkah kedua setelah pikiran positif adalah menyadari sedalam-dalamnya, ia yang menjaga diri sedang ikut membuat dunia semakin harmoni. Langkah praktisnya, jaga diri untuk tidak berkomentar negatif di social media. Terutama karena setiap komentar negatif akan diikuti oleh serangan komentar negatif yang lebih menyakitkan. Cara menjaga diri yang lain, kurangi memamerkan kelebihan diri terlalu sering. Sebagaimana telah terlihat di sana-sini, setiap pameran kelebihan (entah harta, entah pencapaian kehidupan) akan diikuti oleh orang yang memamerkan kelebihan yang lebih tinggi.

Jika memamerkan motor akan diikuti oleh orang yang memamerkan Toyota, kemudian diikuti orang lain yang memamerkan BMW. Dan seterusnya tanpa mengenal ujung. Jika sering terlibat saling menyerang melalui komentar negatif, serta persaingan berlebihan yang tidak berujung pangkal, dari sana juga bisa mengalir benih-benih sakit mental. Lebih-lebih mereka yang menyebarkan kebencian dan kemarahan di social media. Mereka tidak sadar sedang menyebarkan api, yang pada akhirnya akan membakar pihak yang menyebarkan kemarahan dan kebencian.

Social media yang membuat jiwa mekar

Bagi para sahabat yang tumbuh secara organik di social media (baca: sedikit menggunakan iklan, memiliki banyak penggemar karena yang bersangkutan memiliki kualitas di dalam), akan mengerti melalui pencapaian, bukan melalui perdebatan, sebab utama orang terbakar di social media karena terlalu banyak bercerita tentang diri sendiri. Sebaliknya, sebagian orang yang jiwanya mekar di social media disebabkan karena secara simpatik dan empatik mau menyediakan diri untuk mendengar dan bercerita tentang orang lain.

Bedanya sederhana namun dampaknya mendalam, yang terbakar di social media hanya bercerita tentang diri sendiri, yang jiwanya mekar tekun dan tulus bercerita tentang orang lain. Dr. Judith Orloff penulis buku laris dan legendaris “The empath survival guide” adalah contoh indah dalam hal ini. Buku dan pesan-pesannya di social media menarik minat banyak orang di seluruh dunia, bukan karena psikiater ini bercerita hanya tentang dirinya sendiri, tapi lebih banyak bercerita tentang orang lain. Khususnya tentang mengolah kepekaan jiwa (empath) menjadi kedamaian jiwa.

Dr. Bruce Lipton penulis buku The biology of belief adalah contoh lain. Dia sendiri adalah pakar biologi sel. Tapi Bruce secara simpatik dan empatik mengajak orang di youtube dan social media yang lain, untuk membangkitkan keyakinan dalam diri masing-masing, bukan memamerkan keyakinan dalam dirinya sendiri. Ken Honda penulis buku Zen Millionaire adalah seorang akuntan. Tapi ia tidak pernah memamerkan ilmu akuntansinya. Sebaliknya secara simpatik dan empatik mengajak banyak manusia di seluruh dunia agar cerdas dan menjadi tuan di depan uang. Sebagai hasilnya, tidak saja mereka berhasil secara keuangan, tapi jiwanya juga tumbuh dalam kedamaian.

Ringkasnya, apa yang disebut sebagai social media yang mempercantik jiwa sederhana. Jangan pernah menggunakan social media sebagai sarana untuk saling melukai. Sebaliknya, gunakan social media sebagai alat untuk membuat dunia semakin harmoni. Pelajaran terpenting yang diberikan oleh jiwa-jiwa yang mekar di social media sederhana, kurangi bercerita tentang kelebihan diri, ajak orang untuk menemukan kelebihan dalam diri mereka sendiri. Anehnya, melalui pendekatan ini, yang pertama-tama mekar adalah jiwa Anda sendiri. Ujungnya, teknologi tidak menjadi kekuatan yang menghancurkan, tapi menjadi kekuatan yang mencerahkan.

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo by John Schnobrich on Unsplash
Tahun 2020 sebagai tahun keseimbangan

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.