Kesembuhan

Cahaya indah dari Bali

Ditulis oleh Gede Prama

Dalam perjalanan menuju Canbera, mantan presiden AS George W. Bush yang saat itu masih jadi presiden AS pernah mampir di Bali, kemudian bercerita dan bertanya ke salah satu tokoh di Bali ketika itu seperti ini: “Suatu malam satelit NASA mengelilingi Nusantara, semua pulau malam itu gelap. Tapi Bali telihat bercahaya, Cahaya apa itu?”.

Tatkala dunia dibikin demikian gelap oleh virus corona, inilah saatnya Cahaya indah dari Bali dibagikan pada dunia. Tidak untuk gagah-gagahan, tapi untuk mengurangi beban penderitaan di alam. Telah disimpan di lontar-lontar tua, di Bali jiwa manusia dijelaskan melalui kalimat ini: “Dewa ya kala ya”. Ada sisi terang, ada sisi gelap dalam diri manusia.

Prinsip ini tidak saja dihafalkan, tapi juga dilaksanakan. Itu sebabnya alam bawah yang gelap tidak saja dibikinkan suguhan, tapi juga dibikinkan rumah bernama penunggun karang. Itu bukan cerita memuja setan. Sekali lagi bukan. Tapi cerita tentang dekapan indah pada kekuatan gelap terutama yang ada di dalam.

Sebagaimana telah dikenal luas, cahaya tidak lahir dengan membuang yang negatif, tapi dengan mensintesiskan negatif-positif. Dalam bahasa tetua Bali: “Rwa bhinedane tampi”. Agar para sahabat dan umat manusia sehat selamat, sebaiknya dari sini memulai perjalanan melindungi diri dari virus corona. Dualitas seperti sakit-sehat, buruk-baik tidak dipertentangkan, tapi disintesakan.

Sebagai langkah praktis dalam keseharian, berikan diri Anda dan lingkungan sekitar hadiah spiritual bernama pengertian. Persisnya pengertian tentang ke-u-Tuhan. Fisikawan nuklir David Bohm dalam maha karyanya “Health and The Implicate Order” jelas-jelas menyimpulkan, health (kesehatan) berasal dari whole (ke-u-Tuhan).

Dengan kata lain, agar sehat selamat selalu bekali diri dengan wawasan ke-u-Tuhan. Di mana ada kelahiran, di sana ada kematian. Agar manusia sadar akan pentingnya kesehatan, alam melahirkan virus sebagai bel suci (Genta) yang mengingatkan. Dibekali wawasan ke-u-Tuhan seperti ini, ketakutan tidak lagi demikian mencengkram.

Pada saat yang sama, manusia mulai menyirami benih-benih kedamaian di dalam. Meminjam dari local genius-nya pulau Bali, tidak saja kekuatan gelap di luar layak didekap dalam sebuah ke-u-Tuhan, kekuatan gelap di dalam juga sebaiknya didekap dalam sebuah ke-u-Tuhan. Dari sinilah Cahaya indah dari Bali akan menerangi dunia.

Penulis: Guruji Gede Prama
Photo by Johan Mouchet on Unsplash

Tentang Penulis

Gede Prama

Gede Prama memulai perjalanan spiritual dengan berdialog bersama Guru simbolik di sebuah desa di Bali Utara. Ini kemudian diperkaya dengan sekolah ke luar negeri, perjumpaan dengan Guru spiritual dunia seperti YM Dalai Lama, YA Thich Nhat Hanh serta Profesor Karen Armstrong, serta olah meditasi yang panjang.

Kendati pernah memimpin perusahaan dengan ribuan karyawan, terbang ke beberapa negara untuk tujuan mengajar, tapi semua itu ditinggalkan karena dipanggil oleh bom Bali di tahun 2002. Sejak beberapa tahun lalu beliau bahkan tidak pernah meninggalkan Bali, sekali-sekali saja keluar dari keheningan hutan untuk mengajar di tempat-tempat suci di Bali.

Silahkan Berkomentar

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.