Kesembuhan

Dibikin bercahaya oleh virus corona

Ditulis oleh Gede Prama

Seperti ada tangan rahasia yang memberi komando, banyak negara dan lembaga universitas terkemuka dunia yang mengambil langkah yang sama agar selamat dari virus corona, yakni social distancing. Berjarak dari kerumunan manusia. Baik yang jumlahnya banyak maupun sedang. Dan ini bukan ancaman pertumbuhan jiwa, tapi peluang bagi pertumbuhan jiwa.

Dulunya, ini hanya hasil penglihatan pribadi yang subyektif. Dan tidak berani menceritakannya ke publik. Terutama karena sangat sedikit yang bisa melihatnya. Disamping juga saat itu belum waktunya. Sekarang, ketika dunia sangat takut oleh virus corona, serta banyak pihak berkompeten menjauh dari kerumunan, dengan meminta maaf secara sangat mendalam pada Guru rahasia (maaf, maaf, maaf) terpaksa rahasia ini dibuka.

Setelah membaca pengalaman Cahaya sejumlah Guru, ternyata di dunia spiritual mendalam ada segelintir sahabat yang sampai pada kesimpulan yang sama: “Di zaman ini, Cahaya cenderung menjauh dari tempat-tempat yang berpemukiman sangat padat”. Sekali lagi, ini pengalaman rahasia. Dulunya, sifatnya hanya pribadi. Belakangan, ada orang lain yang mengalami pengalaman yang sama.

Terinspirasi dari sini, gunakan momentum virus corona untuk berjarak secukupnya dengan semua bentuk keramaian. Kemudian latih diri untuk menemukan Cahaya dalam keheningan kesendirian. Berikut beberapa bahan renungan.

  1. Lupakan keinginan berlebihan agar selalu terlihat “lebih” dibandingkan orang lain
  2. Ia hanya akan membuat Anda merasa terasing dalam tubuh sendiri
  3. Untuk kemudian melahirkan penderitaan yang tidak ada ujungnya
  4. Kurangi terlalu banyak menoleh ke luar, perbanyak menemukan Cahaya di dalam
  5. Karena Cahaya adalah hasil sintesis negatif-positif, belajar tidak serakah hanya mau yang positif
  6. Di jalan meditasi, sintesis negatif-positif dilakukan dengan cara menyaksikan
  7. Bukan negatif, bukan positif, melainkan tersenyum indah di tengah
  8. Tidak saja saat meditasi langkah ini disarankan, tapi juga dalam keseharian
  9. Jauhkan diri dari hal-hal ekstrim seperti terlalu senang atau terlalu sedih
  10. Selalu bimbing diri agar tersenyum indah di tengah
  11. Puncak gunung di dalam ditemukan ketika rasa berkecukupan melahirkan rasa syukur mendalam

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo courtesy: Unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.