Kesembuhan

Dibikin bercahaya oleh virus corona

Ditulis oleh Gede Prama

“In every difficulty lies opportunity”, itu bunyi sebuah pesan tua. Selalu ada kesempatan di balik semua kesulitan. Setidaknya kesempatan untuk bertumbuh menuju kedewasaan. Dengan kata lain, sudah cukup membicarakan sisi-sisi menakutkan dari virus corona. Mari membicarakan sisi-sisi mendewasakan dari virus corona.

Sejalan dengan semakin menurunnya aktivitas di luar rumah, belajar untuk saling memperindah di dalam rumah. Bikin rumah sebagai rumah yang bikin betah. Ajak anggota keluarga untuk tertawa renyah. Sebagaimana telah dipublikasikan luas, tawa dan canda ikut membuat kekebalan tubuh jadi lebih baik.

Sulit mengingkari, di balik ancaman virus corona ada kegagalan manusia untuk terhubung dengan alam sekitar. Untuk itu, gunakan momentum emas ini untuk mengajak anggota keluarga lebih banyak mengkonsumsi nutrisi yang langsung dari alam sekitar. Lebih bagus lagi jika bisa menanam sendiri di pekarangan rumah sayur dan buah kesukaan Anda.

Lebih dalam dari keterhubungan fisik melalui sayur dan buah, penting membuat diri Anda dan keluarga terhubung secara psikologi dan spiritual. Menjaga keseimbangan antara keinginan dan kemampuan adalah nutrisi psikologi yang mujarab. Ia mengurangi stres, sekaligus mempermudah terbukanya pintu kebahagiaan.

Keterhubungan spiritual adalah yang terdalam. Selalu lihat alam sekitar dengan mata yang penuh rasa syukur. Saat sepi sendiri, bikin daftar panjang hal-hal yang layak disyukuri. Dari badan yang sehat, keluarga yang selamat, sampai keungan yang berkecukupan. Selalu simpan di dalam hati, rasa syukur mendalam adalah perjumpaan pribadi dengan Tuhan sebagai cinta kasih.

Ditemani Tuhan sebagai cinta kasih, di mana-mana para sahabat akan terlindungi. Dalam bahasa penelitian di perguruan tinggi, virus bervibrasi di tingkat energi di bawah 100. Sedangkan cinta kasih bervibrasi di tingkat energi 550. Bunda Teresa adalah contoh yang sering disebut. Puluhan tahun melayani orang kusta, tapi beliau sama sekali tidak pernah terkena kusta.

Selamat berdoa di malam bulan Purnama.

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo by malith dk on Unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.