Kesembuhan

Dibikin Lembut Oleh Tuhan

Ditulis oleh Gede Prama

Setelah Jepang Timur dihajar gempa super besar di tahun 2011, tidak sedikit tokoh di sana yang mengkampanyekan pentingnya Jepang yang berdoa. Salah satu tokoh terdepan dalam hal ini adalah Prof. Kazuo Murakami. Seorang pakar mikro biologi yang menulis buku sangat indah berjudul The switch. Intinya, senyuman adalah sejenis doa. Senyuman adalah saklar sangat meyakinkan di dalam yang bisa membuat jiwa dan alam sekitar jadi bercahaya.

Di awal tahun 2020, dunia dihentak oleh berita menakutkan tentang virus mematikan di China. Tidak sedikit jurnal ilmiah yang mengabarkan, kadar karbon dioksida (CO2) di udara berada pada tingkat yang paling parah di sepanjang sejarah. Jika di pulau super cantik Bali, yang sering disebut media dunia sebagai pulau terindah di dunia, angka bunuh diri demikian menyentuh hati, apa yang terjadi di tempat lain. Di putaran waktu seperti ini, sangat layak untuk merenungkan kembali makna Tuhan.

Dibikin keras oleh Tuhan

Tatkala berjumpa secara pribadi dengan penulis buku legendaris History of God (sejarah Tuhan) Prof. Karen Armstron, dengan lugas wanita Inggris yang karismatik ini bercerita: “Pengertian tentang Tuhan sudah menjadi sumber kekerasan dalam sejarah yang panjang”. Dan indahnya seorang ilmuwan berwawasan sangat luas, di buku super tebal ini Prof. Karen Armstrong bercerita sangat seimbang. Di semua agama, termasuk di agama tempat beliau terlahir, ada kisah kekerasan.

Jika didalami, evolusi kesadaran manusia yang masih sangat di awal ribuan tahun lau, ditambah dengan belum kuatnya perangkat hukum ketika itu, membuat zaman itu melindungi diri dengan pengertian tentang Tuhan yang sangat keras. Bahkan ada buku suci ketika itu yang secara eksplisit menulis begini: “Saya adalah Tuhan yang pemarah”. Bisa dimaklumi, begitu cara tetua zaman dulu menjaga ketertiban masyarakat. Setidaknya agar masyarakat berisi lebih sedikit kekerasan.

Dibikin pedas oleh Tuhan

Konsep Tuhan yang keras ini kemudian melahirkan tokoh-tokoh yang sangat berpihak pada kebebasan. Pesan inti mereka sederhana, konsep Tuhan sudah melahirkan terlalu banyak kekerasan. Bahkan membunuh banyak sekali manusia yang tidak berdosa. Maka manusia mesti dibebaskan dari semua pengertian tentang Tuhan. J. Krisnamurti dan Osho adalah tokoh di depan dalam hal ini. Ciri khas kelompok ini bahasanya keras dan pedas.

Perhatikan salah satu pesan Osho: “If you have someone who can make you sad or glad, you are not a master. You are a slave”. Artinya, jika seseorang masih dibikin sedih atau gembira oleh kekuatan luar, itu tanda ia belum menjadi tuan. Ia adalah budak. Membaca putaran zaman yang sangat menyentuh hati, suatu hari keluarga Compassion bercerita tentang pengalaman ketuhanan pada publik. Hanya agar publik memiliki pegangan keyakinan di tengah putaran zaman yang sangat gelap.

Tanpa sopan santun sedikit pun, ada murid Krishnamurti yang menulis komentar keras dan pedas: “Setiap penjelasan tentang Tuhan, bahkan dari tokoh yang paling karismatik sekali pun, akan membutakan banyak orang dari pengalaman langsung akan Tuhan”. Tidak sepenuhnya salah tentu saja. Guruji juga mengagumi Krishnamurti di tahun 1980-an. Mengendapkan dalam-dalam makna maha karya Krishnamurti yang berjudul Freedom from the known.

Setelah melayani jutaan orang di dunia meditasi, puluhan ribu bahkan pernah berjumpa langsung di sesi meditasi, kami tidak pernah berjumpa pencari spiritual yang matang dan dewasa sebagaimana diasumsikan oleh Osho dan Krishnamurti. Osho dan Krishnasmurti benar, jika seseorang sudah matang dan dewasa, ia mesti keluar dari semua sangkar pengertian. Termasuk sangkar pengertian tentang Tuhan.

Sedihnya, tidak ditemukan pencari Cahaya yang seperti burung elang, yang sudah siap terbang bebas dan lepas sendiri. Sebagian murid meditasi di keluarga Compassion datang dari negeri maju. Salah satu sahabat dekat kami bahkan lulusan Universitas Harvard. Pengalaman tangan pertama di lapangan bercerita, kebanyakan pencari adalah burung-burung kecil yang masih memerlukan sangkar pelindung. Sebagian burung-burung kecil itu bahkan burung kecil yang terluka. Jika itu dilepas bebas, sungguh sangat berbahaya.

Jika Guru-Guru suci setingkat Buddha saja berkali-kali mau dibunuh oleh alam penggoda, apa yang terjadi dengan burung-burung kecil ini jika tumbuh tanpa sangkar sama sekali. Orang seperti Osho dan Krishnamurti benar ketika beropini, pengertian tentang Tuhan memang sangkar kecil. Namun sangkar kecil ini telah menyelamatkan banyak sekali jiwa. Yang sering lupa dihitung, jumlah manusia yang dibikin berbahaya oleh konsep Tuhan, jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah manusia yang diselamatkan karena penuh bhakti kepada Tuhan.

Tuhan sebagai kelembutan

Belajar dari pengalaman tangan pertama seperti inilah, kemudian keluarga spiritual Compassion terfokus pada belajar agar dibikin lembut oleh konsep Tuhan. Makanya nama keluarga kami Compassion (belas kasih). Banyak pemuja Tuhan belajar di sini. Pengertian semua sahabat tentang Tuhan sangat dihormati. Ada juga bule ateis yang belajar di sini. Ini juga dihormati. Semuanya dibekali pesan yang sama: “Belajar spiritual adalah belajar menjadi lembut di depan kehidupan. Termasuk lembut pada kekurangan diri dan ketidaksempurnaan orang lain”.

Sahabat-sahabat super dekat di keluarga Compassion sering disegarkan ingatannya, jangan pernah menggunakan ajaran suci untuk menyerang orang lain. Ajaran suci bisa berubah wajah menjadi ular berbisa. Jangan izinkan ajaran suci, atau pengalaman ketuhanan membuat ego dan kesombongan menaik. Ia rawan membuat perjalanan jiwa masuk jurang berbahaya. Pada saat yang sama, sadari sedalam-dalamnya, manusia memiliki kekuatan luar biasa untuk ikut menyejukkan alam yang sedang panas. Terutama melalui kelembutan

Melalui buku dan film terkemuka “Eat, pray, love”, sudah lama dunia menyebut Bali sebagai pulau cinta kasih. Dan ribuan tahun sebelum maha karya ini lahir, di Bali sudah ada praktik cinta kasih yang sangat dalam. Mahluk bawah yang seram menakutkan diberikan suguhan, dibikinkan rumah bernama penunggun karang. Orang tua dicintai jauh setelah beliau wafat. Bahkan dibikinkan tempat suci khusus bernama Pura Merajan. Di mana alam bercinta (bukit dipeluk samudera atau danau), di sana tetua mendirikan tempat suci. Semua ini sedang bertutur, cinta kasih dalam tindakan, itulah perjumpaan pribadi dengan Tuhan sebagai kelembutan. Jika Prof. Murakami menyebut senyuman sebagai saklar lampu di dalam, di keluarga Compassion senyuman adalah perwujudan Tuhan sebagai kelembutan.

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo by BYUNG HO YOO on Unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.